BRASILIA – Pemerintah Tiongkok khawatir dengan calon presiden terkemuka Brazil, Jair Bolsonaro, yang memiliki ancaman-ancaman yang menampar Tiongkok untuk mendinginkan hubungan perdagangan yang telah menguntungkan kedua negara tersebut.

Para diplomat Tiongkok yang berbasis di Brasilia telah bertemu dua kali dengan penasihat-penasihat tinggi Bolsonaro dalam beberapa pekan terakhir, menurut para peserta dalam pertemuan tersebut. Tujuan mereka adalah untuk menegaskan kerja sama dengan negara terbesar di Amerika Latin tersebut, yang memiliki biji-bijian dan mineral-mineral yang telah memicu kemunculan Tiongkok.

Bolsonaro telah menggambarkan Tiongkok, mitra dagang terbesarnya, sebagai pemangsa yang ingin menguasai sektor-sektor kunci ekonominya.

Dengan ekonominya yang melambat, Tiongkok tidak dapat terlibat dalam perang dagang yang mahal seperti yang terjadi dengan Amerika Serikat.

Perdagangan dua arah antara Tiongkok dan Brasil telah mencapai $75 miliar tahun lalu, menurut statistik pemerintah Brasil. Tiongkok telah menginvestasikan $124 miliar di Brasil sejak tahun 2003, sebagian besar di sektor minyak, pertambangan dan energi, dan berkeinginan untuk membiayai proyek-proyek kereta api, pelabuhan, dan infrastruktur lainnya untuk mempercepat pengalihan gandum Brasil.

Namun sayap kanan Bolsonaro telah mengkritik Tiongkok berulang kali di jalur kampanye, mengatakan Tiongkok tidak boleh diizinkan untuk memiliki tanah Brasil atau mengendalikan industry-industri utama. Bolsonaro diperkirakan akan menang telak dalam pemungutan suara pada 28 Oktober.

“Orang Tiongkok tidak akan membeli kembali Brasil. Mereka sedang membeli Brazil,” Bolsonaro telah berulang kali memperingatkan.

Perusahaan-perusahaan di dalam garis bidik tersebut termasuk China Molybdenum Co., yang telah membeli tambang niobium senilai $1,7 miliar pada tahun 2016 yang Bolsonaro katakan bahwa Brasil harus mengembangkannya sendiri. Niobium digunakan sebagai aditif pada baja untuk membuatnya lebih kuat dan lebih ringan. Ini digunakan dalam mobil, gedung, mesin jet, dan sejumlah penggunaan lainnya. Brasil menguasai sekitar 85 persen pasokan dunia dan Bolsonaro ingin bangsanya mendapatkan keuntungan.

Bolsonaro juga dalam sebuah rekaman menentang privatisasi yang direncanakan untuk beberapa utilitas aset milik negara Centrais Eletricas Brasileiras SA (Eletrobras), karena kekhawatiran bahwa para pembeli Tiongkok akan memenangkan tender tersebut.

Juga, pada bulan Juli 2018, perusahaan milik negara China National Petroleum Corp (CNPC) telah menandatangani surat pernyataan dengan perusahaan minyak Brasil, Petrobras, untuk proyek kilang Comperj, sebuah perjanjian berikutnya setelah penandatanganan kontrak CNPC dengan Petrobras pada tahun 2017 untuk bersama-sama mengembangkan klaster Marlim lepas pantai Brasil, penemuan minyak terbesar di negara ini.

Pejabat-pejabat di China Molybdenum Co. menolak permintaan untuk komentar. Namun enam eksekutif senior di perusahaan-perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Brasil mengatakan kepada Reuters bahwa mereka sedang mengamati pernyataan-pernyataan Bolsonaro dengan berbagai tingkat kekhawatiran.

“Dia waspada terhadap Tiongkok,” kata seorang eksekutif infrastruktur Tiongkok pada Reuters.

Kecenderungan sikap bersahabat Bolsonaro pada Taiwan juga menyengsarakan Beijing, yang menganggap Taiwan sebagai provinsi pemberontak. Bolsonaro pada Februari menjadi calon presiden Brasil pertama yang mengunjungi Taiwan sejak Brasil mengakui Beijing sebagai satu-satunya pemerintah Tiongkok di bawah kebijakan “Satu Tiongkok” pada tahun 1970-an.

Kedutaan Tiongkok di Brasil mengeluarkan surat yang mengutuk perjalanan Bolsonaro di Taiwan.

Sikap garang Bolsonaro sangat kontras dengan negara-negara Amerika Latin lainnya, dimana para pemimpinnya menyambut baik investasi, pinjaman, dan pembelian komoditas Tiongkok tanpa pengawasan.

‘MEMBELI BRASIL’

Bolsonaro senang dengan pembelian komoditas Tiongkok. Namun mantan kapten Angkatan Darat tersebut waspada terhadap kesenangan belanja Tiongkok baru-baru ini di sektor-sektor energi dan infrastruktur Brasil.

China Three Gorges Corp telah membayar 4,8 miliar reais (US$1,48 miliar) pada tahun 2016 untuk mengoperasikan dua bendungan terbesar di Brasil. Tahun lalu, State Grid Corp Tiongkok membeli saham pengendali di CPFL Energia SA milik Sao Paulo dan anak perusahaannya sebesar 17,36 miliar reais ($4,90 miliar), sementara HNA Airport Holding Group Co. milik Tiongkok telah membeli saham pengendali di bandara tersibuk kedua di Brasil.

Brasil sekarang diharapkan untuk menempatkan sejumlah konsesi dan asset-aset pemerintah siap untuk mengajukan penawaran tahun depan, termasuk perkeretaapian dan aset energi yang dimiliki negara.

Pemerintahan Presiden Michel Temer yang telah keluar telah berusaha untuk memprivatisasi perusahaan energi yang dikendalikan negara Eletrobras, sebuah langkah yang memerlukan persetujuan kongres. Bolsonaro mengatakan dia menentang penjualan asset-aset generasi Eletrobras karena akan “menyerahkan Brasil di tangan Tiongkok.” (ran)

Rekomendasi video:

Di Balik Gelontoran Dana Tiongkok untuk Afrika, Ekonomi ataukah Politis

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds