Sydney – Polisi Federal Australia melakukan tiga penangkapan dan menyita 496 kilogram MDMA dari sebuah kontainer pengiriman internasional di Sydney pada 6 Oktober 2018 lalu. Total narkoba yang disita senilai sekitar 871 miliar rupiah.

Operasi penggerebekan dimulai setelah adanya kedatangan kapal kontainer dari Turki di pelabuhan Port Botany pada 28 September 2018. Petugas kepolisian bersama Angkatan Perbatasan Australia (ABF) menemukan paket MDMA tersembunyi, yang juga dikenal sebagai ekstasi, di dalam empat mesin pengiris industri selama penyisiran.

Penggeledahan dari salah satu mesin menemukan 60 paket dari substansi butiran coklat. Masing-masing paket memiliki berat sekitar dua kilogram. Pengujian yang dilakukan oleh ABF menyatakan bahwa produk yang disita positif mengandung MDMA.

Sebanyak 248 paket yang beratnya sekitar 496 kilogram ditemukan di empat mesin berbeda.

Petugas Mengikuti Paket Menuju Alamat Pengiriman
Setelah menemukan ekstasi itu, pengiriman itu diizinkan untuk diteruskan menuju alamat yang dituju ke Auburn, di bagian timur negara bagian New South Wales. Namun, petugas ABF mengawasi proses pengiriman.

Seminggu kemudian pada 6 Oktober, AFP dan petugas ABF mengeksekusi surat perintah penggeledahan di sebuah gudang di pinggiran kota Clyde yang berdekatan. Mereka menangkap seorang pria berusia 27 tahun, menyita teleponnya, dan sejumlah kecil apa yang tampak seperti kokain.

Seorang pria berusia 24 dan 29 tahun ditangkap setelah AFP mengeksekusi surat perintah penggeledahan lain di gudang kedua di kota Clyde. Penangkapan lainnya dilakukan di pinggiran Sydney, Guildford, Auburn, dan Elizabeth Hills, pada 7 Oktober 2018.

Mereka yang ditangkap, menghadapi persidangan pada 7 Oktober 2018. Mereka selanjutnya didakwa dengan sejumlah tuduhan, terkait dengan impor dan kepemilikan sejumlah obat komersial.

Superitenden Detektif AFP, Kirsty Schofield mengatakan bahwa jumlah MDMA yang disita bisa digunakan untuk membuat lebih dari 1,7 juta pil ekstasi, nilai ‘jual jalanan’ lebih dari 57 juta dolar AS (sekitar 871 miliar rupiah).

“Penggerebekan seperti ini tidak mengatasi masalah permintaan dan mengapa orang mau mengambil risiko hidup mereka dengan mengambil obat tanpa pengetahuan yang akurat tentang apa yang dikandungnya,” kata Superintenden Detektif AFP, Kirsty Schofield. “Tapi menghentikan hampir setengah ton beredar, menjadi salah satu cara untuk mengurangi bahaya obat-obatan ini terhadap komunitas kita.”

Ratusan Kilogram Kokain Disita di Sydney
Tidak lama setelah pengungkapan itu, sebanyak 500 kilogram kokain juga disita dari kapal pesiar di Kepulauan Soloman pada 27 September 2018, ABC melaporkan.

Pengadilan Pusat Sydney kemudian mendakwa seorang pria berusia 41 tahun, Wahroonga, terlibat dengan kejahatan konspirasi untuk mengimpor sejumlah obat terlarang dan berurusan dengan uang senilai lebih dari 50.000 dolar AS.

Seorang pria lainnya, Bonnyrigg Heights, 39 tahun juga didakwa pada hari yang sama karena diduga terlibat dengan transaksi (pencucian) keuangan.

Narkoba itu diekspor dari Amerika Selatan ke Turki, dengan rencana untuk mengimpornya kembali ke Australia. Menurut AFP, kokain secara profesional disembunyikan di dalam kapal pesiar.

Petugas juga menuntut Wahroonga, Bonnyrigg Heights, Dolls Point, dan Caringbah dalam kasus kepemilikan obat bius ilegal.

Komandan ABF, Garry Low mengatakan keberhasilan penggrebekan narkoba pada 6 Oktober 2018 adalah bukti bahwa para petugas sangat terampil dan mampu menggunakan teknologi canggih dalam menjalankan tugas mereka.

“Setiap hari petugas kami berangkat bekerja untuk melindungi Australia dari zat-zat berbahaya ini, dan kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa kerja keras dan dedikasi mereka terbayarkan,” kata Low.

“Petugas kami memiliki teknologi, keterampilan, dan komitmen untuk menemukan obat-obatan ini dan menghentikan mereka memasuki negara ini, terlepas dari bagaimana para kriminal berusaha menyembunyikannya.”

“Ini adalah hasil yang signifikan untuk keselamatan publik dan kemenangan bagi orang-orang yang hidupnya telah hancur berantakan oleh obat-obatan ini.” (The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds