Oleh : Iswahyudi

Jumat 28 September 2018 adalah Jumat kelabu dan penuh tragedi bagi bangsa Indonesia. Setelah 5 Agustus 2018 Gempa mengguncang lombok Nusa Tenggara Barat, kini Gempa 7,4 skala richter mengguncang Donggala – Palu Sulawesi Tengah disusul terjangan Tsunami 3- 5 meter menyapu bersih siapa saja dan apa saja di pantai sekitar teluk Palu.

Sebenarnya bukan kali pertama wilayah Indonesia diterjang Gempa dan Tsunami. Masih segar di ingatan rakyat negeri ini, Tsunami dahsyat  menerjang  Aceh 26 Desember 2004 yang merenggut seperempat juta orang di kawasan Asia Tenggara.

Dan, sudah banyak disadari bahwa negeri Indonesia adalah negeri yang terletak di cincin api pasifik yang sangat potensial dilanda gempa dan Tsunami dari waktu ke waktu.

Hanya saja,  kapan, di mana dan seberapa besar gempa akan melanda suatu tempat menjadi misteri para ilmuwan. Belum ada teknologi peramalan yang bisa memprediksikannya secara presisi.

Gempa dan Tsunami yang terjadi di Palu kali ini juga memakan korban nyawa yang tidak sedikit mencapai angka kurang lebih 2,073 jiwa per 11 Oktober 2018 dan diperkirakan  BNPB akan terus bertambah, ribuan orang masih dinyatakan hilang serta kerugian materi ditaksir mencapai lebih Rp 10 triliun.

Kejadian gempa ini juga menghadirkan istilah baru di kamus bencana geologi yaitu Likuifaksi, di mana tanah pemukiman yang tadinya keras, karena guncangan gempa yang sangat keras, tiba-tiba menjadi hilang ketegangannya dan berubah menjadi lumpur. Akibatnya bangunan dan pepohonan di atasnya amblas ditelan bumi.

Proses likuifaksi itu bisa dilihat dengan gamblang pada video amatir yang beredar di media di mana rumah, pepohonan bahkan tower seluler seolah berjalan dan beberapa saat kemudian ditelan oleh bumi. Sehingga secara real time menggambarkan bagaimana sebuah peradaban itu hilang ditelan bumi.

Di desa Petobo dan Balaroa kurang lebih ratusan rumah ditelan bumi beserta ribuan penghuninya dan menyisakan sekitar ratusan orang yang selamat. Mereka menjadi saksi hidup bagaimana ganasnya efek likuifaksi menelan siapa saja dan apa saja. Petobo dan Balaroa sebelum gempa adalah sebuah kompleks hunian di kota Palu yang padat penduduknya.

Kini setelah kejadiaan naas itu tempat tersebut serasa diriset kembali dan semuanya kembali ke nol. Semua hasil kerja keras, peradaban, harapan, dan orang-orang yang tersayang lenyap dalam sesaat tanpa sempat memberikan wasiat atau sebuah lambaian tangan tanda perpisahan.

Zona nyaman yang dibangun bertahun-tahun itu lenyap dalam benaman monster baru bencana geologi yaitu likuifaksi. Sebuah nama yang keren tapi begitu membunuh,  sebagaimana Tsunami yang serasa feminin tapi menggulung dan menghempas segalanya, kembali ke Nol Peradaban.

Mamaknai Bencana

Berulangkali bangsa ini selalu ditimpa bencana dari Gunung Meletus, Gempa bumi, banjir, tanah longsor, badai, Semburan Lumpur, kebakaran hutan. Pelajaran terpenting dari segala bencana ini adalah  bagaimana memaknai bencana ini agar tidak jatuh pada lubang yang sama.

Pasca Tsunami Aceh 2004 yang mematikan, bangsa ini sebenarnya sudah mulai sadar akan bencana, banyak infrastruktur dan prosedur peringatan dini bencana sudah mulai dibangun. Seperti sistem peringatan dini Tsunami.

Namun seiring berjalannya waktu, amnesia mulai terjadi, banyak infrastruktur peringatan dini rusak akibat dicuri atau rusak karena minim perawatan, sehingga ketika kejadian terjadi korban ribuan nyawa tidak bisa dihindari. Dan nasi sudah menjadi bubur. Kerja keras bertahun-tahun musnah sia-sia. Kembali ke nol peradaban.

Sementara itu kurikulum sadar bencana belum benar-benar menjadi karakter dari peserta didik, masih berkutat pada kognisi belum menjadi habit perilaku sadar bencana. Dan lagi dalam proses pengambilan keputusan strategis seperti tata ruang kota tidak memprioritaskan faktor potensi bencana pada suatu daerah.

Padahal BMKG mencatat bahwa sejak tahun 1900-an telah terjadi 20 kali Tsunami di sepanjang Toli-Toli hingga Mamuju. Gempa Tsunami ini umumnya terjadi karena ada aktivitas kegempaan pada sesar Palu-Koro yang membelah Pulau Sulawesi menjadi dua bagian. Laju pergerakan sesar mencapi 4 cm per tahun, empat kali lebih besar dari sesar Sumatera.

Ini berarti bahwa bangsa ini tidak belajar dari sejarah dan mempertimbangkan karakter bumi dalam pengambilan keputusan pembangunan seperti tata ruang kota. Palu mempunyai jembatan kuning yang ikonik, pada bencana kali ini jembatan itu telah menjadi kenangan. Mal dan Hotel Megah luluh lantak. Fasilitas Umum seperti jalan Trans Sulewesi rusak parah.

Di atas adalah pemaknaan dari segi teknis ilmiah kebencanaan. Yaitu selalu belajar dari kesalahan dan jangan sampai jatuh pada lubang yang sama. Yaitu selalu memahami karakter bumi dan alam di mana hidup.

Seberapa canggih teknologi manusia di hadapan kekuatan alam semisal gempa bumi, topan dan badai, tak ada jalan terbaik kecuali menghindarinya (risk aversion). Dalam kajian manajemen risiko, bencana alam masuk dalam jenis risiko yang tidak dapat ditanggung,  maka jalan terbaik adalah jangan dekat-dekat dengan sumber bencana. Biarkan alam melakukan aktivitasnya sesuai ritme alamiahnya sehingga mencapai keseimbangan baru.

Peristiwa bencana sebenarnya mempunyai multi dimensi pemaknaan, salah satu dimensi pemaknaannya adalah dimensi ketuhanan. Sebagai bangsa yang mengaku berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Pemaknaan dari sisi ini sangat penting. Kalau melulu terpaku pada pemaknaan ilmiah dan teknologi maka itu berarti menegasikan Tuhan dalam kehidupan.

Menganggap bencana tidak ada sangkut pautnya dengan kemurkaan Tuhan. Dan itu hanya kejadian yang acak dan kebetulan. Ini sama saja secara parsial sudah menjadi Ateis.

Sedangkan pada dokementasi kitab-kitab suci ketika suatu bangsa mengalami suatu petaka bencana diduga kuat pasti ada masalah kemerosotan moralitas pada manusia yang ada di dalamnya. Seperti kisah musnahnya Sodom dan Gomora karena perilaku seks menyimpangnya, banjir kaum nabi Nuh, dan lain-lain. Intinya segala kerusakan dan bencana pasti ada kaitannya dengan masalah moralitas.

Dan,  moralitas inilah sebagai benang penghubung dengan moralitas dari keteraturan alam semesta. Dan alam semesta adalah manifestasi dari kehendak dan kebijaksaan Sang Pencipta. Maka dari itu moralitas atau karakterlah benang penghubung antara Manusia, Alam dan Tuhan.

Selama tiga unsur itu selaras karakternya satu sama lain. Kemungkinan petaka bencana bisa dihindari. Menjadi bangsa yang tidak saja pintar dan cerdas tapi bangsa yang beruntung dan penuh berkah. Faktor keberuntungan dan keberkahan inilah dimana domain ketuhanan ini berada.

Pertanyaanya adalah begitu banyak orang pintar, cerdas dan cendekia apakah mereka juga termasuk orang yang bermoralitas dan berkarakter yang baik? Ini mungkin menjadi Pekerjaan Rumah setiap elemen bangsa dalam upaya instropeksi kebangsaan ( mencari ke dalam sebuah bangsa) agar keberkahan dan keberuntungan selalu menyertai bangsa ini.

Memang ada satu gejala di masyarakat dan para penulis yang memaknai bencana tidak ada sangkut pautnya dengan kemurkaan Tuhan dan hanya membahas dari segi ilmiah dan teknologi saja. Inilah yang penulis namakan Ateisme Parsial  dalam bencana.  

Tetapi dari gempa yang melanda Palu, dari video amatir yang tertangkap oleh warga yang mengalami bencana itu sendiri. Ketika kematian itu serasa begitu dekat tidak ada jalan lain kecuali mereka harus minta ampun dan menyebut nama Tuhan. Ini menunjukkan bahwa secara naluri bahwa manusia butuh kehadiran Tuhan dalam hidupnya sebagai sumber nilai dan karakter, bukan hanya sebagai pelindung ketakutan pada saat bencana dan kematian mendekat.

Celakanya, ketika bencana dan badai berlalu, Tuhan dijadikan prioritas terakhir. Ini mungkin salah satu sebab terkadang ketika bencana itu datang, menyebut nama Tuhan pun, Sang Pencipta tak lagi menghiraukannya.

Dan lagi, patut disayangkan dari momen bencana kemarin adalah begitu bencana terjadi, dan bantuan belum datang,  penjarahan terjadi di mana-mana. Paling tidak kejadian ini bisa jadi sinyal bagaimana karakter bangsa ini. Dalam hal ini belajar pada bangsa Jepang sangat disarankan.

Sebenarnya banyak kearifan lokal warisan tradisi bangsa ini yang adiluhung bisa diterapkan untuk menahkodai bangsa ini mempunyai karakter agung menuju bangsa yang penuh keberuntungan dan berkah, seperti filosofi manunggaling kawula gusti (selarasnya karakter  hamba dan karakter Tuhan).

Namun filosofi ini sudah tergerus oleh ideologi moderen yang merusak, sehingga bangsa ini tercerabut dari karakter bawaan warisan tradisi leluhur. Sebenarnya filosofi tradisional ini tidak hanya ada pada kebudayaan nusantara saja, tradisi ortodoks semisal bangsa Tiongkok kuno juga dikenal istilah (Shen Shen He Yi; Aku-besar (Langit/alam semesta) dan aku-kecil (diri sendiri) menyatu, Jiwa dan raga menyatu).

Seluruh benda di atas bumi mengikuti hukum bumi, Bumi mengikuti hukum galaksi, Galaksi mengikuti hukum langit (Tao).  

Paling tidak dari peristiwa bencana yang bekali-kali ini ada hikmah yang bisa diambil. Bumi ini ibarat sebuah perahu besar yang dihuni oleh berbagai jenis ras manusia yang berbeda keyakinan, tradisi, dan kepentingan.

Salah satu bagian kelompok manusia saja merusak perahu ini, akan menenggelamkan seluruh ras manusia dalam petaka.

Selamat tinggal egoisme, selamat datang kepedulian. Salurkan kepedulian kita untuk saudara kita yang lagi berduka karena bencana, walaupun selembar selimutpun sangat berarti. Ingat kita hidup di perahu yang sama. Planet Biru ini. (ISW/WHS/asr)

 

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular

Ad will display in 09 seconds