Erabaru.net. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  dan Universitas Kyoto, Jepang melakukan penelitian SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development) mengembangkan teknologi yang mampu  mengembalikan lahan marginal seperti padang alang-alang menjadi lahan produktif untuk tanaman sorgum untuk produksi energi dan material terbarukan.

Hasil penelitian disampaikan The 3rd SATREPS Conference yang dilaksanakan pada Kamis, 22 November 2018 di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat Indonesia memiliki luas padang alang-alang mencapai 10 juta hektar. Keberadaannya dianggap sebagai lahan marginal yang memberikan sedikit manfaat bagi masyarakat.

Konversi lahan suboptimal terutama lahan alang-alang menjadi areal yang produktif untuk pertanian, hutan buatan dan lain-lain menjadi isu nasional yang penting, seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Indonesia (2015-2016).

“Proyek SATREPS (Kemitraan penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan berkelanjutan) akan meneliti tanaman sorgum yang mampu tumbuh cepat pada lahan marginal dengan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas pada  lahan alang-alang melalui seleksi dan perbaikan genetik tanaman sorgum,” ujar Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko dalam keterangan tertulisnya.
 
Menurut Handoko, dalam RPJMN 2015-2019, disebutkan bahwa masalah di sektor energi di Indonesia adalah terbatasnya  pasokan energi primer dalam lima tahun ke depan, sehingga diperlukan optimalisasi pasokan  energi yang berasal  pemanfaatan batubara, dan  kontribusi energi dari biofuel  dan biomasa terbarukan.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa lignoselulosa dari sorgum dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif karena jumlahnya yang melimpah. Namun teknologi yang efisien yang mampu mengubah biomasa menjadi energi masih perlu dikembangkan,” terangnya.
 
Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengungkapkan teknologi yang mampu mengubah lahan alang-alang menjadi areal yang lebih produktif, dengan modal yang besar, telah dikembangkan oleh perkebunan besar, namu adopsinya untuk masyarakat lokal dan petani kecil masih belum optimal.

Untuk itu diperlukan teknologi untuk mengkonversi padang rumput alang-alang  sebagai  lahan produktif dengan biaya yang terjangkau dan dengan cara yang ramah lingkungan khususnya melalui introduksi  bio-teknologi. “Teknologi yang diintroduksi meliputi “molecular breading, genome editing, dan metabolic engineering”

Optimasi absorpsi nutrisi melalui telaah dosis pemupukan yang optimal yang memacu pertumbuhan mikroba tanah, sehingga terjadi akselerasi mineralisasi nutrisi yang diperlukan oleh tanaman sorghum. Teknologi yang diintroduksi adalah “molecular marker, metagenomic analyses dan trancriptomic” untuk mengetahui dinamika populasi mikroba pada perakaran dan tanaman.

Lebih jauh Enny menuturkan sebagai langkah meningkatkan keragaman hayati dari lahan alang-alang akan dilakuan intercropping antara tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, ekologi yang tinggi dengan memperhatikan keragaman genetik lokal.

“Pengembangan teknologi pemanfaatan biomasa sorghum menjadi biopellet yang mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi melalui formulasi pellet dan teknologi peletisasi.  Pengembangan teknologi pembuatan particle board, melalui formulasi material, optimasi teknik produksi particle board dengan kekuatan yang lebih tinggi yang dapat,” ungkap Enny.

SATREPS merupakan proyek Badan Kerjasama Internasional Jepang atau JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) untuk membantu negara-negara berkembang dalam menanggulangi masalah pertanian, lingkungan hidup, dan kebencanaan. (asr)

Share

Video Popular