Moskow – Peluncuran misi pesawat luar angkasa Soyuz berawak ke stasiun luar angkasa internasional, ISS, gagal bulan lalu. Kegagalan itu disebabkan oleh sensor yang rusak ketika perakitan roket di kosmodrom di Kazakhstan, menurut hasil investigasi Rusia. Hasil penyelidikan diumumkan pada awal November, pekan lalu.

Seorang kosmonot Rusia dan astronot AS terpaksa membatalkan misi mereka pada 11 Oktober 2018. Roket yang meluncurkan mereka menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) gagal mencapai performa maksimal. Kapsul yang digendong oleh roket mal-fungsi tersebut akhirnya berhasil mengirim mereka terjun kembali ke Bumi dalam drama pendaratan darurat.

Ketika menyajikan temuan dari penyelidikan resmi atas kecelakaan itu, kepala penyelidik Igor Skorobogatov mengatakan dua roket Soyuz lainnya kemungkinan memiliki ‘cacat’ yang sama. Pemeriksaan baru kini sedang dilakukan pada proses perakitan roket, agar kesalahan dapat diperbaiki dan tidak terulang pada masa depan.

Pesawat ruang angkasa Soyuz MS-08 terlihat mendarat di dekat kota Zhezkazgan, Kazakhstan, pada 4 Oktober 2018. (Bill Ingalls/NASA/The Epoch Times)

Kecelakaan itu terjadi ketika tahap pertama dan kedua dari roket pendorong Rusia terpisah sekitar dua menit setelah lepas landas dari kawasan kosmodrom era-Soviet di Baikonur, Kazakhstan.

“Alasan untuk pemisahan (roket dengan modul astronot) abnormal, adalah karena deformasi batang sensor pemisah kontak,” Skorobogatov mengatakan pada wartawan.

“Telah terbukti, sepenuhnya menegaskan bahwa ini terjadi secara khusus karena sensor ini, dan itu hanya bisa terjadi selama perakitan di kosmodrom Baikonur,” kata Skorobogatov.

Badan antariksa Rusia, Roscosmos menyiarkan rekaman yang difilmkan oleh kamera onboard, menunjukkan peluncuran Soyuz dan ‘mendaki angkasa’ secara normal sampai tiga roket pendorongnya lepas. Namun, salah satu dari roket itu tampak jatuh ke dalam, bukan menjauh dari kapal ruang angkasa (modul) sebagaimana mestinya.

Oleg Skorobogatov, kepala komisi investigasi, berbicara di sebuah konferensi pers tentang hasil penyelidikan atas peluncuran roket Soyuz yang gagal pada 11 Oktober 2018, di Pusat Pengendali Misi Rusia di Korolev, di pinggiran Moskow, Rusia, pada 1 November 2018. (Sergei Karpukhin/Reuters/The Epoch Times)

Soyuz kemudian menukik tajam dan berbelok dari lintasan dan berayun bergetar hebat. Skorobogatov mengatakan blok tengah Soyuz terbentur roket pada area tangki bahan bakar sehingga stabilisasi roket ruang angkasa menjadi hilang.

Kecelakaan itu adalah masalah peluncuran serius pertama yang dialami oleh misi ruang angkasa berawak Soyuz sejak tahun 1983. Ketika itu seorang kru melarikan diri sebelum roket diluncur kan.

Roscosmos mengatakan pada hari Rabu (31/10/2018) pekan lalu, bahwa mereka berharap untuk dapat berhasil meluncurkan misi berawak pertama sejak kecelakaan, pada 3 Desember 2018. Peluncuran itu sudah dan akan diawali terlebih dahulu dengan peluncuran Soyuz tanpa awak ke ISS.

Peluncuran dengan awak sebelumnya direncanakan pada pertengahan Desember 2018. Namun, pejabat senior Roscosmos, Sergei Krikalyov mengatakan mereka berharap untuk memajukan jadwal. Peluncuran lebih awal guna menghindari mode Auto Pilot pada ISS, ketika tiga awak stasiun luar angkasa internasional saat ini pulang ke Bumi. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Video Pilihan :

 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds