Erabaru.net. Sehari sebelum jatuh, pilot penerbangan Lion Air PK-LPQ saat penerbangan Denpasar-Jakarta pada 28 Oktober sempat memberikan sinyal peringatan masalah teknis atau sinyal Pan-Pan lewat radio beberapa menit setelah lepas landas.

Namun demikian, masalah teknis tersebut bisa diatasi dan penerbangan kembali diteruskan ke Jakarta.

Kepala otoritas bandara untuk wilayah Bali-Nusa Tenggara, Herson kepada Reuters secara eksklusif menuturkan menara kontrol langsung waspada setelah menerima sinyak dari Pilot. Namun demikian, pilot mengatakan pesawat kembali terbang normal dan dia tidak akan kembali ke bandara seperti yang diminta.

“Sang pilot sendiri cukup percaya diri untuk terbang ke Jakarta dari Denpasar,” kata Herson.

Sementara itu, Pilot pesawat lain yang mendekati Bali sesaat setelah pesawat Lion Air lepas landas mengatakan, dia diperintahkan untuk mengelilingi bandara dan mendengarkan percakapan radio antara pilot Lion Air dan pengendali lalu lintas udara.

“Karena panggilan Pan-Pan, kami diberitahu untuk menunda, mengitari bandara di udara,” kata pilot, yang menolak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

“Pesawat Lion diminta untuk kembali ke Bali lima menit setelah take-off, tetapi kemudian pilot mengatakan masalah telah diselesaikan dan dia tetap terbang ke Jakarta.”

Pilot menggunakan panggilan ‘Pan-Pan’ untuk menandai situasi yang mendesak. Panggilan ini adalah setingkat lebih rendah dari ‘Mayday’, yang menandakan tekanan yang parah.

Penerbangan Denpasar-Jakarta mendarat di Cengkareng pada pukul 22:55 pada Minggu.

Keesokan harinya, Jet Boeing 737 MAX 8 yang sama berangkat pada pukul 6:20 pagi WIB menuju Pangkalpinang. Akan tetapi pesawat ini jatuh ke laut 13 menit kemudian. Tepat sebelum kecelakaan, pilot telah meminta kembali ke Cengkareng.

Seorang juru bicara Lion Air menolak berkomentar ketika ditanya Reuters tentang peringatan pada penerbangan sebelumnya, mengutip investigasi kecelakaan yang sedang berlangsung.

Sebelumnya Direktur Umum Lion Air Edward SiraitLion Air mengakui pesawat Boeing 737 Max 8 itu sempat mengalami masalah teknis di Denpasar, Bali. Namun demikian, permasalahan sudah teratasi sesuai prosedur.

“Pesawat ini terakhir terbang dari Denpasar menuju Cengkareng, dalam posisi dirilis untuk terbang. Memang ada laporan mengenai masalah teknis, dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur maintenance yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat,” tutur Direktur Umum Lion Air Edward Sirait di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (29/10).

Menurut data dari FlightRadar24, Lion Air PK-LPQ menampilkan variasi ketinggian dan kecepatan udara yang tidak biasa dalam beberapa menit pertama penerbangan — termasuk penurunan 875 kaki selama 27 detik ketika biasanya akan naik — sebelum menstabilkan dan terbang ke Jakarta. Pada waktu itu, pilot menjaga pesawat pada ketinggian maksimum 28.000 kaki dibandingkan dengan 36.000 kaki pada rute yang sama pada awal minggu lalu. (asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds