WASHINGTON – Pada Dialog Diplomatik dan Keamanan AS-Tiongkok yang diadakan di Departemen Luar Negeri pada 9 November, satu isu kunci yang tampaknya tidak pernah dibahas adalah penumpukan nuklir rezim Tiongkok.

Pada konferensi pers di akhir dialog tersebut, Menteri Luar Negeri Michael Pompeo, dalam menjawab pertanyaan tentang rencara AS menarik diri keluar dari perjanjian Traktat Angkatan Nuklir Jarak Menengah, Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INF) menyatakan, “Kami tidak menghabiskan waktu berbicara secara rinci tentang masalah itu hari ini,” tanpa komentar lebih lanjut. Penarikan diri AS sebagian terkait dengan penumpukan nuklir rezim Tiongkok tersebut.

Pemerintahan Trump telah mengumumkan niatnya bulan lalu untuk menarik diri dari INF, karena pelanggaran yang dilakukan oleh Rusia (setidaknya sejak tahun 2014) dan ketidakhadiran Tiongkok dalam perjanjian tersebut.

Dalam sambutannya kepada wartawan pada 20 Oktober, Presiden Donald Trump memberikan alasan untuk menarik diri: “Kecuali Rusia datang kepada kita dan Tiongkok datang kepada kita dan mereka semua datang kepada kita dan berkata, ‘Mari kita semua benar-benar menjadi pintar dan mari kita semua tidak ada yang mengembangkan senjata-senjata itu. ‘Tetapi jika Rusia melakukannya dan jika Tiongkok melakukannya dan kita tetap berpegang pada perjanjian tersebut, itu tidak dapat diterima.”

Pada 22 Oktober, Trump mengkritik perjanjian INF karena tidak menyertakan Tiongkok.

Media pemerintah yang dikelola negara, seperti Xinhua dan Global Times, serta media-media yang selaras dengan rezim, seperti Phoenix News Hong Kong, bereaksi keras terhadap pernyataan Trump tersebut. Banyak artikel mengeluarkan kata-kata yang sering diulang bahwa yang mempermasalahkan perjanjian tersebut akan membuka “pintu menuju neraka.”

Pada 22 Oktober, juru bicara urusan luar negeri Tiongkok Hua Chunying mengatakan pada konferensi pers reguler bahwa “itu benar-benar salah untuk membawa Tiongkok ketika berbicara tentang penarikan diri keluar dari perjanjian tersebut.” Pada 23 Oktober, dia menuduh Amerika Serikat “tidak masuk akal” dan “tidak dapat diterima” menggunakan Tiongkok sebagai alasan untuk mengakhiri perjanjian, dan meletakkan tanggung jawab pada Beijing.

INF, yang telah ditandatangani oleh presiden AS Ronald Reagan dengan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev pada tahun 1987, dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan di Eropa, yang, pada saat itu, terbagi menjadi kelompok-kelompok komunis dan non-komunis. Pakta tersebut telah menghapus ribuan rudal balistik jarak menengah (IRBMs) dari gudang senjata (arsenal) kedua negara adidaya tersebut.

Tidak terikat oleh perjanjian itu, Tiongkok telah membangun persenjataan nuklirnya. Sementara Tiongkok mengklaim memiliki hanya beberapa ratus hulu ledak, pengamat internasional memperkirakan bahwa ukuran sebenarnya bisa mencapai ribuan, menempatkannya setara dengan Amerika Serikat dan Rusia.

Setelah tidak membahas masalah penarikan AS dari INF “secara rinci,” seperti yang Pompeo telah pertimbangkan, meminta pertanyaan tentang kapan Amerika Serikat akan mengangkat masalah tersebut, karena pertemuan 9 November adalah “dalam persiapan untuk pertemuan mendatang antara kami dua pemimpin di G20.”

Tiongkok dapat menghadapi pengungkapan signifikan tentang gudang persenjataan nuklirnya, jika Amerika Serikat menekannya untuk masuk ke dalam perjanjian sejenis INF atau perjanjian kontrol senjata nuklir lainnya. Ini mencakup IRBM yang mungkin melanggar ketentuan-ketentuan INF.

INF termasuk metode pemeriksaan dan verifikasi, meskipun persyaratan perjanjian tersebut telah berakhir pada tahun 2001. Setiap perjanjian baru pasti akan mencakup peraturan pemantauan dan verifikasi yang telah diperbarui. Selain pembatasan pada rudal balistik, INF juga melarang rudal jelajah dengan kisaran 500 hingga 5.500 kilometer, di berbagai platform yang berpangkalan di darat, serta pada penelitian dan pengembangan senjata dalam kisaran yang ditentukan.

Direktur Kantor Urusan Luar Negeri Komisi Pusat Partai Komunis Tiongkok, Yang Jiechi, menanggapi dengan tegas terhadap keberatan AS terhadap konstruksi dan militerisasi rezim Tiongkok di kepulauan Laut China Selatan. Instalasi-instalasi ini mempersulit pengendalian senjata, karena mereka menyediakan tempat-tempat rudal balistik yang potensial atau pangkalan-pangkalan operasi untuk platform nuklir lainnya. (ran)

Rekomendasi video:

FBI Incar Peserta Program Spionase “Talenta Seribu” Tiongkok

Share

Video Popular