Di bawah pukulan ganda perang perdagangan Sino-AS dan tekanan ekonomi domestik, penjualan industri otomotif Tiongkok telah menunjukkan pertumbuhan negatif untuk pertama kalinya sejak tahun 1990.

Sejak Juni 2018, industri otomotif Tiongkok mengalami penurunan penjualan berkesinambungan. Data terbaru menunjukkan bahwa penjualan mobil dalam tiga minggu pertama bulan Oktober turun 23 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dan diperkirakan akan menurun sebesar 20 persen lainnya, menurut Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok (CPCA), sebagaimana dilaporkan oleh Zhejiang Daily Online yang dikelola negara pada 31 Oktober.

Menurut analisis Nomura Securities memperkirakan penjualan mobil Tiongkok akan turun 7,5 persen pada kuartal keempat, dan volume penjualan tahunan akan turun 1,6 persen.

Penjualan yang buruk menjadikan persediaan menjadi lebih tinggi di antara para penjual mobil. Indeks Peringatan Inventaris Kendaraan terbaru, Vehicle Inventory Alert Index (VIA) yang diterbitkan oleh CPCA menunjukkan bahwa VIA pada bulan Oktober adalah 66,9 persen, peningkatan tahun-ke-tahun sebesar 17 persen dan tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Bulan tersebut, VIA melampaui ambang peringatan resmi.

Sementara itu, suku cadang mobil termasuk di antara daftar panjang impor Tiongkok yang Amerika Serikat telah terapkan tarif perdagangan sebagai hukuman terhadapnya. Para ahli memperkirakan bahwa ini akan menaikkan harga kendaraan otomatis yang diproduksi di Tiongkok. Rezim Tiongkok kemudian memberlakukan tarif pembalasan atas impor mobil AS.

Menurut para profesional industri, pasar mobil Tiongkok sedang mengalami krisis bahwasanya kebijakan-kebijakan istimewa pemerintah yang baru-baru ini dilaksanakan telah bekerja sedikit untuk meringankan.

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional telah mengusulkan pengurangan pajak pembelian pada mobil penumpang dari 10 hingga 5 persen untuk mempromosikan penjualan mobil baru, namun kebijakan tersebut belum secara resmi dijalankan.

Wu Zhoutao, wakil presiden BAIC Motor Co., LTD. dan manajer umum BAIC Motor Sales Co. LTD. di Beijing, mengatakan kepada Securities Daily pada 6 November bahwa dia percaya pengurangan pajak penjualan akan merangsang pasar mobil dalam jangka pendek sementara memiliki sedikit pengaruh untuk kepercayaan konsumen yang rendah dalam jangka panjang. Wu mengatakan bahwa pihak berwenang seharusnya membantu meningkatkan pendapatan pribadi dan perusahaan.

Menghadapi tekanan persediaan, dealer mobil telah mulai terlibat dalam perang harga. Banyak kendaraan baru yang mencoba meraih harga yang lebih rendah daripada mobil bekas, termasuk merek-merek mewah, surat kabar mingguan independen Tiongkok, Economic Observer telah melaporkan pada 6 November.

Penurunan harga tersebut telah mempengaruhi profitabilitas industri otomotif. Hanya 32,8 persen dari dealer mobil nasional menghasilkan keuntungan antara Januari hingga September tahun ini, sementara 40,5 persen dari dealer telah kehilangan uang, kata riset dan analisis laporan CPCA dari periode itu, Pengamat Ekonomi melaporkan pada 2 November.

Beijing Business Today melaporkan pada 5 November bahwa laporan laba kuartal ketiga JAC Motors, sebuah perusahaan mobil dan kendaraan komersial milik negara Tiongkok yang berbasis di Provinsi Anhui, menunjukkan total pendapatan operasi perusahaan dalam tiga kuartal pertama tahun ini sebagai 36,31 miliar yuan, meningkat 2,22 persen, tetapi laba bersih tahun-ke-tahun turun 78,13 persen. JAC Motors telah menerima 1,028 miliar yuan ($148,25) dari subsidi pemerintah, sebuah peningkatan 739 juta yuan dibanding periode yang sama tahun lalu.

Wu Zhoutao mengatakan berdasarkan situasi saat ini, produsen mobil telah memulai kompetisi sistem gugur untuk menentukan perusahaan mana yang akan tetap berada di pasar atau tersingkirkan. (ran)

Rekomendasi video:

Mampukah Tiongkok Bertahan 10 Tahun Perang Dagang Lawan Amerika?

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds