Santiago – Chili menggunakan pesawat terbang untuk mengirim imigran Haiti kembali ke negara asal mereka pada 7 November 2018. Pemerintah Chili menerapkan ‘Rencana Pengembalian Kemanusiaan’, yang dikritik oleh kelompok pengembara migran sebagai ‘deportasi rahasia’.

Pada sebuah pusat olahraga Santiago, sebanyak 176 orang berkumpul untuk berangkat ke bandara. Mereka akan menggunakan penerbangan angkatan udara Chili untuk pulang menuju ibukota Haiti, Port-au-Prince.

Sebanyak 1.087 orang diklaim telah mendaftar untuk penerbangan militer kembali ke Haiti. Kementerian dalam negeri Chili mengatakan dalam sebuah pernyataan. Sementara itu, sekitar 150.000 orang Haiti telah bermigrasi ke Chili dalam dua tahun terakhir.

Menurut sebuah wawancara dengan Dewan Urusan Luar Negeri pada 27 September 2018, Presiden Sebastián Piñera membuat rencana untuk menghentikan masuknya orang asing yang tidak berdokumen. Sebab, banyak dari mereka telah disesatkan oleh pedagang manusia dengan janji-janji palsu. Para imigran gelap dinilai gagal mengikuti undang-undang visa Chili.

“Anda tidak dapat melanjutkan apa yang telah terjadi sejauh ini. Ada imigrasi ilegal yang sangat besar, bahwa itu tidak aman, bahwa itu tidak teratur dan membahayakan para imigran,” kata Piñera.

‘Rencana Pengembalian Kemanusiaan’ mengharuskan mereka untuk menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak akan kembali selama sembilan tahun. Mereka juga wajib berjanji untuk pulang kepada keluarga.

Namun kebijakan tersebut telah menimbulkan kontroversi di antara beberapa kelompok migran, aktivis, dan akademisi. Mereka khawatir karena Haiti masih menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dirusak oleh bencana alam, pergolakan politik, dan keamanan yang buruk.

The National Platform of Haitian Organisations, yang mewakili 30 kelompok pengungsi terpisah di Chili, mengatakan pada 7 November 2018 bahwa penerbangan itu sama dengan penegakan hukum imigrasi atau deportasi. Mereka juga menuduh pemerintah Chili mengadopsi kebijakan ‘rasis’.

Jose Tomas Vicuna, direktur ‘Chile’s Jesuit Centre for Migrants’, mengatakan penerbangan seperti itu akan menyakitkan bagi semua rakyat Chili.

“Sebanyak 176 orang pergi dengan bagasi yang emosional, yang signifikan, dari apa yang mereka alami di Chili,” tulisnya di Twitter.

Kementerian dalam negeri Chili membantah tuduhan rasisme dan deportasi. Mereka mengatakan itu adalah ‘bantuan kemanusiaan sukarela’ dan didukung oleh PBB.

Wakil Mentri Dalam Negeri, Rodrigo Ubilla mengatakan kepada wartawan di bandara pada 7 November 2018 bahwa para migran dari Kolombia juga meminta bantuan serupa.

“Orang-orang ini secara resmi membuat permintaan ini karena mereka belum dapat mencapai impian mereka untuk menemukan kehidupan baru di negara kita,” kata Ubilla.

Ketika ditemui di pusat olahraga, imigran yang akan kembali ke negara mereka mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mendapati kondisi menganggur, kelaparan, dan apa yang terasa seperti rasisme di Chili.

Jean Baptiste Brignol, 38, mengatakan dia memiliki visa, tetapi tidak dapat menemukan pekerjaan. “Bos perusahaan di sini tidak ingin orang Haiti bekerja untuk mereka. Mereka tidak suka warna kulit,” katanya. “Presiden Piñera mengasihani kami dan kami berterima kasih.” (Reuters dan Alan Cheung/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds