Di antara sasaran yang ditetapkan dalam agenda nasional Beijing, seperti kebijakan “Made in China 2025”, adalah untuk menopang sektor manufaktur teknologi negara dan memajukan reputasi Tiongkok sebagai sebuah kekuatan berteknologi tinggi.

Namun, sektor yang sangat banyak teknologi ini, yang memasok dunia dengan gadget elektronik, saat ini menghadapi masalah serius tentang bunuh diri para karyawan. Sebagian besar kesalahan terletak pada rezim Tiongkok, menurut sebuah penelitian baru-baru ini.

Lembaga Hak Asasi Ekonomi (Economic Rights Institute – ERI) yang berpusat di Hong Kong dan Electronics Watch, sebuah organisasi pemantau independen untuk hak-hak buruh, bersama-sama telah menerbitkan sebuah studi tentang hubungan antara kondisi kerja dan bunuh diri di sector-sektor elektronik Tiongkok pada 14 November.

Studi ini meneliti 167 kasus percobaan atau bunuh diri yang dilakukan berdasarkan sumber internet sejak tahun 2010. Selain itu, penelitian ini melakukan survei dengan 5.592 karyawan dari 44 perusahaan elektronik Tiongkok, dan mewawancarai 252 karyawan dari empat perusahaan Tiongkok.

Studi tersebut menemukan beberapa faktor yang berkontribusi termasuk para pengusaha mengabaikan tanda-tanda stres karyawan, menggunakan hukuman untuk menegakkan persyaratan produktivitas, dan menolak memberikan bonus karyawan yang dijanjikan ketika mereka pertama kali direkrut. Selain itu, studi ini menemukan bahwa para pengusaha sering menggunakan paksaan untuk menjaga karyawan dalam siklus kerja berulang yang berulang-ulang untuk 80 jam atau lebih per minggu, termasuk memaksa lembur, menahan pendapatan agar karyawan tidak mengundurkan diri, menolak permintaan cuti, serta mendenda karyawan untuk pekerjaan yang tidak selesai.

Para pengusaha ini bertanggung jawab atas bunuh diri di perusahaan mereka, kata laporan tersebut.

“Karyawan bunuh diri di sektor elektronik Tiongkok mencerminkan penindasan terhadap suara kolektif para pekerja,” kata Dimitri Kessler, direktur ERI dan salah satu penulis studi tersebut, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di situs web Electronics Watch.

Studi menunjukkan puncak dalam jumlah kasus bunuh diri pada tahun 2010, yang paling menonjol dengan satu perusahaan Tiongkok, hanya diidentifikasi sebagai “Pemasok F,” yang telah menyaksikan “bunuh diri berantai.” Sejak saat itu, jumlah kasus bunuh diri yang dilaporkan di Tiongkok telah menurun, kata laporan.

Namun penulis laporan tersebut tidak percaya bahwa penurunan kasus bunuh diri yang dilaporkan adalah “benar-benar karena lebih sedikit insiden bunuh diri karyawan. Mungkin pemerintah menjadi khawatir… ini memicu kontrol yang lebih ketat tentang pemberitaan kasus bunuh diri secara publik.”

Meskipun studi ini tidak mengidentifikasi “Pemasok F”, banyak referensi yang memastikan bahwa ia adalah, sebenarnya, pemasok Apple Foxconn. Pada tahun 2010, setidaknya 14 karyawan Foxconn meninggal dalam kasus bunuh diri yang jelas yang terkait dengan kondisi kerja yang sulit.

Penelitian tersebut menjelaskan bagaimana ketatnya sensor Beijing terhadap berita tentang bunuh diri yang sebenarnya mengacaukan upaya-upaya apa pun untuk mengurangi bunuh diri.

“Penyensoran merusak solusi-solusi lebih dalam ketika ia memungkinkan para pengusaha untuk menghindari tanggungjawab atas kelalaian yang secara langsung berkontribusi terhadap bunuh diri tersebut. Dan ia mencegah pemantauan dan analisis frekuensi serta evolusi bunuh diri yang lebih efektif yang dapat berkontribusi pada upaya-upaya pencegahan,” kata studi tersebut.

Ini bukan hanya insiden bunuh diri yang disensor. Studi tersebut menemukan bahwa cerita-cerita online tentang korban bunuh diri, seperti kritik terhadap majikan, atau kekejaman polisi dan kecurigaan kesalahan perusahaan, kadang-kadang dihapus oleh sensor internet. Penyensoran semacam itu menghambat kemungkinan pemantauan independen yang dapat “menekan pengusaha untuk menghormati norma-norma dan persyaratan yang masuk akal dalam tanggapan mereka terhadap bunuh diri,” menurut penelitian.

Korban bunuh diri dan keluarga korban bunuh diri juga dirugikan ketika memperjuangkan hak mereka, mengingat bahwa pengusaha di Tiongkok telah diketahui berkolusi dengan polisi setempat.

Dalam satu insiden pada November 2014, menurut laporan, seorang karyawan yang tidak diketahui namanya telah dijebloskan ke penjara oleh polisi setempat, dituduh mengganggu ketertiban di tempat kerjanya, setelah ia mengancam akan melompat dari jendela lantai dua karena penghasilan yang dipotong.

Pada April 2013, seorang karyawan di sebuah pabrik milik perusahaan semikonduktor ASM berbasis di Hong Kong, yang terletak di pusat manufaktur Shenzhen di Tiongkok selatan, meninggal dua hari setelah ia dan pekerja-pekerjanya mengorganisir pemogokan terhadap keputusan perusahaan untuk pindah dari Shenzhen.

Polisi setempat melaporkan kematiannya sebagai bunuh diri, meskipun anggota keluarga pria tersebut mengungkapkan kekhawatiran bahwa “majikan dan polisi menggunakan kedok bunuh diri untuk menyembunyikan pembunuhan terkait dengan pemogokan tersebut,” ungkap penelitian tersebut. (ran)

Ikuti Frank di Twitter: @HwaiDer

Rekomendasi video:

Siswa siswa SMA di Tiongkok Mencoba Bunuh Diri, Gegara Wabah TBC yang Diabaikan

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds