Xia Xiaoqiang

Wakil Menteri Keamanan Publik Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang merangkap sebagai Kepala Interpol bernama Meng Hungwei sekembalinya ke negeri Tiongkok dinyatakan menghilang lalu kemudian lengser dari jabatannya, peristiwa ini telah menjadi sebuah kasus internasional, dan menjadi fokus berita besar dari kancah politik kalangan petinggi PKT baru-baru ini.

Melihat istri Meng Hungwei yang diwawancarai media massa di Prancis, ini adalah rencana perlindungan diri Meng Hungwei sebelum kembali ke Tiongkok.

Lalu, kalau Meng Hungwei tahu kembalinya dirinya ke Tiongkok akan membahayakan keselamatannya, dengan latar belakang pengalaman Meng Hungwei pada birokrasi dan sistem politbiro PKT selama puluhan tahun, ditambah lagi terus dikuranginya kekuasaannya dalam dua tahun terakhir, apalagi sebelumnya tentang cerita rekan kerjanya di Chongqing yakni: Wang Lijun (Insiden Wang Lijun adalah skandal politik besar RRT yang dimulai pada Februari 2012 ketika Wang Lijun, wakil walikota Chongqing, secara mendadak diturunkan jabatannya, setelah mengungkapkan ke konsulat Amerika Serikat rincian pembunuhan pengusaha Inggris Neil Heywood dan penyembunyian berikutnya), bagaimana mungkin dia tidak tahu dirinya akan menghadapi bahaya besar? Mengapa ia memilih untuk kembali dan menyerahkan diri? Ada banyak kemungkinan yang menjadi alasannya.

Kemungkinan pertama, Meng Hungwei masih menyimpan angan-angan yang keliru terhadap situasi saat ini.

Mungkin ia mengira dengan jabatannya sebagai kepala Interpol sebagai “payung pelindung”, juga salah menilai kekuatan politiknya yang sebenarnya.  Ia berangan-angan sekembalinya ke tanah air sangat kecil kemungkinan dirinya akan langsung ditangkap, mungkin masih bisa mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden Interpol, sebelum akhirnya pensiun dengan aman.

Kemungkinan kedua, Meng Hungwei sudah tahu sangat berbahaya maka diaturlah istrinya di Prancis sebagai jalan keluar, sebagai alat untuk melindungi diri dan negosiasi di masa mendatang, setidaknya agar pemerintah tidak berani terlalu menekannya.

Ia tidak meniru Wang Lijun yang memilih melarikan diri ke AS, mungkin karena posisi tinggi dirinya di Departemen Keamanan Publik PKT, terutama ia memahami tingkat penyusupan sistem spionase PKT di luar negeri dan di negara Barat, membuatnya tidak yakin dengan meminta perlindungan suaka dari Prancis maupun Amerika, setidaknya baginya Prancis bukan tempat yang aman, dan khawatir dirinya akan mengulang nasib naas Wang Jian (pengusaha dan miliarder RRT. Bersama dengan Chen Feng, ia adalah co-founder dan co-chairman Hainan Airlines dan HNA Group konglomerat yang berafiliasi, dengan aset senilai US $ 230 miliar pada 2018) yang telah tewas (3 Juli 2018 ia ditemukan tewas secara misterius di Prancis).

Dari informasi yang diungkap istri Meng pada media massa diketahui bahwa putranya masih berusia 7 tahun, kemungkinan besar istrinya berusia kurang dari 40 tahun. Ini menandakan, istri Meng itu sangat mungkin bukan istri pertamanya, Meng Hungwei masih memiliki istri dan keluarga di Tiongkok dan menjadi sandera pemerintah yang memaksanya pulang ke Tiongkok.

Kasus Meng Hungwei terus berkembang, istrinya tampil di depan media massa, berarti Meng Hungwei telah berseberangan dengan pemerintah. Lalu, bagaimana arah perkembangan peristiwa ini? Seberapa besar dampaknya terhadap politik Beijing?

Istri Meng Hongwei, Grace Meng, mengadakan konferensi pers tanpa memperlihatkan wajahnya, di sebuah hotel di Lyon, Prancis. (JEFF PACHOUD/AFP/Getty Images via Epochtimes.com)

Ada opini berpendapat, Meng Hungwei menguasai informasi rahasia kelas nuklir, yang menyangkut yang disebut Kudeta Beidaihe dan lain-lain, kasus ini berdampak sangat serius terhadap situasi politik PKT, jika itu bukan penyebab utamanya, mengapa PKT memburu Meng Hungwei tanpa mempedulikan citra internasionalnya?

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds