Ketika perang perdagangan Sino-AS meningkat tanpa tanda-tanda mereda setelah pemilu paruh waktu 2018 Amerika Serikat, Beijing mungkin sedang memberikan sinyal kesediaan untuk bekerja sama atas tuntutan-tuntutan perdagangan Amerika, dimana masalah utamanya adalah rencana Tiongkok untuk mendominasi manufaktur teknologi tinggi, atau “Made in China 2025.”

Pada 8 November, pemimpin Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger di Beijing. Selama pertemuan tersebut, Xi mengatakan kepada Kissinger bahwa “Amerika Serikat harus menghormati hak Tiongkok untuk berkembang di jalur yang dipilih oleh kami dan kepentingan-kepentingan kami yang layak.”

Xi juga menegaskan bahwa dia dan Presiden AS Donald Trump “akan melakukan diskusi mendalam mengenai isu-isu yang menjadi perhatian bersama” di Argentina selama KTT G20 yang akan diadakan pada 30 November dan 1 Desember.

“Tiongkok bersedia menyelesaikan masalah dalam hubungan bilateral dengan Amerika Serikat dengan mengadakan konsultasi yang bersahabat,” kata Xi. Dalam pernyataan-pernyataan yang dilaporkan oleh Xinhua yang dikelola oleh negara, Xi mengatakan kepada Kissinger bahwa Amerika Serikat “dan Tiongkok harus bergerak ke arah masa depan satu sama lain sambil mempertahankan perkembangan bilateral yang sehat dan stabil.”

Pada 7 November, sehari sebelum pertemuan Xi-Kissinger, Trump mengacu pada “Made in China 2025,” telah mengatakan pada konferensi pers setelah pemilu paruh waktu bahwa “Tiongkok telah menyingkirkan ‘China’25’-nya karena saya menemukannya sangat menghina.”

Rencana “Made in China 2025” diumumkan pada tahun 2015 oleh perdana menteri Li Keqiang. Tujuannya adalah untuk mengembangkan Tiongkok dari “negara manufaktur besar” menjadi “negara manufaktur yang kuat” pada tahun 2025, menempatkan penekanan khusus pada penelitian dan pengembangan di bidang teknologi dan sains negara.

Rencana tahun 2025 Tiongkok tersebut telah dikritik karena sebagian besar bergantung pada spionase industri terutama menargetkan Amerika Serikat dan Eropa.

Dengan dimulainya perang perdagangan Sino-AS yang dimulai musim semi ini, pemerintahan Trump telah berupaya lebih keras dalam memerangi pencurian kekayaan intelektual, sebuah masalah yang telah dikritik oleh Presiden Trump tentang Tiongkok dalam berbagai kesempatan.

Sejak awal perang dagang, yang telah menargetkan barang-barang ekspor Tiongkok senilai ratusan miliar dolar, Partai Komunis Tiongkok (PKT) rupanya telah menginstruksikan corong media di bawah kendalinya untuk meredam penyebutan “Made in China 2025.” Xinhua telah tidak menyebut istilah tersebut sejak 5 Juni.

Banyak pengamat Tiongkok mengatakan bahwa rezim Tiongkok belum menyerah dengan ambisinya, hanya telah menjadikannya tersembunyi.

Trump, bagaimanapun, percaya bahwa Tiongkok telah benar-benar membatalkan rencana tersebut karena tekanan ekonomi. “Jika Anda tahu, Tiongkok telah turun dengan luar biasa. Sangat luar biasa. Tiongkok akan menggantikan kita dalam dua tahun sebagai kekuatan ekonomi; sekarang, mereka bahkan tidak datang untuk berdamai,” katanya.

Xia Xiaoqiang, seorang komentator urusan Tiongkok, menulis dalam Epoch Times berbahasa Mandarin bahwa “satu-satunya kemungkinan adalah PKT berjanji kepada Trump bahwa ia akan menghentikan rencana tahun 2025.”

Xia percaya berdasarkan pidato baru-baru ini yang telah dibuat oleh wakil presiden Tiongkok Wang Qishan, “sangat mungkin PKT akan membuat kompromi dalam negosiasi AS-Tiongkok di masa depan.”

Wang berbicara pada 6 November di Forum Ekonomi Baru Bloomberg di Singapura, mengatakan bahwa kerja sama ekonomi dan perdagangan adalah pendorong fundamental dalam hubungan AS-Tiongkok yang sehat dan stabil, yang penting adalah saling menguntungkan. Tiongkok bersedia melakukan konsultasi dengan Amerika Serikat mengenai masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama, dan mendorong untuk mencapai rencana yang dapat diterima bersama mengenai ekonomi dan perdagangan, ungkapnya.

Di bawah pemerintahan Trump, Amerika Serikat telah mempertahankan tuntutan ekonomi pada Tiongkok, termasuk kepatuhan dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mengakhiri pelanggaran hak kekayaan intelektual Amerika, menghentikan tindakan proteksionis yang membatasi akses pasar ke Tiongkok, dan sejenisnya.

Trump telah marah dalam kritiknya, mengatakan, “kita telah melangkah maju. Mereka sudah turun. Dan saya tidak ingin mereka turun.”

Berbicara tentang tujuannya untuk KTT G20, Trump mengatakan, “kita akan mencoba dan membuat kesepakatan dengan Tiongkok karena saya ingin memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Xi, seperti yang saya lakukan, dan begitu juga dengan Tiongkok.” (ran)

Rekomendasi video:

Dilema Tiongkok Hadapi Dialog Dagang Amerika Serikat

Share

Video Popular