Erabaru.net. Ada sepasang saudara kembar, yang satu sangat periang, satunya lagi sangat pemurung.

Suatu hari, ayahnya telah membeli banyak sekali mainan baru dengan beraneka warna mencolok.

Anaknya yang pemurung dibiarkan bermain ditumpukan mainan itu. Sebaliknya si anak periang ditempatkan ke dalam kandang kuda yang penuh dengan kotoran. Sang ayah nampaknya ingin mengubah karakter kedua anak tersebut.

Keesokan paginya, sang ayah melihat si anak pemurung sedang menangis tersedu-sedu lantas bertanya: “Kenapa, apa tidak menyukai mainan baru itu?” Anak itu dengan lugu menjawab, “Kalau mainan kan bisa rusak.”

Sang ayah menghela napas, lantas melangkah masuk ke kandang kuda, ia menemukan si anak periang itu sedang bersemangat entah mengorek-ngorek apa dari kotoran kuda.

“Tahukah, papa, saya rasa di dalam tumpukan kotoran ini pasti tersembunyi seekor kuda kecil,” celoteh anak itu dengan bangganya

Sehari kemudian, sang ayah memberi kedua anak tersebut masing-masing minuman ½ botol, si anak pemurung tidak mau meminumnya, karena ia melihat hanya tinggal ½ botol saja. Sedang si anak periang mengangkatnya dengan gembira, “Sangat bagus! Masih ada ½ botol!”

Keduanya berbeda cara menyikapi kehidupan, satu anak adalah periang, yang lainnya pemurung. Ini telah menunjukkan sifat perbedaan dari cara berpikir umat manusia, yakni membagi segala hal menjadi dua sisi yang saling bertentangan, misalnya periang dan pemurung, memuji satu sisi, menghujat sisi lainnya.

Manusia yang bersikap periang atau optimis, pada setiap situasi dan kondisi yang runyam kebanyakan akan menemukan peluang, sedangkan manusia yang bersikap pemurung atau pesimis, pada setiap peluang malah melihat sikon yang runyam.

Ini dikarenakan dalam setiap optimisme kebanyakan terdapat bagian yang pesimis, dalam setiap pesimisme juga terdapat bagian dari optimisme, segala hal adalah berpadanan, hanya melihat manusianya mau berdiri di sisi yang mana.

Persoalannya, optimisme bisa membawa harapan kepada manusia, dapat membuat suasana hati manusia bergembira, dapat membuat manusia mengenali peluang, kenapa kita menolak optimisme? Kenapa senantiasa mau melihat sisi yang sangat runyam dari suatu permasalahan, sisi yang putus asa?

Bunga untuk yang Hidup

Ada seorang penjaga makam yang setiap minggu menerima surat dari seorang wanita yang tak dikenalnya, di dalam surat itu terselip uang, untuk membeli seikat bunga segar untuk diletakkan pada pusara putranya. Hal tersebut berjalan cukup lama hingga akirnya pada suatu hari, penjaga makam ini telah menjumpai wanita tua tersebut. Ia duduk di dalam mobil, si sopir bergegas masuk ke rumah kecil penjaga makam itu, bilang: “Nyonya sakit sampai tidak bisa jalan, silakan anda menemuinya sebentar”.

Seorang wanita tua yang lemah duduk di dalam mobil, sedikit anggun, namun sorot matanya sudah meredup karena kesedihan, dalam pangkuannya terletak seikat besar bunga segar. “Saya adalah Ny. Adam, beberapa tahun ini saya setiap minggu mengirimi anda uang.…”, ucap nyonya itu lirih. “Untuk membeli bunga, kan?” kata si penjaga makam nyeletuk.

Langsung Ny. Adam mengiyakan, “Betul, untuk putraku”. “Saya setiap kali tidak lupa menaruh bunga, nyonya,” ujar penjaga makam. “Hari ini saya datang sendiri”, kata Ny. Adam lirih. Lalu lanjutnya: “Karena dokter bilang saya sudah tidak bisa hidup dalam beberapa minggu lagi. Mati malah lebih baik, hidup juga tidak berarti. Sekarang saya hanya ingin melihat sekilas putra saya, dan meletakkan sendiri bunga-bunga ini.”

Si penjaga makam berkata, “Nyonya, beberapa tahun ini anda selalu kirim uang untuk beli bunga, saya selalu merasa sangat menyayangkan.”

Ny. Adam bergumam, “Menyayangkan?” Sedang penjaga makam itu melanjutkan dengan polosnya, “Nyonya, kalau bunga diletakkan di sana, beberapa hari juga sudah kering, tiada orang yang menciumnya, tiada orang yang melihatnya, betul-betul sangat sayang.”

Ny. Adam kaget dibuatnya, “Anda sungguh berpikir demikian?” Si penjaga makam memastikan, “Betul nyonya, mohon mengerti. Saya sendiri sering ke rumah sakit, panti asuhan, orang-orang di sanalah yang menyukai bunga. Di sana semuanya orang hidup, akan tetapi di makam ini mana ada yang hidup?” Wanita tua itu tidak menjawab, dia masih duduk lagi sejenak lantas pergi.

Si penjaga makam menyesali perkataannya yang terlalu terus terang, sangat kurang pertimbangan, ia kuatir nyonya yang kehilangan anaknya itu tidak tahan karenanya.

Setelah lewat beberapa bulan, wanita tua ini tiba-tiba datang menjenguknya lagi dengan tampilan yang jauh berbeda, membuat si penjaga makam terperangah. Kali ini dia mengendarai sendiri mobilnya.

“Saya memberikan bunga-bunga kepada orang-orang di sana,” katanya dengan ramahnya tersenyum kepada si penjaga makam.

Lalu lanjutnya, “Perkataan anda betul, mereka begitu melihat bunga sangat gembira, ini betul-betul membuat saya bersemangat. Penyakit saya telah sembuh, dokter tidak paham apa yang terjadi, tetapi saya sendiri paham betul, saya merasa hidup ini masih ada gunanya.”

Memilih Periang

Wanita dalam cerita di atas, berawal dari kepedihan terhadap anaknya yang meninggal kemudian peduli terhadap sesama yang masih hidup.

Dari kejenuhan karena pesimisme ke cinta kehidupan karena optimisme, dari merasa diri sendiri tidak berguna sampai dia merasa berguna. Ia telah mengalami proses perubahan dari pasif ke aktif. Ini adalah dari satu sisi pesimisme berubah ke sisi lainnya yakni optimisme, saat itulah kehidupan dengan seketika berubah menjadi begitu indah, penyakit pun lenyap tanpa bekas.

Di dalam kehidupan, anda memilih sisi yang mana, adalah sangat penting. Sikap anda menentukan segalanya. Sebagian orang selalu bercermin sambil berpikir; saya sudah tua. Begitu orang merasa telah tua, maka ia telah memilih satu sisi yang tua ini, konsep telah tua ini bisa mempercepat ketuaannya. Ini adalah niat pikiran yang sangat tidak baik. Anda mestinya memilih sisi lainnya yaitu muda, memompakan konsep muda, dengan demikian barulah anda dapat memperlambat ketuaan.

Sebagian besar orang sedang mengejar kebahagiaan yang bersyarat, telah memilih sisi yang tergantung kepada syarat, akhirnya kebahagiaan telah dibatasi oleh persyaratan. Sebaliknya apabila berdiri pada sisi tanpa syarat, tidak tergantung pada persyaratan, akhirnya malah memperoleh kebahagiaan.

Khususnya manusia pada saat sakit berat, ia selalu beranggapan diri sendiri tidak dapat hidup lebih lama lagi, larut dalam penderitaan dan kecemasan. Keadaan ini tentu bisa memperparah sakitnya.

Mengapa tidak memilih bagian yang periang? Ia dapat memberikan harapan hidup, dapat secara optimal menggerakkan kemampuan aktif dari badan untuk menyembuhkan penyakit. (Yhon/asr)

Sumber : Epochtimes.com

Share

Video Popular