SHANGHAI— Sekarang memungkinkan untuk check in secara otomatis di bandara Hongqiao Shanghai menggunakan teknologi pengenalan wajah, bagian dari peluncuran sistem pengenalan wajah yang ambisius di Tiongkok yang telah meningkatkan kekhawatiran privasi saat Beijing berambisi untuk menjadi pemimpin global di sektor tersebut.

Bandar Udara Internasional Hongqiao Shanghai telah meluncurkan kios swalayan untuk penerbangan dan check-in bagasi, security clearance dan boarding yang didukung oleh teknologi pengenalan wajah, menurut Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok.

Upaya-upaya serupa sedang dilakukan di bandara di Beijing dan kota Nanyang, di Provinsi Henan Tiongkok tengah.

Banyak bandara di Tiongkok sudah menggunakan pengenalan wajah untuk membantu mempercepat pemeriksaan keamanan, namun sistem Shanghai, yang memulai debutnya pada 15 Oktober, sedang diberlakukan sebagai yang pertama sepenuhnya otomatis. Saat ini, hanya pemegang kartu identitas Tiongkok yang dapat menggunakan teknologi tersebut.

Spring Airlines mengatakan pada 16 Oktober bahwa penumpang telah merangkul check-in otomatis yang dapat mengurangi waktu check-in menjadi kurang dari satu setengah menit.

Di seluruh Tiongkok yang lebih luas, pengenalan wajah dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Polisi Daratan telah menggunakan sistem pengenalan wajah untuk mengidentifikasi orang-orang yang tertarik pada kerumunan orang banyak dan menangkap para penyeberang jalan yang melanggar rambu lalu lintas, dan sedang bekerja untuk mengembangkan sistem nasional terpadu dari data kamera pengintai.

Media Tiongkok dipenuhi dengan berita tentang penerapan-penerapan yang terus berkembang: Gerai KFC di Hangzhou, dekat Shanghai, di mana dimungkinkan untuk membayar menggunakan teknologi pengenalan wajah; dan sekolah yang menggunakan kamera pengenal wajah untuk memantau reaksi para siswa di kelas.

Namun, kenyamanan yang telah meningkat mungkin membawa konsekuensi yang negatif di negara dengan sedikit aturan tentang bagaimana pemerintahan tersebut berhak menggunakan data biometrik.

“Pihak-pihak berwenang menggunakan biometrik dan kecerdasan buatan untuk merekam dan melacak orang untuk tujuan kontrol sosial,” kata Maya Wang, peneliti senior Tiongkok untuk Human Rights Watch. “Kami prihatin tentang peningkatan integrasi dan penggunaan teknologi pengenalan wajah di seluruh negeri karena menyediakan lebih banyak poin data bagi pihak berwenang untuk melacak orang.”

Rejim Tiongkok menggunakan teknologi untuk menumpas kelompok minoritas Muslim dan Uighur di wilayah Xinjiang. Tiongkok diyakini sedang menahan hingga satu juta orang etnis Uighur di “kamp-kamp pendidikan ulang,” kata panel hak asasi manusia PBB pada bulan Agustus.

Partai Komunis yang berkuasa telah menggunakan alasan potensi ancaman Islam, “ekstremisme” dan kerusuhan etnis untuk menindak penduduk lokal di Xinjiang.

Selama bertahun-tahun, Xinjiang telah berubah menjadi negara keamanan yang luas, penuh dengan kantor polisi, kamera-kamera jalanan, dan pos-pos pemeriksaan keamanan tempat kartu identitas elektronik dipindai.

Para anggota parlemen AS mengusulkan undang-undang pada 10 Oktober yang mendesak Presiden Donald Trump untuk mengecam “pelanggaran berat” hak asasi manusia dan menekan penutupan “kamp-kamp pendidikan ulang politik” di Xinjiang. Usulan tersebut akan memberi sanksi pada Tiongkok yang mencakup pelarangan penjualan barang atau jasa buatan AS kepada agen-agen negara bagian Xinjiang dan pembatasan untuk entitas-entitas tertentu, termasuk biro kepolisian Xinjiang, dalam pembelian peralatan buatan AS yang kemungkinan digunakan untuk pengawasan. (ran)

Rekomendasi video:

Tiongkok Dikecam Atas Penahanan Massal Minoritas Muslim di Xinjiang

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds