Komentar-komentar pemimpin Tiongkok Xi Jinping, dan kekurangan mengenai itu, selama kunjungan di Tiongkok selatan mengisyaratkan kegelisahan kepemimpinan Beijing tentang keadaan ekonomi negara saat ini.

Selama upacara pembukaan pada 23 Oktober untuk sebuah jembatan yang menghubungkan Hong Kong, Makau, dan kota Tiongkok selatan Zhuhai di Provinsi Guangdong, jembatan laut terpanjang di dunia, beberapa pejabat Tiongkok memberikan pidato, termasuk Li Xi, seorang anggota Politbiro yang beranggotakan 25 elit Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan kepala partai Guangdong; Han Zheng, anggota Komite Tetap Politbiro, badan pembuat keputusan paling berpengaruh di Partai; Carrie Lam, kepala pemerintahan Hong Kong; dan Fernando Chui, kepala pemerintahan Makau, menurut laporan 23 Oktober oleh media pemerintah Tiongkok, Xinhua.

Namun ketika tiba saatnya bagi Xi Jinping untuk secara resmi mengumumkan pembukaan jembatan tersebut, dia hanya melangkah ke podium dan berkata: “Saya mengucapkan, jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makao secara resmi dibuka.” Dia tidak memberikan pidato, seperti yang diharapkan.

Pembangunan jembatan tersebut, sepanjang 55 kilometer, dimulai pada Desember 2009. Ini adalah bagian dari rencana Beijing untuk menjadikan kawasan Delta Sungai Mutiara sebagai pusat ekonomi yang mirip dengan Teluk San Francisco di Amerika Serikat, atau Teluk Tokyo di Jepang.

KESENGSARAAN EKONOMI

Analis politik yang berbasis di Hong Kong, Johnny Lau, dalam sebuah wawancara dengan BBC, mengatakan bahwa Xi singkat dengan komentarnya karena Xi terjebak dalam situasi politik yang sulit: Dia tidak dapat berkomentar tentang perang dagang saat ini, karena jika komentarnya terlalu sengit, Amerika Serikat mungkin akan membalas, dan jika komentarnya terlalu halus, warga di dalam Tiongkok mungkin kehilangan kepercayaan dalam kepemimpinannya.

Acara ini adalah bagian dari perjalanan Xi di Tiongkok selatan, kedua kalinya dia melakukan perjalanan seperti itu sejak menjadi kepala PKT pada tahun 2012. Perjalanan selatan ini datang dengan implikasi politik yang besar: Perjalanan yang secara luas dianggap sebagai replika perjalanan mantan pemimpin Partai Deng Xiaoping yang terkenal ke Guangdong pada tahun 1992, titik kritis dalam sejarah Tiongkok yang menandai komitmen Beijing untuk kebijakan reformasi ekonomi, yang dimulai pada tahun 1978, untuk membuka negara tersebut bagi investasi dan perusahaan-perusahaan asing.

Perjalanan Xi pada Desember 2012 dipandang sebagai pesan pemimpin Partai bahwa reformasi ekonomi berada di puncak agendanya, mengingat bahwa ia memberi penghormatan kepada patung Deng di Kota Shenzhen, pusat ekonomi yang berfungsi sebagai dasar eksperimental pertama Partai untuk reformasi pasar.

Namun dengan ekonomi Tiongkok baru-baru ini yang berkinerja buruk, Xi mungkin telah melakukan perjalanan tersebut untuk memadamkan kecemasan yang telah meningkat di antara sektor-sektor ekonomi negara tersebut. Tiongkok mencatat pertumbuhan PDB paling lambat, 6,5 persen untuk kuartal ketiga, dalam sembilan tahun, menurut angka terbaru Biro Statistik Nasional Tiongkok pada 19 Oktober.

Pasar saham Tiongkok juga merosot. Shanghai Composite Index, sudah menjadi pemain terburuk di antara tolok ukur utama dunia pada 2018, jatuh baru-baru ini ke titik terendahnya sejak tahun 2014.

MANDIRI

Sehari sebelum upacara peresmian Hong Kong tersebut, Xi pertama kali mengunjungi sebuah taman industri di Distrik Hengqin Zhuhai, yang merupakan rumah bagi ilmu pengetahuan, teknologi tinggi, dan bisnis obat tradisional Tiongkok. Kemudian, dia berkunjung ke fasilitas milik Gree Electric Appliances, produsen peralatan utama Tiongkok, menurut Xinhua.

Di Gree, Xi membuat komentar yang menjelaskan pentingnya sektor manufaktur Tiongkok.

“Inti dari sektor manufaktur adalah inovasi, yaitu tentang memiliki teknologi inti kunci. Kita harus mengandalkan diri kita sendiri. … Saya berharap semua perusahaan akan bekerja ke arah ini,” katanya, menurut Xinhua.

Menjadi mandiri secara teknis adalah inti dari rencana ekonomi “Made in China 2025” Beijing, yang menyerukan agar Tiongkok tidak hanya menjadi mandiri secara teknis pada tahun 2025 di 10 sektor teknologi tinggi utama, tetapi pada akhirnya mendominasi rantai pasokan global. Namun, Tiongkok masih tertinggal dalam mengembangkan banyak teknologi kunci, seperti chip semikonduktor, yang digunakan untuk menghidupkan hampir semua perangkat elektronik.

Dengan mengunjungi perusahaan-perusahaan ini, perjalanan selatan Xi dimaksudkan untuk membuat pernyataan yang lebih mendalam tentang niat PKT untuk melaksanakan reformasi ekonomi, menurut Li Fong, sekretaris jenderal Pusat Penelitian Hong Kong tentang Studi Asia Pasifik, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Taiwan, Central News Agency (CNA).

Kunjungan Xi ke Gree bukanlah kebetulan, menurut Lin Jiang, seorang profesor ekonomi di Lingnan University di Guangdong.

Dalam artikel 23 Oktober oleh media Hong Kong LinePost, Lin menjelaskan bahwa Gree adalah perusahaan milik negara, tetapi dijalankan dengan cara yang serupa dengan perusahaan swasta. Akibatnya, Beijing mengirim pesan bahwa ia ingin melihat lebih banyak kerja sama antara perusahaan pemerintah dan swasta, untuk meningkatkan daya saing berbagai sektor Tiongkok.

Namun, menurut interpretasi Lin, rencana Beijing tersebut bertentangan dengan reformasi ekonomi. Sebaliknya, ini lebih merupakan campur tangan negara di sektor swasta sejak Tiongkok memperingati ulang tahun ke 40 kebijakan reformasi Deng tahun ini.

Menurut outlet media keuangan Tiongkok, Caixin, lebih dari 20 perusahaan swasta di Tiongkok telah menerima investasi dari perusahaan-perusahaan milik negara tahun ini. Beijing telah mendorong investasi tersebut dalam Rencana Lima Tahun ke 13, yang diumumkan pada tahun 2016.

Salah satu contohnya adalah Kingee Culture, sebuah perusahaan desain dan manufaktur perhiasan yang berbasis di Beijing. Pada bulan Juli, salah satu pemegang saham mayoritas perusahaan tersebut, Bikong Longxiang, sebuah perusahaan manajemen aset yang berbasis di Beijing, telah menjual 73,32 persen saham Kingee hanya seharga 1 yuan (15 sen) kepada HKJ Grup milik negara. (ran)

Rekomendasi video:

Hadapi Perang Dagang, Mampukah Tiongkok Bertahan

 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds