Thaena – Zisis Kyrou lebih sering memetik bunga di ladang saffron ungu, pada setiap musim gugur di utara Yunani daripada bekerja di kantornya sebagai insinyur sipil.

Saffron, rempah-rempah yang begitu mahal itu dijuluki ’emas merah’. Saffron membawa pekerjaan dan uang ke wilayah yang lebih dikenal dengan tambang batu bara dan pengangguran. Setahun yang lalu, produsennya mulai mengekspor Saffron ke Amerika Serikat. Sekarang mereka menyasar ekspor ke Tiongkok.

Sebagian besar orang muda Yunani tertutup peluangnya memasuki pasar kerja selama krisis ekonomi sembilan tahun Yunani. Mereka kembali ke pedesaan untuk mencari ‘nafkah dari tanah’.

“Sulit untuk menemukan pekerjaan di bidang Anda selama krisis, khususnya di bidang teknik sipil, karena tidak ada pembangunan konstruksi,” kata Kyrou, 34 tahun, ketika memanen bunga dengan tangan bertabur sari bunga.

Pada 2012, dia kembali ke Yunani dari London dengan dua gelar universitas. Dia akhirnya membuka kantor teknik (konstruksi bangunan) di desanya, Krokos, tetapi sebagian besar penghasilannya berasal dari empat hektar tanah perkebunannya, yang dia harapkan akan meningkat.

“Saya tidak membayangkan saya akan kembali,” kata Kyrou. “Tapi itu adalah keputusan yang tidak saya sesali.”

Orang Yunani telah menanam safron selama tiga abad di pedesaan sekitar Krokos, yang mengambil namanya dari Crocus, bunga saffron. Alexander Agung dikatakan telah menggunakannya untuk menyembuhkan luka akibat pertempuran.

Seorang pekerja memanen bunga saffron di sebuah ladang di kota Krokos, Yunani, pada 27 Oktober 2018. (Alkis Konstantinidis/Reuters/The Epoch Times)

“Namun hingga tahun 2000, produksi dibatasi hingga 66 pound setahun untuk konsumsi domestik,” kata Nikos Patsiouras, yang memimpin Koperasi Saffron dari Yunani.

Itu berubah pada tahun 2008, ketika krisis melanda. Yunani kini memproduksi sekitar 8.800 poundsterling per tahun, 70 persen di antaranya diekspor ke luar negeri. Koperasi telah menggandakan anggotanya dari 494 menjadi 1.000 orang. Koperasi juga telah meningkatkan lahan dari 592 hektar di tahun 2008 menjadi 1.349 hektar.

“Banyak anak muda menemukan pekerjaan di ladang, termasuk para ilmuwan,” kata Patsiouras. “Saya yakin lebih banyak (orang) akan bergabung.”

Tanda-tanda krisis terlihat di seluruh Krokos, di mana toko-toko yang tertutup berbaris di jalanan. Pengangguran di Yunani barat laut adalah 23,5 persen, tiga poin lebih tinggi dari rata-rata nasional. Tapi ladangnya kini menjadi semarak.

“Kami memiliki Tuhan di pihak kami, yang memberi kami produk yang unik,” kata Patsiouras. “Kami memegangnya seperti apel di mata kami.”

Saffron tumbuh hanya di wilayah Yunani ini. Dipasarkan sebagai Krokos Kozanis, per satu gram harganya sekitar empat euro ($ 4,50) di toko-toko Yunani.

Dibutuhkan 150.000 bunga untuk membuat 2,2 pon rempah-rempah, yang dijual seharga sekitar 1.500 euro ($ 1688). Bunga dipilih sendiri, dan para wanita di koperasi menimbang dan mengemasnya. Mereka dilarang memakai riasan dan parfum, untuk melindungi rasa bunga ketika sudah menjadi bumbu.

Iran sejauh ini menjadi produsen saffron terbesar di dunia. Akan tetapi, permintaan untuk varietas asal Yunani meningkat, menurut Patsiouras. Yunani sedang dalam pembicaraan dengan Tiongkok untuk memulai ekspor pada 2019.

Bagi keluarga Patsioura, tiga generasi rutin berkumpul dan berdiskusi setelah seharian panen, untuk mengambil untaian safron dari kebun bunga dan mengeringkannya.

“Jika kita tidak mentransfer tradisi ini ke generasi berikutnya, kita akan gagal,” kata menantunya, Maria Patsioura. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds