Erabaru.net. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis laporan penelitian tentang penyalahgunaan antibiotik yang serius di beberapa negara seperti Italia, Spanyol dan Jepang.

Sebagai hasilnya, Pekan Kesadaran Antibiotik baru-baru ini diadakan pada 12-18 November untuk memberikan beberapa info tentang situasi yang sangat memprihatinkan ini. Ini karena, resistensi terhadap antibiotik dipandang sebagai ancaman utama di seluruh dunia.

Menurut Dr. Tahreem Ansari, resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri untuk mengalahkan obat yang dirancang untuk membunuh mereka, dan itu akan membuat mereka lebih kebal. Ini akan menyebabkan tubuh mengalami kesulitan mengobati infeksi.

“Kegagalan antibiotik akan memiliki dampak ekonomi, fisik dan psikologis. Penyakit akan lama berada pada tubuh dan mengharuskan pasien untuk pergi ke dokter lebih sering, lama tinggal di rumah sakit dan perawatan dengan antibiotik mahal. Dalam beberapa kasus, resistensi antibiotik dapat menyebabkan kegagalan organ atau kematian, “tambahnya.

Kepala Departemen Kedokteran WHO mendesak negara-negara tersebut untuk bertindak segera dengan memberikan antibiotik oleh dokter saja untuk mencegah penyalahgunaan obat-obatan oleh pasien.

WHO juga meluncurkan sistem penilaian tahun lalu di mana antibiotik diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu kelas ‘tersedia’, ‘kelas penggunaan bijaksana’ dan ‘siaga’.

Prioritas harus diberikan untuk penggunaan antibiotik penicillin yang termasuk dalam kelas ‘tersedia’. Dalam hal ini, antibiotik tambahan yang kuat seperti polymeroxins digunakan untuk mencegah bakteri menjadi resisten terhadap obat yang kuat, atau ketika semua antibiotik tidak efektif.

Dimengerti juga bahwa pihak WHO telah memperkirakan sebanyak 700.000 kematian dicatatkan pada setiap tahun di seluruh dunia akibat kebal terhadap antibiotik dan antimikroba dan diperkirakan akan menyebabkan lebih 10 juta orang terbunuh pada 35 tahun mendatang.

Sejak dimulai pada tahun 1920-an, antibiotik telah membantu menyelamatkan jutaan orang dari ancaman infeksi bakteri seperti tuberkulosis dan meningitis. Tetapi antibiotik tidak efektif dalam menangani infeksi virus seperti pilek, sakit tenggorokan, bronkitis dan sebagian besar infeksi sinus dan telinga.(yant)

Sumber: Erabaru.com.my

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds