Mengadu Pada Kedubes RRT Sama Saja Melempar Batu Ke Dalam Lautan

Investigasi PBB memperkirakan sebanyak 1 juta jiwa suku Uighur disekap PKT di kamp tawanan rahasia di Xinjiang. Ormas HAM internasional mengecam RRT sedang melakukan gerakan genosida budaya dan ras terhadap masyarakat suku Uighur.

“Kami membantu mereka mengadu pada PBB, pada kantor presiden Kazakhstan, dan Kemenlu Kazakhstan”, demikian tutur pendiri ‘Atazhurt’ yakni Serikjan Bilash, “Kami lupakan mengirim surat kepada Kedubes RRT di Kazakhstan, karena bersurat kepada mereka akan seperti batu yang dilemparkan kedalam lautan.” Bilash juga pernah membawa berpeti-peti surat pengaduan dari keluarga para tawanan yang dipenjara ke Kedubes RRT, namun staf Kedubes menolak menerimanya.

Karena ada kepentingan PKT, pemerintah Kazakhstan ikut menghalangi misi Bilash. “Saya sudah menerima empat kali surat peringatan dari pemerintah Kazakhstan, meminta saya untuk menghentikan pekerjaan ini”, demikian kata Bilash.

Ia berkata, Kazakhstan dan sebagian besar pemerintahan negara muslim lainnya di Asia Tengah karena mendapat investasi dari RRT, semua tidak bersedia menyuarakan keadilan bagi masyarakat yang disekap di Xinjiang.

“Mereka bungkam akan hal ini karena mereka butuh uang dari PKT, mereka telah menjual agama kepercayaannya. Mereka tidak mau surga, yang mereka inginkan hanya mata uang RMB”, demikian kata Bilash.

Daftar Penilaian Teror PKT

Kepala Layanan Bahasa Uighur Alim Seytoff dari Stasiun TV Asia Freedom yang disponsori oleh pemerintah AS menyatakan, pihaknya mengandalkan memiliki sejumlah nara sumber di Xinjiang, sehingga mereka bisa memberitakan perkembangan terbaru dari wilayah tersebut. Bersama koleganya pada bulan April 2017 silam mereka baru mengetahui bahwa RRT telah mendirikan “kamp pembinaan ulang” di Xinjiang.

 “Ini sangat mengejutkan”, kenang Seytoff, “Banyak sekali orang yang ditangkap dari berbagai kota dan daerah, bukan karena mereka melakukan kejahatan, melainkan karena memelihara jenggot atau beberapa tahun lalu pernah memelihara jenggot; atau karena istrinya beberapa tahun silam mengenakan hijab; atau karena sebagian orang berkumpul dan membahas soal agama dan semacamnya.”

Seytoff mengatakan, timnya pernah mewawancarai sejumlah orang Uighur, mereka dipanggil oleh pemerintah RRT untuk mengisi formulir penilaian potensi ancaman yang dapat mereka timbulkan bagi pemerintah RRT.

Penilaian itu berskala 100 poin sebagai nilai tertinggi. “Jika Anda adalah seorang Uighur, dengan sendirinya telah hilang 10 poin, jika Anda sholat dipotong lagi 10 poin, jika Anda pergi ke luar negeri dipotong lagi 10 poin, jika Anda punya sanak saudara di luar negeri dipotong lagi 10 poin. Jika Anda hanya mendapat 50 poin atau kurang, maka Anda tidak aman, dan Anda harus masuk ke dalam kamp pembinaan ulang.”

Setelah sempat beberapa bulan menyangkal keberadaan “kamp pembinaan ulang”, Beijing tiba-tiba mengklarifikasi membela diri lewat media massa corongnya yakni kantor berita Xinhua, bahwa didirikannya “kamp pembinaan ulang” ini adalah untuk pelatihan profesi bagi masyarakat suku Uighur, mereka telah menyadari ternyata “kehidupan ini begitu penuh warna”.

Organisasi HAM berpendapat, propaganda PKT itu hanya omong kosong. Selama ini PKT terus berupaya membentuk “orang baru” yang tidak bisa dipengaruhi lagi oleh agama.

Peneliti bernama Adrian Zenz mengatakan, “Oleh karenanya, pada tingkat tertentu, mereka harus percaya bahwa metode untuk mendidik kembali dan mengubah seseorang itu efektif, karena jika mereka tidak melakukannya, mereka pada dasarnya mau tidak mau harus mengakui bahwa agama kepercayaan dan sejenisnya jauh lebih kuat daripada kepercayaan terhadap paham komunis.”

Share

Video Popular