Washington DC – Sebanyak tujuh anak-anak diselundupkan oleh kartel perdagangan manusia. Mereka menyusup di dalam rombongan karavan migran, yang sedang mengembara di Meksiko dan bergerak menuju perbatasan Amerika Serikat.

Tujuh anak tersebut berhasil diselamatkan oleh otoritas Guatemala, menurut kelompok LSM AS, Judicial Watch. Sebuah gambar menunjukkan anak-anak itu berada di dalam apa yang tampak seperti kamar mandi, yang dikelilingi oleh sampah dan pakaian.

Anak-anak yang tidak ditemani itu diambil dari penyelundup manusia di dalam kafilah dan diberi makanan, air, dan perawatan medis. Seorang pejabat pemerintah Guatemala mengatakan kepada Judicial Watch akhir pekan lalu. Para penyelundup yang menyusupkan anak-anak itu berhasil ditangkap.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan ada 2.300 anak yang bepergian di dalam rombongan kafilah migran pertama. Penyelundup manusia sering menargetkan anak-anak, karena mereka memungkinkan bagi imigran gelap untuk memasuki Amerika Serikat. Mereka akan digunakan oleh imigran gelap yang tidak mempunyai anak untuk dapat lebih mudah masuk AS, dengan menggambarkan diri mereka sebagai kesatuan keluarga.

“Sementara mereka yang bepergian dengan kafilah berharap untuk keselamatan dalam jumlah, bahaya menggunakan rute migrasi tidak teratur tetap signifikan, terutama untuk anak-anak,” kata Lembaga Darurat Anak Internasional PBB (UNICEF).

“Perjalanan itu panjang, tidak pasti, dan penuh bahaya, termasuk risiko eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan,” kata UNICEF.

Pejabat AS menegaskan sebelumnya bahwa ada penjahat dan anggota geng kriminal di dalam rombongan kafilah migran tersebut.

“Kesepakatan kafilah ini memberikan kesempatan untuk kegiatan kriminal yang luar biasa,” Chris Farrell, direktur investigasi Judisial Watch, mengatakan kepada Washington Times.

Farrell menghabiskan waktu dengan karavan dan mengatakan dia melihat pria dengan tato gothic-script “MS” berbaur dengan para pengungsi. Tatto itu menunjukkan mereka adalah bagian dari geng MS-13 yang ‘penuh kekerasan’.

Farrell juga mengatakan dia melihat apa yang disebut oleh agen Patroli Perbatasan sebagai ‘orang asing yang berkepentingan khusus’, atau migran dari negara-negara yang memiliki kemungkinan atau menjalin hubungan dengan terorisme. Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan bahwa para migran dari Timur Tengah adalah bagian dari kafilah tersebut.

Para migran antre untuk mengambil transfer uang yang dikirim oleh kerabat di rumah, dalam rombongan kafilah Amerika Tengah yang berusaha mencapai perbatasan AS. Mereka berhenti untuk hari istirahat di Tapanatepec, negara bagian Oaxaca, Meksiko, pada 28 Oktober 2018. (Rebecca Blackwell/AP/The Epoch Times)

Ketika kafilah migran kedua dan ketiga bergerak ke utara, kafilah pertama baru-baru ini didorong untuk dihentikan oleh ‘oprganiser’ mereka setelah laporan seorang anak yang diculik. Koordinator mengatakan kepada para migran untuk tetap berkumpul pada hari Minggu setelah laporan bahwa seorang anak telah diculik, lapor The Associated Press.

“Sejumlah migran berlari melalui jalan-jalan kota, mengatakan seorang anak migran telah diculik. Sesuatu yang serupa menyebabkan kepanikan pada pemberhentian sebelumnya, tetapi tidak dikonfirmasi,” agen berita melaporkan.

Raul Medina Melendez, kepala keamanan untuk kotamadya kecil di Oaxaca State, mengatakan pejabat kota membagikan sandwich dan air kepada para migran yang berkemah pada Sabtu (27/10/2018) malam. Seorang pria dengan megafon meminta para migran untuk menunggu dengan sabar giliran mereka.

Saat itulah sekelompok migran memukulinya, sementara yang lain menghujat dan menghinanya. Orang itu kemudian dilarikan ke rumah sakit. (ZACHARY STIEBER/NTD.tv/The Epoch Times)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds