Xia Xiaoqiang

Tanggal 14 Oktober lalu saat Presiden Trump menerima wawancara Columbia Broadcasting System (CBS) dikatakan, mungkin akan memberlakukan bea masuk putaran baru terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT), ia juga mengatakan, PKT sudah tidak mampu membalas, seharusnya sudah waktunya berunding dengan AS.

Selama tiga bulan sejak dimulainya perang dagang RRT-AS ini, untuk menghadapi perdagangan tidak adil PKT, pemerintahan Trump hingga kini telah memberlakukan bea masuk terhadap produk dari Tiongkok sebesar USD 250 miliar.  Trump telah berkali-kali memperingatkan, jika pihak Beijing berniat membalas, maka AS masih akan memberlakukan tambahan bea masuk terhadap produk Tiongkok senilai USD 267 milyar.

Walaupun AS telah memberlakukan bea masuk bagi banyak produk-produk Tiongkok, tapi di bulan September surplus dagang RRT dengan AS justru melonjak memecahkan rekor yakni USD 34,1 milyar.

Menurut data yang dipublikasikan oleh Administrasi Umum Bea Cukai PKT tanggal 12 Oktober lalu, pada bulan September ekspor Tiongkok terhadap AS meningkat USD 46,7 miliar. Sedangkan impor turun sebesar USD 12,6 miliar dan surplus dagang RRT terhadap AS memecahkan rekor yang tercipta bulan Agustus lalu yakni USD 31,05 miliar menjadi USD 34,13 miliar. Selama 9 bulan sepanjang tahun ini surplus dagang RRT terhadap AS telah mencapai USD 225,79 miliar atau naik 15% dibandingkan tahun lalu yang hanya USD 196,01 milyar.

Mengapa demikian? Karena PKT tengah menggerakkan aparat negara, mengerahkan seluruh sumber dayanya, menempuh berbagai cara untuk mengimbangi dampak dari perang dagang tersebut terhadap rezimnya. PKT memperbesar kecepatan dan kekuatan untuk melimpahkan semua kerugian dan krisis kepada masyarakat dan rakyat Tiongkok.

BACA JUGA : Perang Dagang RRT-AS, 1 Aksi Trump 9 Perolehan

Sejak tanggal 15 Oktober, penurutan rasio cadangan wajib yang terbaru mulai diberlakukan. Bank sentral PKT resmi menurunkan rasio cadangan wajib sebesar 1 poin persen terhadap bank komersil skala besar, bank komersil saham gabungan, bank komersil kota, bank komersil pedesaan, dan bank modal asing.

Ini adalah keempat kalinya bank sentral menurunkan rasio cadangan wajib tahun ini, tiga kali sebelumnya masing-masing diberlakukan pada bulan Januari, April, dan Juni tahun ini, ditambah dengan penurunan rasio cadangan kali ini, berarti bank sentra tahun ini sudah mengakumulasi penurunan rasio cadangan wajib sampai 2,5 poin persen.

Kali ini bank sentral menurunkan rasio cadangan sebesar 100 basis poin, dengan total dana yang dirilis sekitar RMB 1,2 trilyun, ditambah lagi dengan dana yang dirilis dalam tiga kali sebelumnya, masing-masing RMB 800 miliar, RMB 400 miliar, dan RMB 700 miliar, berarti tahun ini total dana yang telah dirilis mencapai RMB 3,1 trilyun. Sangat mungkin, tahun ini akan dilakukan satu kali lagi penurunan rasio cadangan wajib ini.

Dalam istilah awam, menurunkan rasio cadangan akan mengakibatkan inflasi, dengan kata lain uang yang dimiliki rakyat menjadi berkurang nilainya, karena telah terdilusi, ini berarti PKT mengalihkan kerugian yang timbul akibat perang dagang untuk dibebankan pada rakyat; di saat yang sama, penurunan rasio cadangan wajib akan menguntungkan bursa property, dapat menjadi tenaga yang akan membantu mempertahankan harga property.

BACA JUGA : Taktik Perang Jangka Panjang, Mampukah Atasi Perang Dagang?

Walaupun PKT kembali menyatakan, bahwa PKT tidak akan menjadikan mata uang RMB sebagai alat untuk menghadapi konflik dagang RRT-AS.

Akan tetapi sejak dimulainya perang dagang ini bulan Juni lalu, nilai tukar RMB dari 6,4 telah anjlok hingga 6,9 dan nilai tukar RMB di Tiongkok daratan sendiri bahkan menembus 6,93. Mayoritas lembaga keuangan berpendapat, RMB akan menembus angka 7 hanya masalah waktu saja.

Walaupun melemahnya RMB merupakan sebilah pedang bermata dua, dapat mempercepat modal hengkang dari Tiongkok, tapi di bawah tekanan PKT mempertahankan rezimnya, walaupun akan ada yang dikorbankan, tetap akan mengendalikan melemahnya RMB untuk meredakan krisis jangka pendek.

Di sisi lain, PKT tengah banting stir ke kiri, termasuk politik, ekonomi dan ideology. PKT tengah melancarkan suatu “gerakan” nasionalisasi, pada akhirnya semua perusahaan besar akan diambil alih negara untuk meredakan krisis “kurang uang”, pada akhirnya tetap mempertahankan stabilitas rezim.

Sebelumnya, media massa sudah mempunyai artikel, melontarkan sinyal “tidak segan-segan menutup bursa efek” untuk “mengatasi masa sulit”.

Beberapa dekade lalu, demi “kemenangan agung komunisme internasional”, Mao Zedong pernah melontarkan “pernyataan menantang” bahwa ia tidak segan-segan mengorbankan ratusan jiwa rakyat Tiongkok.

Dan, kini walaupun PKT tidak berani terang-terangan sesumbar seperti itu, tapi persiapan mengorbankan ratusan juta jiwa rakyat Tiongkok mungkin telah dipersiapkan sebelumnya.

Bagi pembaca yang pernah membaca “9 Komentar” akan percaya bahwa ini bukanlah isapan jempol belaka.

 “Menjaga stabilitas” telah menjadi satu-satunya misi penting bagi PKT saat ini, PKT tengah mengerahkan segala aparatur negara, mengerahkan semua sumber daya yang ada, tanpa peduli berapa pun harga yang harus dibayar.

PKT telah memasuki kondisi menggila yang terakhir. Inilah kondisi PKT yang sebenarnya yang tengah dihadapi oleh Trump, pemerintah AS, masyarakat Barat dan seluruh dunia. Segala bentuk angan-angan terhadap PKT, adalah tidak realistis dan sangat berbahaya. (SUD/WHS/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds