Sebuah situs web wisata Rusia terkemuka telah merilis panduan sopan santun bagi para pengunjung asing, khususnya memberikan perhatian pada kecenderungan para wisatawan Tiongkok yang berperilaku buruk.

Tutu.ru, situs web perjalanan yang paling banyak digunakan di Rusia, menerbitkan dokumen dalam bahasa Mandarin dan Rusia berisi delapan kiat wisata bagi turis-turis Tiongkok yang mengunjungi negara tersebut, media Rusia melaporkan pada 10 Oktober.

“Mengajar turis-turis Tiongkok bagaimana agar tidak mempermalukan diri mereka di Rusia”, membaca tajuk berita di situs berita Rusia Lenta.ru.

Di antara kiat wisata tersebut adalah “Jangan menyentuh orang asing di jalan jika mereka menghalangi Anda. Sebagai gantinya, secara lisan dengan sopan meminta mereka untuk minggir ”; “Jangan memotong antrean”; “Minta izin sebelum mengambil foto orang asing”; “Jangan tawar-menawar terlalu banyak, karena itu tidak biasa di Rusia”; dan “Setelah pukul 11 malam, tolong jaga suara Anda tetap rendah.”

Dan “Jangan pergi bertelanjang dada di depan umum”, cenderung dingin di Rusia, jadi kebiasaan setempat condong ke arah berpakaian lengkap.

Apa yang dimaksud dengan norma-norma masyarakat atau akal sehat bagi banyak orang sering kali tidak dipahami para wisatawan Tiongkok.

Panduan ini dikembangkan dengan bantuan para perantau Rusia di Tiongkok dan panduan bekerja di Tiongkok dan Rusia, tidak secara khusus untuk turis Tiongkok, tetapi untuk industri perhotelan Rusia, dengan begitu hotel-hotel dan restoran dapat menampilkan kiat-kiat tersebut dan membantu para pelanggan menghindari momen-momen memalukan, Menurut Media Rusia, Business Pskov.

Rusia telah melihat masuknya turis-turis Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data tahun 2017 oleh TourStat, sebuah badan statistik pariwisata, Tiongkok mengirim turis paling banyak ke Rusia setelah Ukraina dan Kazakhstan, dengan sekitar 552.000 pengunjung.

Biro perjalanan Tiongkok yang terkenal, Ctrip, juga menyebut Rusia di antara daftar tujuan paling populer bagi wisatawan Tiongkok.

PERILAKU TURIS

Perilaku buruk semacam ini berakar pada tahun 1960-an dan 1970-an, ketika Revolusi Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok telah menyebabkan tercapainya penghapusan apa yang disebut “Four Olds”, termasuk budaya tradisional. Penelantaran moralitas tradisional diyakini secara luas telah berkontribusi terhadap kelangkaan kesopanan di Tiongkok saat ini.

Istilah “Four Olds” (empat hal lama) digunakan oleh rezim Tiongkok untuk menggambarkan empat elemen budaya Tiongkok yang ditargetkan untuk dihancurkan selama Revolusi Kebudayaan (1967-1976) karena dianggap bertentangan dengan tujuan komunis, yaitu: pemikiran lama, kebiasaan lama, budaya lama, dan adat istiadat lama. Banyak situs bersejarah, kuil Buddha, patung Konfusius, dan elemen-elemen budaya tradisional lainnya telah dihancurkan selama kampanye tersebut.

Media Rusia sering melaporkan tentang wisatawan Tiongkok melakukan banyak kecerobohan saat mengunjungi negara tersebut.

Pada bulan Juli, misalnya, Siberian Times melaporkan perilaku buruk oleh turis-turis Tiongkok yang mengunjungi Glass Bay, sebuah pantai di tepi pantai Pasifik di Vladivostok City. Pantai ini dikenal karena butiran-butiran kaca (beling) yang telah lapuk dan terkikis yang terbentuk selama bertahun-tahun karena orang-orang membuang botol-botol bekas dan benda-benda kaca bekas di sana. Namun turis Tiongkok mulai mengantongi butir-butir kaca tersebut.

Majalah Rusia Gorod 812 menerbitkan sebuah cerita pada bulan Februari, menggambarkan turis Tiongkok buang air kecil dan buang air besar di situs-situs budaya bertingkat di Rusia, seperti museum State Hermitage Museum di St. Petersburg, yang dikenal sebagai rumah karya pelukis Renaisans Italia, Simone Martini; dan istana Peterhof Palace di St. Petersburg, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO.

Artikel lain yang diterbitkan pada bulan Mei membahas masalah penting lainnya tentang turis-turis Tiongkok di Rusia: kelompok-kelompok tur yang kebanyakan ditangani oleh agen-agen tur Tiongkok, jadi mereka jarang berkontribusi pada industri pariwisata lokal Rusia. Mereka biasanya menyewa pemandu dan pengemudi Tionghoa, menginap di hotel-hotel milik Tionghoa, dan sering berbelanja di toko-toko dan restoran Tionghoa.

“Para pakar industri pariwisata St. Petersburg telah menyatakan bahwa pelancong dari Tiongkok bukan hanya tidak membawa manfaat bagi ekonomi Rusia, tetapi juga benar-benar menghancurkan industri pariwisata,” lapor TourProm, situs web Rusia yang mencakup industri pariwisata.

Perilaku buruk para wisatawan Tiongkok tidak hanya terbatas di Rusia. Bulan lalu, tiga turis Tiongkok di Stockholm menjadi berita utama karena menyebabkan keributan di sebuah penginapan lokal. Mereka mengira mereka telah membuat pemesanan, tetapi, pada kenyataannya, memesan kamar untuk malam berikutnya. Ketika resepsionis memberi tahu mereka bahwa penginapan tidak dapat mengakomodasi mereka lebih awal (asrama sudah penuh dipesan), mereka menolak untuk pergi. Ketika polisi setempat tiba untuk membawa para turis pergi, mereka mulai berteriak dan menjerit.

Masalah tersebut telah menjadi sangat parah sehingga Administrasi Pariwisata Nasional Tiongkok harus mengeluarkan buku panduan pada tahun 2013, menginstruksikan warganya pada norma-norma sosial di luar negeri. Aturan-aturan yang tercantum termasuk tidak meludah di tanah, tidak mengeluarkan ingus di depan umum, dan memberi tip (uang jasa) dengan benar. (ran)

Rekomendasi video:

Permintaan Obat Tiongkok Melonjak, Populasi Gajah Asia Kritis

 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds