- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Derita di Balik Layar Kamp Konsentrasi Muslim Uighur di Xinjiang, Tiongkok

Zhang Ting – Epochtimes.com

Saya sangat cinta negeri Tiongkok, Tiongkok adalah tempat saya lahir dan dibesarkan. Tak pernah terbayangkan Tiongkok akan menjadi seperti ini. Dulu saya merasa bangga lahir dan besar di Tiongkok. Tapi sekarang saya tidak tahu harus bagaimana.” Begitulah kata seorang anak perempuan etnis Uighur berusia 15 tahun yang tengah mencari ibunya yang hilang.

Radio Publik Nasional (NPR) AS pada tanggal 12 November lalu memberitakan hasil investigasi, yang memuat banyak wawancara yang mengungkap kondisi sebenarnya yang dialami masyarakat Uighur di wilayah Xinjiang RRT.

Artikel itu juga mengungkap sistem penilaian teror yang diberlakukan Komunis Tiongkok di wilayah Xinjiang.

Bagi orang-orang yang dicermati akan dipotong nilainya karena berbagai alasan bahkan ditahan, dan acapkali alasan itu sulit dinalar oleh akal sehat.

Selain itu juga diungkap bahwa para tawanan Uighur di Kamp Pembinaan Ulang Xinjiang dipaksa makan daging babi dan menenggak miras untuk menodai agamanya, bahkan sebelum makan mereka dipaksa berterima kasih pada partai (komunis).

[1]
Xinjiang dituduh menjadi penjara besar dan sejumlah besar orang ditempatkan di kamp konsentrasi “transformasi pendidikan”. (Kevin Frayer/Getty Images)

Wanita 64 Tahun Ungkap Hilangnya Putra dan Menantunya

Sebuah kantor kecil yang terletak di pusat kota Almaty, Kazakhstan, sesak dipenuhi dengan tamu yang kelelahan, mereka semua membawa foto ibu, ayah, putra atau putrinya yang hilang.

Setiap pagi kantor ini berbaris antrian menunggu staf pekerjanya memasukkan data orang yang hilang ke dalam gudang arsip.

Seorang ibu bernama Kalida Akytkhan (64) menempuh perjalanan jauh sepanjang 300 mil sampai ke kantor ini, dengan harapan dapat menemukan dua orang putranya.

“Menantu saya menelepon, mengatakan putra saya sudah dibawa pergi. Keesokan harinya menantu saya yang lain juga menelepon, mengatakan putra saya yang lain juga telah dibawa pergi,” begitu kata Akytkhan.

Akytkhan lahir dan besar di Tiongkok, kemudian pindah ke Kazakhstan, dan telah mendapat kewarganegaraan di sana.

Dua orang putranya tetap berdiam di Tiongkok, dan memiliki kewarganegaraan RRT. Dan sekarang kedua putranya telah ditahan oleh RRT karena menjenguk orangtua yang berada di Kazakhstan.

“Saya menelepon ke kepala desa yang mengatakan akan mencatat peristiwa yang menimpa keluarga kami ini”, kata Akytkhan menambahkan, “Tapi sejak saat itu, kedua menantu saya pun ikut menghilang.”

Dua keluarga yang hancur ini meninggalkan 14 orang anak yang berusia antara 3 – 15 tahun. Akytkhan sama sekali tidak tahu ada dimana semua anak-anak itu, dan siapa yang merawat mereka.

Dia berkata, tekanan akibat tak tahu keberadaan sanak keluarganya seperti ini telah membuat suaminya jatuh sakit, beberapa hari sebelum ia datang ke kantor itu, suaminya telah meninggal dunia.

Sambil terisak Akytkhan berkata, suaminya mati penasaran karena tidak tahu keberadaan putra dan cucu-cucunya itu. “Suami saya tidak bisa makan dan minum, kian hari kian lemah, ia terus bertanya kemana anak-anak dan cucunya.”

Dalam setahun terakhir, organisasi HAM Kazakhstan yang bernama “Atazhurt” ini telah menerima pengaduan dari 1000 orang lebih etnis Kazakhstan dan etnis Uighur, mereka semua mengalami kehilangan sanak keluarganya yang telah ditawan di kamp tawanan di Xinjiang yang terletak ratusan mil jauhnya di Tiongkok.

Mengadu Pada Kedubes RRT Sama Saja Melempar Batu Ke Dalam Lautan

Investigasi PBB memperkirakan sebanyak 1 juta jiwa suku Uighur disekap PKT di kamp tawanan rahasia di Xinjiang. Ormas HAM internasional mengecam RRT sedang melakukan gerakan genosida budaya dan ras terhadap masyarakat suku Uighur.

“Kami membantu mereka mengadu pada PBB, pada kantor presiden Kazakhstan, dan Kemenlu Kazakhstan”, demikian tutur pendiri ‘Atazhurt’ yakni Serikjan Bilash, “Kami lupakan mengirim surat kepada Kedubes RRT di Kazakhstan, karena bersurat kepada mereka akan seperti batu yang dilemparkan kedalam lautan.” Bilash juga pernah membawa berpeti-peti surat pengaduan dari keluarga para tawanan yang dipenjara ke Kedubes RRT, namun staf Kedubes menolak menerimanya.

Karena ada kepentingan PKT, pemerintah Kazakhstan ikut menghalangi misi Bilash. “Saya sudah menerima empat kali surat peringatan dari pemerintah Kazakhstan, meminta saya untuk menghentikan pekerjaan ini”, demikian kata Bilash.

Ia berkata, Kazakhstan dan sebagian besar pemerintahan negara muslim lainnya di Asia Tengah karena mendapat investasi dari RRT, semua tidak bersedia menyuarakan keadilan bagi masyarakat yang disekap di Xinjiang.

“Mereka bungkam akan hal ini karena mereka butuh uang dari PKT, mereka telah menjual agama kepercayaannya. Mereka tidak mau surga, yang mereka inginkan hanya mata uang RMB”, demikian kata Bilash.

Daftar Penilaian Teror PKT

Kepala Layanan Bahasa Uighur Alim Seytoff dari Stasiun TV Asia Freedom yang disponsori oleh pemerintah AS menyatakan, pihaknya mengandalkan memiliki sejumlah nara sumber di Xinjiang, sehingga mereka bisa memberitakan perkembangan terbaru dari wilayah tersebut. Bersama koleganya pada bulan April 2017 silam mereka baru mengetahui bahwa RRT telah mendirikan “kamp pembinaan ulang” di Xinjiang.

 “Ini sangat mengejutkan”, kenang Seytoff, “Banyak sekali orang yang ditangkap dari berbagai kota dan daerah, bukan karena mereka melakukan kejahatan, melainkan karena memelihara jenggot atau beberapa tahun lalu pernah memelihara jenggot; atau karena istrinya beberapa tahun silam mengenakan hijab; atau karena sebagian orang berkumpul dan membahas soal agama dan semacamnya.”

Seytoff mengatakan, timnya pernah mewawancarai sejumlah orang Uighur, mereka dipanggil oleh pemerintah RRT untuk mengisi formulir penilaian potensi ancaman yang dapat mereka timbulkan bagi pemerintah RRT.

Penilaian itu berskala 100 poin sebagai nilai tertinggi. “Jika Anda adalah seorang Uighur, dengan sendirinya telah hilang 10 poin, jika Anda sholat dipotong lagi 10 poin, jika Anda pergi ke luar negeri dipotong lagi 10 poin, jika Anda punya sanak saudara di luar negeri dipotong lagi 10 poin. Jika Anda hanya mendapat 50 poin atau kurang, maka Anda tidak aman, dan Anda harus masuk ke dalam kamp pembinaan ulang.”

Setelah sempat beberapa bulan menyangkal keberadaan “kamp pembinaan ulang”, Beijing tiba-tiba mengklarifikasi membela diri lewat media massa corongnya yakni kantor berita Xinhua, bahwa didirikannya “kamp pembinaan ulang” ini adalah untuk pelatihan profesi bagi masyarakat suku Uighur, mereka telah menyadari ternyata “kehidupan ini begitu penuh warna”.

Organisasi HAM berpendapat, propaganda PKT itu hanya omong kosong. Selama ini PKT terus berupaya membentuk “orang baru” yang tidak bisa dipengaruhi lagi oleh agama.

Peneliti bernama Adrian Zenz mengatakan, “Oleh karenanya, pada tingkat tertentu, mereka harus percaya bahwa metode untuk mendidik kembali dan mengubah seseorang itu efektif, karena jika mereka tidak melakukannya, mereka pada dasarnya mau tidak mau harus mengakui bahwa agama kepercayaan dan sejenisnya jauh lebih kuat daripada kepercayaan terhadap paham komunis.”

 “Akan Kuhancurkan Keluargamu”

Di stasiun TV Asia Freedom, reporter Shohret Hoshur menyiarkan dalam bahasa Uighur. Tim kerjanya telah banyak berkorban demi terlaksananya pekerjaan ini: ia berikut lima orang koleganya memiliki sanak keluarga yang sedang ditahan oleh PKT.

Ketika sejumlah keluarga Hoshur dibawa pergi oleh PKT, ia menelepon Kepala Kantor Polisi di kampung halaman di Xinjiang.

Hoshur berkata, “Begitu ia (kepala polisi itu) menerima telepon saya, ia langsung bisa mengenali suara saya, dan berkata, ‘jangan menelepon ke nomor ini lagi, jika tidak, aku akan hancurkan semua keluargamu’. Dan empat bulan setelah itu, dua orang saudara saya ditangkap.”

Hoshur berkata, di antara keluarganya yang ditangkap, ada 8 orang di antaranya terkait akibat pekerjaan yang dilakukannya. Ibunya yang berusia 78 tahun pun ditangkap. Saat ibunya ditangkap di bulan April lalu polisi mengatakan dirinya mempunyai “masalah ideologi”.

[2]
Di stasiun TV Asia Freedom edisi berbahasa Uighur, tim kerja dari reporter Shohret Hoshur telah banyak berkorban demi terlaksananya pekerjaan mereka. Ia berikut 5 orang koleganya memiliki sanak keluarga yang sedang ditahan oleh PKT. Foto adalah reporter dari stasiun TV Asia Freedom Shohret Hoshur. (Nicholas Kamm/AFP/Getty Images)

Hoshur menyatakan, ia merasa dirinya wajib memberitakan kejadian ini. “Begitu banyak orang berani mengatakan fakta, agar dunia tahu apa yang sedang terjadi di penjara Xinjiang. Bagi masyarakat Barat, terjadi peristiwa seperti ini pada zaman sekarang ini sungguh sulit dipercaya.”

“Saya Pernah Merasa Bangga Karena Lahir di Tiongkok”

Tekanan dari PKT tidak mampu mencegah orang-orang yang kehilangan kerabatnya untuk mencari keberadaan mereka. Di kantor “Atazhurt” seorang anak perempuan Uighur berusia 15 tahun mengatakan, ibunya yang kedapatan oleh pemerintah pergi ke Kazakhstan bersama ayahnya, pada bulan Maret lalu telah ditangkap.

Dia berkata, berkali-kali ia menelepon polisi di kampung halamannya tapi tidak membawa hasil.

“Sungguh mengerikan, saya mendengar orang-orang di dalam tahanan dipaksa untuk makan daging babi dan minum miras, tujuannya untuk menghancurkan agama kepercayaan mereka. Dan setiap kali sebelum makan mereka dipaksa memuja PKT dan berterima kasih pada PKT. Saya merasa memaksa orang melakukan hal seperti itu sangat tidak berperikemanusiaan.”

Dia berkata, “Saya sangat mencintai negeri Tiongkok, disanalah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Saya tidak pernah menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini. Saya pernah merasa bangga karena dilahirkan di Tiongkok. Saya selalu memberitahu setiap orang bahwa saya adalah orang Tiongkok. Tapi sekarang, saya tidak tahu harus berkata apa.”

Penindasan HAM di Xinjiang Jadi Sorotan Amerika

Tindakan meneror Xinjiang oleh pemerintah PKT telah menjadi sorotan pemerintah Amerika. Senator AS Rubio menghimbau, Amerika seharusnya menggunakan “The Global Magnitsky Human Rights Accountability Act” memberi sanksi pada Chen Quanguo selaku Sekjend Partai Wilayah Uighur Xinjiang sekaligus merangkap anggota Komisi Politbiro PKT

Sebelumnya surat kabar “New York Times” memberitakan, Gedung Putih sedang mempertimbangkan pemberian sanksi.

Saat Kongres AS meminta Menlu Pompeo dan Menkeu Mnuchin untuk mengambil tindakan, hal ini menjadi samakin mendesak. Jika AS menerapkan sanksi ekonomi bagi pelaku penindasan HAM, maka akan menjadi tindakan pertama yang diawali oleh pemerintahan Trump. AS juga akan memberlakukan pembatasan penjualan teknologi pengawasan kepada RRT.

Beijing memanfaatkan teknologi tersebut untuk melacak dan juga mengawasi kaum muslim. Saat ini masih tidak bisa dipastikan bila sanksi baru itu akan diumumkan, mungkin masih harus melalui proses pertimbangan berbagai departemen pemerintahan.

Di bawah wewenang Chen Quanguo wilayah Xinjiang berada dalam pengawasan ketat. Dimana-mana terdapat CCTV pengawas, yang dapat memantau setiap sudut kota. Di tiap beberapa ruas jalan terdapat sebuah pos polisi. Acap kali polisi memeriksa kartu identitas masyarakat yang lalu lalang.

Di saat yang sama, sejumlah pejabat dari suku Uighur di Xinjiang juga mulai diminta untuk menulis “surat pernyataan kesetiaan”, yang menyatakan mereka akan setia mempertahankan kebijakan dan kekuasaan PKT di Xinjiang. Dan surat pernyataan kesetiaan mereka bahkan dipublikasikan oleh PKT di media massa. (SUD/WHS/asr)

Artikel Ini Terbit di Epochtimes versi Bahasa Indonesia Edisi 579

Video Rekomendasi :