Pembunuhan Xie Yining, pendiri dan pimpinan surat kabar berbahasa Mandarin yang bermarkas di AS, China Press, telah menimbulkan kekhawatiran yang meluas di komunitas Tionghoa. Rincian baru telah muncul tentang identitas Xie yang sebenarnya, ia adalah seorang agen khusus untuk Partai Komunis Tiongkok (PKT), menurut seorang pembaca The Epoch Times.

Polisi menemukan mayat Xie Yining, 58 tahun, pada 16 November di dalam kantor penerbitan di Alhambra, California di mana dia ditembak sampai tewas. Polisi menemukan pistol di tempat kejadian dan menangkap seorang karyawan yang diidentifikasi sebagai Zhong Qi Chen, 56 tahun, karena dicurigai melakukan pembunuhan tersebut.

Zhong saat ini ditahan dengan jaminan $1 juta. Polisi tidak menunjukkan motif penembakannya.

Seorang pembaca Epoch Times yang ingin tetap anonim, sebut saja “Mr.A”, baru-baru ini telah mengungkapkan informasi tentang identitas asli Xie.

Mr.A adalah seorang reporter surat kabar berbahasa Mandarin di Washington D.C. pada tahun 1980-an. Dia mengatakan Xie adalah seorang reporter untuk China News Service (CNS) pada waktu itu. Mr.A bertemu Xie untuk pertama kalinya di Alberta, Kanada, di mana mereka memberitakan acara Universiade ke-12, acara multi-olahraga internasional yang diselenggarakan untuk para atlet universitas.

Mr.A mengatakan bahwa wartawa-wartawan pertama dari Kantor Berita Xinhua yang dikelola oleh pemerintah Tiongkok di Washington D.C. adalah pasangan, keduanya adalah agen khusus Departemen Intelijen dari Departemen Politik Umum (GPD) Pembebasan Rakyat (PLA). Karena mereka tidak biasa dengan bisnis berita dan tidak berhasil dalam mengumpulkan informasi, China News Service memutuskan untuk mencari penggantinya.

“Sekitar tahun 1987, China News Service menyukai Xie Yining, yang berbicara dalam bahasa Kanton dan Inggris, dan menunjuknya sebagai koresponden Gedung Putih,” kata Mr.A. “Pada saat itu, dia masih sangat muda dan lulus dari jurusan jurnalisme di Universitas Renmin.”

“China News Service tidak memiliki banyak uang, maka Departemen Politik Umum Tentara Pembebasan Rakyat membiayai pengeluaran mereka.”

Mr.A berkata, “Xie sering muncul di berbagai kesempatan sebagai jurnalis, namun sebenarnya dia dipekerjakan oleh Departemen Intelijen.” “Dia telah bertugas sebagai agen khusus untuk PKT sejak tahun 1986.”

“Kemudian, Xie dipindahkan ke China Press. Setelah Peristiwa 4 Juni (Pembantaian Lapangan Tiananmen) pada tahun 1989, rakyat Amerika sangat marah dengan koran-koran pro-komunis lokal, China Daily dan North American Overseas Chinese Daily. Maka PKT mendukung pembuatan media alternatif, China Press, di Amerika Serikat pada Januari 1990.”

Mr.A mengatakan bahwa istri kedua Xie, Guo Xing, adalah reporter untuk Phoenix Satellite TV di Los Angeles. “Phoenix Satellite TV dijalankan oleh Departemen Intelijen,” kata Mr.A.

“Ada banyak contoh berita buruk tentang orang-orang yang mengikuti perintah perbuatan jahat untuk PKT,” kata Mr. A. “Kasus lain adalah mantan reporter China Daily, Li Xing, yang sebelumnya dalam keadaan sehat. Namun setelah dia memenangkan penghargaan karena menulis artikel yang memfitnah Falun Gong, dia tiba-tiba meninggal karena serangan jantung tahun 2011.”

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan meditasi tradisional Tiongkok yang damai berdasarkan prinsip-prinsip sejati, baik, sabar. Pada tahun 1999, mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Jiang Zemin yang meyakini bahwa popularitas kelompok tersebut, yang meningkat hingga 100 juta pada tahun 1999, menurut media Barat yang mengutip para pejabat Tiongkok, akan dapat merusak otoritas Partai maka meluncurkan penganiayaan nasional terhadap para praktisinya.

LATAR BELAKANG CHINA PRESS — BERHUBUNGAN DEKAT DENGAN PKT

China Press, yang lebih dikenal sebagai Qiao Bao dalam bahasa Mandarin, adalah surat kabar berbahasa Mandarin yang sudah lama dikenal di komunitas imigran AS karena pandangannya yang pro-Beijing dan kecenderungan untuk mengulang propaganda Beijing dalam isu-isu skala luas.

Sejak rezim Tiongkok melancarkan penganiayaan nasional terhadap kelompok spiritual Falun Gong pada tahun 1999, China Press telah berada di antara sejumlah surat kabar Tiongkok di luar negeri yang mengulang-ulang propaganda di media pemerintah Tiongkok, memfitnah ajaran meditasi tersebut beserta para praktisinya. Dalam periode waktu, media Tiongkok sering mem-posting ulang artikel-artikel China Press, seperti yang berjudul, “Tionghoa Luar Negeri di Seattle Mendukung Kedaulatan Tiongkok di Laut China Selatan,” pada bulan Juli 2016.

Banyak yang menduga bahwa koran tersebut sebenarnya dijalankan oleh rezim Tiongkok.

Di atas kertas, surat kabar tersebut berada di bawah payung Rhythm Media Group, sebuah perusahaan yang terdaftar di California yang didirikan pada tahun 2003 dengan beberapa outlet berita berbahasa Mandarin, sebuah perusahaan produksi film, dan sebuah pusat budaya di profilnya. Namun latar belakang Xie dan melihat sejarah perusahaan menunjukkan bahwa ia, pada kenyataannya, memiliki hubungan dekat dengan Beijing.

Pada tahun 2001, lembaga think tank AS, Jamestown Foundation, mencantumkan China Press sebagai surat kabar Tiongkok di luar negeri “yang dikendalikan langsung oleh pemerintah Tiongkok.” Namun tidak jelas organ mana dari Partai Komunis Tiongkok yang mengarahkannya.

Pada tahun 2006, China Press berada di antara daftar beberapa gerai luar negeri yang bermarkas di AS yang menandatangani perjanjian kemitraan dengan China News Service, di bawah konsorsium media yang disebut Korporasi Media Budaya Asia-Amerika (U.S.-Asia Culture Media Corporation).

“Korporasi media” ini dijalankan oleh Kantor Urusan Luar Negeri Tiongkok, sebagaimana diklaim dalam pengungkapan publik tahun 2011 yang ditulis oleh mantan pembawa acara televisi Sinovision, perusahaan media AS lainnya di dalam korporasi tersebut. Wang Aibing menulis pengaduan untuk mengungkap korupsi di tempat kerjanya sebelumnya, dan mencatat bahwa Kantor Urusan Luar Negeri Tiongkok menjalankan “korporasi media” sebagai operasi yang menjalankan fungsi perencanaan di luar negeri. Wang mengajukan pengaduannya pada direktur berikutnya di kantor tersebut, mencari ganti rugi atas ketidakadilannya.

Ketika China Press sekarang dimiliki oleh perusahaan swasta AS, “sifatnya tetap sama,” kata analis Tiongkok, Heng He. Heng telah mengamati lanskap media-media luar negeri Tiongkok selama lebih dari satu dekade.

Dia menyebutkan, misalnya, bagaimana China Press meliput serangkaian insiden di New York City pada tahun 2008 yang melibatkan praktisi Falun Gong setempat, yang diserang secara fisik dan dilecehkan oleh para penyerang di Flushing, Queens.

Penggambaran-penggambaran yang memfitnah para praktisi Falun Gong oleh China Press telah “dicetak ulang oleh Xinhua [media yang dikelola negara], CCTV [penyiar negara], dan Kaiwind,” kata Heng, mengacu pada situs web yang dijalankan oleh Kantor 610, sebuah pasukan polisi rahasia yang dibuat tahun 1999 untuk melaksanakan penganiayaan terhadap Falun Gong.

Maret ini, pihak berwenang pusat telah meluncurkan restrukturisasi internal yang memasukkan Kantor Urusan Luar Negeri Tiongkok, yang awalnya sebuah kantor di dalam kabinet Tiongkok seperti Dewan Negara, di bawah Departemen Pekerjaan Front Persatuan, sebuah organ Partai Komunis yang melakukan operasi di luar negeri untuk memenuhi agenda Beijing.

Perubahan ini berarti “Partai tersebut sekarang mengendalikan semua kantor yang berhubungan dengan propaganda,” Heng mencatat. Kantor Urusan Luar Negeri Tiongkok tidak lagi memiliki koneksi tingkat atas untuk urusan negara Tiongkok. (ran)

Rekomendasi video:

Agama Dipaksa Tunduk kepada Komunis Tiongkok, Apa Jadinya?

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds