Tiongkok tampaknya melakukan perubahan ke sikap yang lebih keras sehubungan dengan perang perdagangan AS-Tiongkok.

Ketika pemimpin Tiongkok Xi Jinping sedang melakukan inspeksi wisata pabrik di kota timur laut Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, pada 26 September, dia mengisyaratkan bahwa perang dagang telah memaksa negara tersebut untuk mencari jalan menuju kemandirian membuat teknologi dengan nilai ekonomi lebih tinggi, media negara melaporkan.

“Secara internasional, menjadi semakin sulit [bagi Tiongkok] untuk mendapatkan teknologi canggih, teknologi kunci. Unilateralisme dan proteksionisme perdagangan sedang meningkat, memaksa kita untuk mengadopsi pendekatan mandiri. Ini bukan hal yang buruk,” kata Xi, menurut kantor berita Xinhua. “Tiongkok akhirnya harus bergantung pada dirinya sendiri.”

Dalam perselisihan perdagangan AS-Tiongkok, pemerintahan Trump telah menantang duel Tiongkok karena praktik pencurian kekayaan intelektualnya yang berkembang luas, sebagai bagian dari ambisi rezim Beijing untuk keluar dari manufaktur produk murah untuk mengubah negara tersebut menjadi pusat manufaktur berteknologi tinggi yang membuat produk canggih dari robot hingga drone.

Tertinggal dalam mengembangkan teknologi utama seperti pembuatan semikonduktor, chip yang menggerakkan setiap perangkat elektronik secara praktis, Beijing telah beralih ke praktik-praktik yang tidak adil seperti mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi asing atau menekan perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok untuk mentransfer teknologi sebagai pertukaran jalan memasuki pasar. Presiden Donald Trump mengatakan tariff-tarif AS atas impor Tiongkok merupakan tindakan hukuman terhadap perilaku semacam itu.

Xi sebelumnya menekankan pentingnya bagi Tiongkok untuk mengembangkan inovasi teknologinya sendiri, terutama segera setelah raksasa telekomunikasi Tiongkok ZTE dilarang membeli komponen teknologi dari para pemasok AS awal tahun ini. Akibatnya, operasi ZTE terhenti.

Namun kata-kata Xi kali ini mewakili sikap yang lebih keras, menunjukkan bahwa dia tidak akan membiarkan sengketa perdagangan menghalangi ambisi-ambisi Tiongkok.

“Mereka [Tiongkok] tidak akan menyerah pada tekanan Amerika Serikat, dan bertekad untuk memenuhi tantangan secara langsung,” Hong Kong Economic Times melaporkan pada 26 September.

Pada hari yang sama dengan kunjungan Xi, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok mengumumkan bahwa mereka akan terus memperluas ekonomi digitalnya untuk menciptakan pekerjaan baru di sektor-sektor seperti data yang besar, komputasi awan, dan kecerdasan buatan. Perencana negara tersebut mengatakan komitmen adalah bagian dari rencana yang lebih besar untuk merestrukturisasi ekonomi.

Beijing Daily yang dikelola negara juga melaporkan hari itu bahwa pemerintah pusat akan melarang penambahan kapasitas baru di sector-sektor manufaktur produk-produk murah seperti tekstil, perabotan, makanan, dan bahan kimia, yang menegaskan bahwa Beijing berencana untuk melanjutkan aspirasi teknologi tingginya.

LAPORAN RESMI

Awal pekan ini, pada 24 September, salah satu lembaga propaganda Tiongkok, Kantor Informasi Dewan Negara, merilis sebuah laporan resmi berjudul, “Fakta-fakta Mengenai Sengketa Perdagangan Tiongkok – AS dan posisi Tiongkok.”

Dokumen 36.000 kata tersebut, yang dicetak secara luas oleh media pemerintah Tiongkok, telah mengutip sebagian besar laporan-laporan media Barat dan lembaga riset, yang menggabungkan penelitian Barat untuk mendukung sikap Beijing bahwa perang dagang merusak perdagangan global dan kepentingan Amerika Serikat sendiri. Satu bab berjudul “Perilaku Bullyisme perdagangan pemerintah AS.”

Di antara 88 catatan kaki di dalam laporan tersebut, Bloomberg, New York Times, Huffington Post, dan The Atlantic muncul di samping laporan oleh Dewan Bisnis AS-Tiongkok dan Carnegie Endowment for International Peace.

Dalam satu bagian, laporan tersebut mengutip wawancara CNBC bulan Juni dengan mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers untuk menegaskan bahwa klaim-klaim pencurian kekayaan intelektual Tiongkok adalah “fitnah.”

Laporan resmi ini menggunakan penelitian Barat untuk melegitimasi argument-argumen Beijing, sebuah taktik yang sebelumnya tak terlihat.

“Mengutip hasil-hasil dan temuan-temuan dari para analis luar negeri dengan sendirinya meningkatkan kredibilitas, bagaimanapun penggunaan yang bersifat memilih dari temuan-temuan penelitian yang menguntungkan akan memungkinkan penulis untuk mengarahkan kesimpulan menyeluruh untuk sepenggal arah yang diinginkan,” Louis Kuijs, seorang peneliti di perusahaan analis Oxford Economics, mengatakan kepada South China Morning Post dalam laporan 27 September. (ran)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds