Erabaru.net.  Malaysia membatalkan proyek Sabuk Ekonomi Jalur Sutra atau One Belt One Road (OBOR) di Malaysia. Pembatalan itu disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad saat konferensi pers yang diadakan pada Selasa, 21 Agustus 2018. Pembatalan proyek dengan Tiongkok senilai USD. 22 miliar itu, termasuk pembangunan jalur kereta api berkecepatan tinggi.

Sehari sebelumnya, pada Senin pada 20 Agustus 2018, Mahathir bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang di Beijing. Saat itu Mahathir mengatakan, “Kami tidak ingin memunculkan bentuk kolonialisme baru hanya karena negara-negara miskin tidak dapat bersaing dengan negara-negara kaya”

Hal yang mengejutkan dunia internasional adalah kunjungan Mahathir selama 5 hari di Beijing itu. Kunjungan yang krusial karena khusus untuk menyampaikan penolakan Malaysia. Tentu saja itu membuat PKT (Partai Komunis Tiongkok) risih, meski demikian PKT terpaksa harus meresponnya dengan perasaan tenang.

Pembatalan itu berarti proyek OBOR PKT dinilai tidak memberikan keuntungan bagi Malaysia. Praktis dana puluhan juta dolar yang telah diinvestasikan pada tahap sebelumnya menjadi sia-sia. Malaysia rugi.

Kerugian yang dialami Malaysia itu seperti dicontohkan Lim Guan Eng, Menteri Keuangan Malaysia.

Kasus pelabuhan di Sri Lanka yang dibangun oleh BUMN Tiongkok tidak memberikan banyak keuntungan bisnis bagi Sri Lanka. Justru menambah utang Sri Lanka makin besar. Akibatnya Sri Lanka terpaksa menyerahkan hak pengelolaan pelabuhan dan tanah di sekitarnya untuk digunakan PKT selama 99 tahun.

Jelas Malaysia tidak mau kasus kerugian Sri Langka itu menimpa Malaysia.

Meskipun luas negara Malaysia tidak besar namun Malaysia memiliki posisi yang sangat strategis dalam geopolitik dan selalu menjadi tempat yang ingin dikuasai oleh kerajaan.

 

Dalam proyek Sabuk Ekonomi Jalur Sutra PKT pun, Malaysia telah menempatkan diri sebagai salah satu jalur perdagangan penting di Asia. Oleh karena itu, PKT menganggap Malaysia sebagai negara teratas di Jalan Sutra Maritim Abad 21 dan merupakan lahan yang patut ditaburi uang demi kepentingannya.

Mahathir baru saja memegang tampuk kekuasaan selama 100 hari lebih. Dia menemukan dalam kontrak konstruksi dengan BUMN Tiongkok yang bernilai besar, terdapat sejumlah miliaran dolar yang digunakan untuk membayar kembali utang yang terkait dengan Dana Investasi Nasional Malaysia (1MDB).

Dana itu adalah inti dari skandal korupsi yang menyebabkan lengsernya mantan Perdana Menteri Najib Razak. Mahathir mengkritik perjanjian itulah yang dijadikan tameng oleh Najib untuk melakukan korupsi.

Sejumlah dokumen Mahathir pernah mengatakan kepada media bahwa bukti menunjukkan kalau proyek East Coast Railway Link bisa dibangun sendiri oleh perusahaan Malaysia, dan biayanya akan berkurang setengah daripada biaya kontraktor PKT.

Itu bisa terjadi karena proses tender tidak terbuka, dan perusahaan BUMN Tiongkok mendapatkan proyek konstruksi tersebut dengan harga USD. 13,4 miliar. Namun, Lin Guan Eng menduga biaya pembangunan Jalur KA tersebut mendekati USD. 20 miliar. Mahathir menilai, sangat mungkin dana telah dicuri.

Mahathir menyebutkan bahwa jalur KA berkecepatan tinggi menghemat waktu, tetapi jarak antara Kuala Lumpur – Kota Bharu hanya sekitar 230 kilometer. Menurut China Railway Corporation bahwa kecepatan rel kecepatan tinggi Tiongkok adalah 300 kilometer per jam, jadi berapa banyak waktu yang dapat dihemat dari jarak itu?

Jika hanya 30 menit waktu yang dihemat, maka menghabiskan begitu banyak uang untuk proyek itu jelas tidak layak. itu adalah sebuah perencanaan yang tolol.

Pernyataan Mahathir tersebut sama saja dengan tamparan yang dilayangkan ke wajah PKT. Malaysia yang dahulunya pernah berada dalam posisi memimpin investasi Tiongkok ke negaranya, kini kembali berada dalam posisi memimpin penolakan investasi Tiongkok di negaranya.

Ini adalah fenomena baru. The New York Times menyebutkan, banyak negara khawatir terhadap proyek OBOR yang akan membengkakkan utang negara. Itu akibat membangun proyek-proyek yang tidak layak dan tidak perlu bagi negara bersangkutan, namun justru memiliki nilai strategis bagi PKT, atau hanya untuk mendukung para pemimpin bertangan besi yang pro-Tiongkok.

Sementara Hongkong Economic Times menyebutkan bahwa tindakan Malaysia mungkin dapat dicontoh negara lain. Menjadi peringatan buat negara lain untuk lebih berhati-hati dengan proyek-proyek yang ditawarkan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra PKT.

Selama 5 hari berada di Beijing, Mahathir dan rombongannya telah mendapat perjamuan yang istimewa dari otoritas Beijing, mungkin dengan maksud agar Mahathir ‘membatalkan niat’. Namun rupanya Mahathir bersikeras minta ‘retur’, bahkan ‘datang untuk minta retur’ membuat otoritas Beijing merasa risih.

Hingga kini Tiongkok tidak memberikan tanggapan dengan kata-kata keras, dan masih menunjukkan rasa tenang dan merendah. Ini sangat tidak biasa, PKT yang selama ini sering menampakkan sifat agresif dan tidak beralasan. Entah mengapa jadi begini ?

Semua orang tahu bahwa perang dagang dengan AS sedang berkobar. Salah satu alasan AS menjatuhkan sanksi terhadap PKT adalah perdagangan tidak adil. Jika saat ini PKT menunjukkan sikapnya yang keras kepada Malaysia, maka PKT akan menerima lebih banyak tuduhan dari dunia. PKT khawatir itu akan menjadi alasan bagi AS untuk menjatuhkan sanksi lebih berat.

Sebelumnya, media melaporkan bahwa Presiden Trump secara pribadi pernah mengatakan bahwa inisiatif OBOR mengganggu perdagangan global dan mengandung sifat ofensif. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga mengkritik OBOR sebagai kerugian terhadap kebebasan dan keterbukaan bagi Asia, dan investasi besar telah menyebabkan banyak negara menanggung beban utang.

Selain itu, Trump menerapkan strategi Indo-Pasifik setelah menduduki kursi presiden, dan membuat masalah Laut Tiongkok Selatan menjadi lebih rumit. Malaysia adalah negara utama ASEAN, secara geografis dekat dengan Selat Malaka.

Jika PKT karena masalah investasi di proyek OBOR berkonfrontasi dengan Malaysia, itu pasti akan mengurangi kondisi menguntungkan yang dimiliki PKT dalam masalah Laut Tiongkok Selatan. Itu yang tidak mereka inginkan.

Hongkong Economic Times percaya bahwa dalam sudut pandang PKT kepentingan strategis Tiongkok – Malaysia lebih besar daripada kepentingan ekonomi langsung. Demi persaingan dengan AS, PKT terpaksa tetap tenang.

Xia Yeliang, seorang ekonom independen dari Amerika Serikat dan mantan profesor di Universitas Peking mengatakan, Mahathir adalah politikus yang sangat senior. Paham dengan tindak tanduk PKT.

OBOR tampaknya diciptakan sebagai penerapan hegemonisme ekonomi dari PKT, menciptakan rasa tidak aman bagi negara-negara kecil. Itu jelas akan memicu kekhawatiran jangka panjang. Jadi mereka lebih cenderung pada nilai-nilai universal yang dianut Barat, cenderung pada pemikiran Amerika Serikat. (*)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds