TAIPEI – Taiwan mengatakan pada 27 September hubungannya dengan Vatikan stabil, meskipun akan mengamati secara dekat apa yang digambarkan sebagai “penindasan” oleh Tiongkok menyusul kesepakatan penting antara Beijing dan Vatikan mengenai penunjukan uskup-uskup di daratan tersebut.

Vatikan telah menandatangani sebuah perjanjian yang memberinya kata yang telah lama diinginkan dalam pengangkatan para uskup di Tiongkok, yang memicu kekhawatiran di antara beberapa pejabat di Taiwan bahwa Vatikan dapat mengubah pengakuan diplomatik pada Beijing.
Holy See (Tahta Suci) adalah sekutu diplomatik terakhir di Eropa. Pulau Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut memiliki hubungan formal dengan 16 negara lain, banyak di antaranya adalah negara kecil yang kurang berkembang di Amerika Tengah dan Pasifik.

Taiwan, yang dianggap Beijing sebagai wilayah yang suatu hari akan bersatu kembali dengan daratan, telah secara rutin menuduh Tiongkok menggunakan diplomasi dolar dan gertakan untuk memikat sekutu-sekutunya, tuduhan yang disangkal Beijing.

“Kami akan mengawasi secara dekat penindasan dan perencanaan-perencanaan dari Tiongkok,” kata jurubicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Andrew Lee kepada wartawan pada 27 September sebagai tanggapan atas komentar dari Beijing yang ingin memperdalam hubungan dengan Vatikan.

“Hubungan Taiwan-Vatikan stabil,” katanya, menambahkan bahwa Taiwan akan secara aktif membantu rencana Vatikan untuk merombak kedutaannya di Taipei, menggunakan hal itu sebagai contoh hubungan yang stabil.

Para kritikus telah mencap kesepakatan Vatikan dengan Tiongkok tersebut sebagai tindakan menjual pada pemerintah Komunis, bersamaan Kardinal Jospeh Zen, ulama Katolik paling senior di tanah Tiongkok, menggambarkannya sebagai “pengkhianatan yang luar biasa.”

“Mereka memberikan kawanan ke mulut para serigala,” kata Zen berusia 86 tahun kepada Reuters pekan lalu.

Sejak perjanjian tersebut ditandatangani pada 22 September, Vatikan belum menyebut Taiwan.

Pada 26 September, Paus Fransiskus mendesak para pemimpin Tiongkok untuk bergerak maju dengan “kepercayaan, keteguhan dan berpandangan jauh ke depan” dan menyerukan umat Katolik Tiongkok untuk tidak surut dalam menawarkan “sebuah kata kritik” bila diperlukan untuk membela martabat manusia. (ran)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds