Caracas – Jaksa Agung Venezuela mengulangi pernyataan pemerintah bahwa seorang politisi oposisi yang ditahan di penjara polisi tewas bunuh diri. Sedangkan pemerintah Amerika Serikat tetap mengutuk rezim otoriter, Presiden Nicolas Maduro, karena diduga terlibat dalam kematian yang mencurigakan itu.

Jaksa Agung Tarek William Saab tampil di televisi pemerintah dan mengatakan temuan awal mengesampingkan dugaan pembunuhan dalam kematian politisi Fernando Alban. Dia menunjukkan foto jendela yang terbuka di sebuah markas polisi, di mana Alban telah ditahan. Saab juga mengutip hasil otopsi yang tidak menemukan luka kekerasan, kecuali luka fatal akibat jatuh dari lantai 10 gedung.

“Semua bukti yang dikumpulkan sejauh ini mengungkapkan keadaan yang tidak mendukung bahwa Alban melakukan bunuh diri,” kata Saab. “Yakinlah bahwa kita akan sampai ke sumber penyelidikan dan menemukan kebenaran.”

Seorang pria berduka dan berdoa di atas peti aktivis oposisi Fernando Alban, yang diselimuti bendera Venezuela dalam upacara pemakaman di sebuah gereja di Caracas, Venezuela, pada 10 Oktober 2018. (Ariana Cubillos/AP/The Epoch Times)

Di Washington, sekretaris pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengeluarkan pernyataan yang mengutuk ‘keterlibatan rezim Maduro’ dalam kematian Alban. “Pemerintahan Donald Trump akan terus meningkatkan tekanan pada rezim Maduro dan orang terdekatnya sampai demokrasi dipulihkan di Venezuela,” ujar Sanders.

Sementara itu, para pendukung oposisi, turun ke jalan-jalan ibukota sambil menangis dan melambai-lambaikan bendera Venezuela. Aktivitas itu digelar sebagai bentuk protes pada pemerintah, sekaligus sebagai gerakan berkabung dan bergabung dengan prosesi pemakaman anggota dewan kota itu, di daerah Caracas.

“Kami menginginkan keadilan!” Para pelayat berteriak, kebanyakan dari mereka mengarahkan kemarahan mereka pada presiden sosialis yang otoriter, “Maduro adalah seorang pembunuh!”

Warga mengangkat poster bahwa dalam bahasa Spanyol yang bertuliskan, “Maduro Pembunuh,” saat mereka berjalan di samping ambulance yang membawa jenazah aktivis oposisi, Fernando Alban, dalam prosesi pemakamannya di Caracas, Venezuela, pada 10 Oktober 2018. (Ariana Cubillos/AP/The Epoch Times)

Alban, 56, ditangkap pada 5 Oktober 2018 di bandara internasional Caracas, ketika tiba dari New York. Dia pergi ke AS untuk membangkitkan opini dunia terhadap pemerintah sosialis Maduro.

Para pejabat mengatakan Alban sedang diselidiki atas dugaan peran-serta-nya dalam upaya pembunuhan terhadap Maduro. Dia dikatakan tiba-tiba berlari ke jendela terbuka pada lantai 10 gedung polisi, dan melemparkan dirinya ke bawah hingga jatuh dan tewas pada 8 Oktober 2018.

Para pemimpin oposisi, yang didukung oleh beberapa pemerintah asing, menuduh pemerintah Maduro melakukan penyiksaan dan membunuh Alban.

PBB telah mendesak para pejabat di Caracas untuk menggelar penyelidikan independen. Sehingga ada versi yang benar tentang kronologis kematian Alban.

AS juga menyerukan pembebasan segera atas semua tahanan politik Venezuela. Pihak oposisi mengklaim bahwa lebih dari 100 orang Venezuela yang menentang Maduro ditahan sebagai tahanan politik, sejak lebih dari empat tahun lalu. Pemerintah membantah mereka adalah tahanan politik.

Wakil Presiden AS, Mike Pence memposting ke Twitter kecaman pribadinya. Dia menilai kematian Alban adalah kesalahan pemerintahan Maduro.

“Rezim terus membunuh orang-orang tak berdosa dan mereka yang membela demokrasi,” kata Pence. “Kami berdiri bersama orang-orang Venezuela & menuntut pembebasan tahanan politik.”

Di Caracas, ratusan pelayat berjalan kaki membuntuti mobil jenazah yang membawa Alban ke lokasi pemakaman. Mereka termasuk orang tua Alban dan sekutu terkemuka dari gerakan oposisi Venezuela.

Sementara warga menanti di sepanjang jalan yang dilalui. Tampak pula para perempuan keluar dari rumah mereka untuk memberikan dukungan, ketika prosesi itu berlalu.

Di antara mereka adalah Maria Betancourt, yang tidak pernah bertemu Alban. Akan tetapi, dia merasa perlu untuk menunjukkan dukungan bagi pemimpin politik yang tewas itu.

“Dia mewakili, dalam perjuangannya, apa yang kita semua inginkan. Kebebasan di Venezuela, Venezuela yang demokratis,” kata Maria. “Kami ingin apa yang diinginkan semua orang di dunia, sebuah peluang. Bukan bencana seperti yang kita alami saat ini.” (AP/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Video Pilihan :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds