“Akan Kuhancurkan Keluargamu”

Di stasiun TV Asia Freedom, reporter Shohret Hoshur menyiarkan dalam bahasa Uighur. Tim kerjanya telah banyak berkorban demi terlaksananya pekerjaan ini: ia berikut lima orang koleganya memiliki sanak keluarga yang sedang ditahan oleh PKT.

Ketika sejumlah keluarga Hoshur dibawa pergi oleh PKT, ia menelepon Kepala Kantor Polisi di kampung halaman di Xinjiang.

Hoshur berkata, “Begitu ia (kepala polisi itu) menerima telepon saya, ia langsung bisa mengenali suara saya, dan berkata, ‘jangan menelepon ke nomor ini lagi, jika tidak, aku akan hancurkan semua keluargamu’. Dan empat bulan setelah itu, dua orang saudara saya ditangkap.”

Hoshur berkata, di antara keluarganya yang ditangkap, ada 8 orang di antaranya terkait akibat pekerjaan yang dilakukannya. Ibunya yang berusia 78 tahun pun ditangkap. Saat ibunya ditangkap di bulan April lalu polisi mengatakan dirinya mempunyai “masalah ideologi”.

Di stasiun TV Asia Freedom edisi berbahasa Uighur, tim kerja dari reporter Shohret Hoshur telah banyak berkorban demi terlaksananya pekerjaan mereka. Ia berikut 5 orang koleganya memiliki sanak keluarga yang sedang ditahan oleh PKT. Foto adalah reporter dari stasiun TV Asia Freedom Shohret Hoshur. (Nicholas Kamm/AFP/Getty Images)

Hoshur menyatakan, ia merasa dirinya wajib memberitakan kejadian ini. “Begitu banyak orang berani mengatakan fakta, agar dunia tahu apa yang sedang terjadi di penjara Xinjiang. Bagi masyarakat Barat, terjadi peristiwa seperti ini pada zaman sekarang ini sungguh sulit dipercaya.”

“Saya Pernah Merasa Bangga Karena Lahir di Tiongkok”

Tekanan dari PKT tidak mampu mencegah orang-orang yang kehilangan kerabatnya untuk mencari keberadaan mereka. Di kantor “Atazhurt” seorang anak perempuan Uighur berusia 15 tahun mengatakan, ibunya yang kedapatan oleh pemerintah pergi ke Kazakhstan bersama ayahnya, pada bulan Maret lalu telah ditangkap.

Dia berkata, berkali-kali ia menelepon polisi di kampung halamannya tapi tidak membawa hasil.

“Sungguh mengerikan, saya mendengar orang-orang di dalam tahanan dipaksa untuk makan daging babi dan minum miras, tujuannya untuk menghancurkan agama kepercayaan mereka. Dan setiap kali sebelum makan mereka dipaksa memuja PKT dan berterima kasih pada PKT. Saya merasa memaksa orang melakukan hal seperti itu sangat tidak berperikemanusiaan.”

Dia berkata, “Saya sangat mencintai negeri Tiongkok, disanalah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Saya tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini. Saya pernah merasa bangga karena dilahirkan di Tiongkok. Saya selalu memberitahu setiap orang bahwa saya adalah orang Tiongkok. Tapi sekarang, saya tidak tahu harus berkata apa.”

Penindasan HAM di Xinjiang Jadi Sorotan Amerika

Tindakan meneror Xinjiang oleh pemerintah PKT telah menjadi sorotan pemerintah Amerika. Senator AS Rubio menghimbau, Amerika seharusnya menggunakan “The Global Magnitsky Human Rights Accountability Act” memberi sanksi pada Chen Quanguo selaku Sekjend Partai Wilayah Uighur Xinjiang sekaligus merangkap anggota Komisi Politbiro PKT

Sebelumnya surat kabar “New York Times” memberitakan, Gedung Putih sedang mempertimbangkan pemberian sanksi.

Saat Kongres AS meminta Menlu Pompeo dan Menkeu Mnuchin untuk mengambil tindakan, hal ini menjadi samakin mendesak. Jika AS menerapkan sanksi ekonomi bagi pelaku penindasan HAM, maka akan menjadi tindakan pertama yang diawali oleh pemerintahan Trump. AS juga akan memberlakukan pembatasan penjualan teknologi pengawasan kepada RRT.

Beijing memanfaatkan teknologi tersebut untuk melacak dan juga mengawasi kaum muslim. Saat ini masih tidak bisa dipastikan bila sanksi baru itu akan diumumkan, mungkin masih harus melalui proses pertimbangan berbagai departemen pemerintahan.

Di bawah wewenang Chen Quanguo wilayah Xinjiang berada dalam pengawasan ketat. Dimana-mana terdapat CCTV pengawas, yang dapat memantau setiap sudut kota. Di tiap beberapa ruas jalan terdapat sebuah pos polisi. Acap kali polisi memeriksa kartu identitas masyarakat yang lalu lalang.

Di saat yang sama, sejumlah pejabat dari suku Uighur di Xinjiang juga mulai diminta untuk menulis “surat pernyataan kesetiaan”, yang menyatakan mereka akan setia mempertahankan kebijakan dan kekuasaan PKT di Xinjiang. Dan surat pernyataan kesetiaan mereka bahkan dipublikasikan oleh PKT di media massa. (SUD/WHS/asr)

Artikel Ini Terbit di Epochtimes versi Bahasa Indonesia Edisi 579

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular