Erabaru.net. Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi mengatakan operasi SAR Lion Air PK-LQP JT 610 diperpanjang selama 3 hari setelah sebelumnya sudah digelar selama tujuh hari sejak Senin (29/10/2018) lalu.

“Hari ini adalah operasi hari yang ketujuh. Setelah kami evaluasi, jadi kami putuskan operasi evakuasi diperpanjang 3 hari sejak besok,” kata Syaugi dalam konferensi pers di Dermaga JICT II, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (04/11/2018).

Menurut Syaugi, keputusan ini dilakukan setelah pihaknya memantau langsung ke TKP.

Bahkan, kata Syaugi, pihaknya menggelar rapat dengan beberapa staf sehingga berdasarkan masukan dari lapangan diputuskan untuk melanjutkan operasi SAR.

Kabasarnas berharap, dengan penambahan waktu tersebut serta sinergitas dan soliditas seluruh tim gabungan yang terlibat dalam operasi SAR, baik dari Basarnas, TNI-Polri, Kementerian Perhubungan, BPPT, KNKT, KKP, Bea Cukai, Pertamina, dan seluruh Potensi SAR.

“Mudah-mudahan  tiga hari ini, dengan sinergitas yang tinggi bisa segera menyelesaikan operasi ini,” katanya.

Penampakan roda dan turbin Lion Air JT 610 di Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu 4 November 2018 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)

Kabasarnas menjelaskan selama operasi digelar hinga pada hari ke-7 ini, tim SAR telah berhasil mengevakuasi 105 kantong jenazah yang sudah diberi label oleh tim DVI.

Syauqi menambahkan, Jumlah ini saya pastikan akan bertambah karena tim SAR telah menemukan beberapa korban dalam beberapa kantong jenazah baik di kapal maupun di posko Tanjung Pakis Karawang. Temuan lainnya barang miliki korban dan serpihan-serpihan pesawat.

Selam operasi ini, tim SAR khususnya para penyelam telah menemukan engine, 1 telah dievakuasi ke Posko Terpadu, satunya dalam kondisi tidak lengkap yang sudah dipastikan koordinatnya.

Untuk roda, 1 lengkap sudah dievakuasi ke Posko Terpadu, sementara 2 roda lainnya dalam kondisi tidak lengkap sudah diketahui posisinya.

Sebelumnya Tim penyelam  juga sudah menemukan bagian kotak hitam Lion Air PK-LQP yakni flight data recorder (FDR) atau data rekaman penerbangan. Adapun CVR pesawat sempat terdeteksi Ping Locator meskipun lemah.

Menurut Kabasarnas, sinyal yang diterima ping locator sudah ditelusuri oleh penyelam-penyelam gabungan yang handal. Selama pencarian, kata Syaugi,  dibagi poin per poin area penyelaman, namun belum berhasil ditemukan secara fisik.

“Posisinya sekitar 50 meter arah barat laut dari pusat pencarian. Kondisi dasar laut berlumpur, kalau kita tusuk dengan besi satu meter, belum sampai ke dasarnya,” ungkapnya.

Soal body pesawat yang dalam bentuk ukuran besar masih belum ditemukan oleh tim SAR. Akan tetapi tim SAR sebelumnya sudah berhasil mengevakuasi  serpihan-serpihan dalam jumlah banyak.

Pertugas mengangkat dari hasil evakuasi Lion JT 610 di dasar laut Tanjung Karawang, Jawa Barat ke Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara 4 November 2018 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)

“Saya tegaskan, bahwa yang kami temukan dan kami evakuasi adalah bagian skin atau kulit-kulit pesawat cukup banyak di dasar laut,” kata Syaugi.

“Ini berdasarkan data berupa gambar dan pencitraan dari ROV yang sampai saat telah menyapu area pencarian dengan radius 250 meter persegi,” tambah Kabasarnas.

Operasi pencarian pada hari ke 7 yang dilakukan meliputi prioritas 1 untuk pencarian bawah laut yang terbagi dalam 2 sektor, yakni 1A dan 1B. Pada sektor 1A terdapat Kapal Baruna Jaya yang dilengkapi dengan peralatan Multi Beem Exho Sounder (MBES), Ping Locator, dan Remotly Operated Underwater Vehicle (ROV).

Sementara sektor 1B, mengerahkan Kapal Dunamos Pertamina yang dilengkapi dengan peralatan Side Scan Sonar, MBES, Ping Locator, dan Differential Global Positioning System (DGPS). Di 2 sektor ini, pencarian melibatkan 151 penyelam gabungan dari Basarnas, Kopaska, Denjaka, Taifib, Brimob POSSI Semarang, Indonesia Diver Rescue Team, dan lainnya. Spot atau titik-titik penyelaman sudah dibagi secara rinci dan detail oleh Basarnas ke spot atau titik-titik penyelaman.

Area atau luasan penyelaman ini mencapai 2,7 kilo meter persegi. Sedangkan Prioritas 2, pencarian dilaksanakan di permukaan dengan melibatkan 40 kapal, masing-masing dari Basarnas, TNI-Polri, Kementerian Perhubungan, KPLP, KSOP, Bea Cukai, Bakamla, BPPT, KKP, Pertamina ditambah dari Potensi SAR lainnya, termasuk nelayan. Tim SAR juga mengerahkan 5 pesawat helikopter, dari Basarnas dan Polri. (asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds