Erabaru.net. Alkisah hiduplah seorang raja yang suka berburu, dia senang berburu jauh ke pedalaman hutan belantara, sambil ditemani seorang tabib istana.

Suatu hari ketika berburu, jari kelingking raja terluka, dan tabib yang menemaninya segera mengobatinya. Sang Raja bertanya, “Bagaimana jari saya? Apakah akan buruk?” Namun tabib itu hanya menjawab, “Baik atau buruk, siapa yang tahu?”

Ilustrasi. Kredit: beckahthepsychic.wordpress.com

Kemudian setelah selesai berburu dan kembali ke istana, Sang Raja melihat bahwa luka di jarinya semakin parah, sekali lagi dia memanggil tabib istana dan kemudian tabib itu memberikan tambahan obat serta mengganti perbannya. Raja bertanya lagi, “Bagaimana kondisi jari saya, apakah akan buruk?” Sang tabib hanya menjawab, “Baik atau buruk, siapa yang tahu?”

Beberapa hari kemudian, luka di jari Raja menjadi sangat parah sehingga jarinya harus diamputasi. Akhirnya jarinya di amputasi, dan dia menjadi sangat marah kemudian menjebloskan tabib istana ke penjara.

Raja berkata kepada tabib tersebut, “Lihat sekarang, karena kebodohanmu saya harus kehilangan sebuah jari, sekarang kamu harus masuk penjara, kebodohanmu telah membawa hal buruk kepadamu!” Namun tabib itu hanya menjawab “Baik atau buruk, siapa yang tahu.”

Dengan marah Sang Raja berkata “Dasar tabib gila! Kegilaan dan kebodohanmu sama besarnya, silahkan nikmati hidupmu di dalam penjara.”

Ilustrasi. Kredit: bridgemi.com

Beberapa waktu kemudian, sang raja kembali pergi berburu, kali ini dia berburu sendirian, dan tanpa sadar dia telah tersesat di dalam hutan. Malang, dia kemudian ditangkap oleh suku primitif yang tinggal di dalam hutan tersebut, yang memang sedang berkeliling untuk mencari manusia untuk ditangkap.

Ternyata, hari itu adalah hari suci bagi suku tersebut, jadi mereka akan melakukan upacara persembahan untuk Dewa mereka, dan persembahan tersebut adalah seorang manusia.

Sang Raja diikat di sebuah pohon, dan orang-orang suku tersebut bernyanyi dan menari sambil mengelilingi pohon tempat Sang Raja diikat.

Tepat ketika sebuah pisau akan ditusukkan ke dada sang raja, tiba-tiba pendeta disana berteriak “Berhenti!” Dia melanjutkan, “Kita tidak bisa menjadikan orang ini sebagai persembahan, dia tidak sempurna, jarinya hanya ada 9!” Akhirnya Sang Rajapun dibebaskan.

Setelah bersusah payah, akhirnya Raja berhasil kembali ke istananya, dia langsung memerintahkan untuk membebaskan tabib istana.

Dia berkata kepada tabib istana, “Tabib, maafkan saya, ternyata hilangnya satu jari saya adalah hal yang baik, jika bukan karena satu jari saya yang hilang, saya pasti sudah mati dan dijadikan persembahan. Maafkan saya yang telah berbuat buruk kepadamu dengan menjebloskanmu ke penjara.”

Diluar dugaan, tabib itu berkata “Berbuat buruk? Tidak raja, Anda justru telah berbuat baik kepada saya, jika saya tidak berada di dalam penjara, saya pasti akan ikut berburu bersama Anda, dan…” sambil mengangkat kedua telapak tangannya dia berkata lagi “Saya memiliki 10 jari yang lengkap.”

Seringkali sangat sulit bagi kita untuk memikirkan hal positif apa yang akan terjadi, ketika kita berada di tengah-tengah kesulitan, namun yakinlah, bahwa segala hal buruk yang kita alami, sesungguhnya mempunyai kebaikan yang tersembunyi.

Baik atau buruk, siapa yang tahu? (lpc/jul)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds