New York – Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengeluarkan aturan baru yang akan memaksa kapal laut untuk menggunakan bahan bakar laut yang lebih bersih. Mulai 1 Januari 2020, kapal harus beralih ke bahan bakar tanker yang tidak mencemari lingkungan atau dilengkapi dengan peralatan untuk mengurangi emisi, di bawah peraturan yang baru.

Aturan baru ini berpotensi memberikan pukulan ekstra bagi BUMN tambang Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA) yang sedang krisis. PDVSA selama ini dikenal sebagai pengekspor minyak bersulfur tinggi.

Aturan itu diperkirakan akan melemahkan permintaan untuk bahan bakar minyak sisa dengan sulfur tinggi yang diproduksi oleh PDVSA. Sehingga mendorong harga lebih rendah. Sementara pada saat yang sama, biaya impor bahan bakar bersih naik, kata Mel Larson, konsultan di KBC Advanced Technologies Inc. dari Houston.

Karena kilang yang siap untuk memproduksi bahan bakar yang memenuhi IMO yang bergantung pada minyak mentah sulfur rendah, minyak mentah asam yang dihasilkan oleh Venezuela dan Meksiko dapat dijual dengan diskon lebih besar. Sementara itu, permintaan untuk sulingan ringan, termasuk solar, diperkirakan akan meningkat. Yang pada akhirnya akan berdampak pada ekonomi Venezuela, Meksiko, dan Ekuador, yang bergantung pada solar dan bensin impor.

“IMO 2020 memiliki potensi untuk melukai pertumbuhan PDB di sebagian besar ekonomi Amerika Latin, terutama yang mensubsidi harga bahan bakar,” kata Larson melalui email. “Karena biaya bahan bakar impor meningkat, subsidi bensin dan solar hanya akan berfungsi untuk memperluas beban hutang negara atau perusahaan.”

Kebanyakan penyuling di Amerika Latin belum berinvestasi dalam unit yang dapat menghilangkan residu belerang menjadi molekul yang lebih berharga. Kondisi itu menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan menjelang penerapan aturan. Kondisi yang diperkirakan akan mengurangi permintaan global untuk bahan bakar bunker belerang tinggi hingga serendah 1 juta barel per hari, dari 4 juta barel saat ini.

Dengan ukuran ini, Petroleos Mexicanos dari Meksiko dan PDVSA, masing-masing eksportir bahan bakar minyak terbesar dan terbesar kedua di Amerika Latin, adalah pihak yang paling dirugikan.

Petrobras Brazil, di sisi lain, siap untuk mengambil keuntungan dari pergeseran bahan bakar, menurut Guilherme Franca, manajer eksekutif komersialisasi. Petrobras sudah mengekspor bahan bakar yang memenuhi IMO dan sedang mengeksplorasi pembukaan kembali tangki penyimpanan bahan bakar minyak di Singapura untuk lebih memasok pasar bahan bakar bunker di Asia. (Bloomberg/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds