Erabaru.net. Banyak orangtua menghindari pemberian makanan yang mudah memicu timbulnya alergi ketika menyiapkan makanan non staple (bukan makanan pokok) bagi bayi mereka. Tetapi penelitian di Taiwan menemukan bahwa lebih banyak difersifikasi makanan seperti protein, kuning telur, kacang, ikan, krustasea (udang-udangan) yang konon mudah memicu timbulnya alergi, justru mampu mengurangi risiko alergi.

Dokter menyarankan orangtua agar mulai memberikan makanan non-staple ketika bayi mereka berusia 4 hingga 6 bulan, tetapi banyak orangtua baru sering bertanya-tanya apakah mereka boleh atau tidak memberikan makanan alergenik seperti buah-buahan dan telur ?

Hua Manjin, seorang dokter yang praktik di Child Gastroenterology, Chang Gung Memorial Hospital, Keelung, Taiwan, mengatakan bahwa rekomendasi tentang penundaan pemberian makanan yang memicu timbulnya alergi kepada bayi dan anak kecil yang pernah dicantumkan dalam pedoman diet bagi bayi kini telah dihapus.

Meskipun kapan usia yang sesuai untuk diberikan makanan alergenik ? Apa saja jenis makanannya ? Dan apa pula dampaknya ? Hingga saat ini belum ada penjelasan.

Tim dari Chang Geng Pediatric, Keelung, mencoba untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai apakah perlu memberikan makanan alergenik kepada bayi dan anak kecil sejak ‘dini’, apa saja jenisnya ? Dan untuk mengetahui sejauh mana hubungannya dengan pemicu alergi.

Tim pediatrik telah melakukan penelitian terhadap 272 orang bayi sejak bulan Maret 2012, dengan pengambilan sampel darah bayi berusia 1 tahun untuk menguji 40 macam alergen dalam darah, termasuk 20 alergen dari makanan dan 20 alergen hirup dan antibodi E (IgE).

Data yang diperoleh tim peneliti, bayi yang diberi makan lebih dari 5 jenis makanan alergenik pada usia sebelum 1 tahun memiliki 40% risiko alergi lebih sedikit dibandingkan dengan bayi yang diberi makanan kurang dari 2 makanan alergenik. Indeks IgE juga jauh lebih rendah.

Mengapa bayi dengan diberi makanan non-staple yang mengandung alergenik bisa mengurangi risiko alergi ? Dr. Hua Manjin menjelaskan, karena sistem kekebalan pencernaan bayi dan anak-anak belum matang dan masih bersifat plastisitas, mungkin itu yang memengaruhi sistem kekebalan usus bayi, sehingga dapat mengurangi risiko alergi yang timbul pada anak usia dini.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Pediatric Research edisi bulan Nopember 2017.

Dr. Hua Manjin mendorong para orangtua untuk mencoba menyediakan berbagai makanan non-staple sebelum bayinya berusia 1 tahun, dan tidak perlu takut untuk mencoba makanan alergenik.

Saat memberi makanan alergenik ini, yang harus diperhatikan adalah kondisi menelan bayi, seperti kacang tanah dan kacang-kacangan yang keras perlu digiling halus terlebih dahulu untuk menghindari anak tersedak, dan mencobanya juga sejenis demi sejenis selama beberapa hari, lihat apakah bayi memiliki reaksi alergi. Jika tidak, cobalah jenis alergenik yang lain.

Jika muncul ruam atau bintik-bintik merah pada kulit bayi, muntah, diare dan lain-lain, itu mungkin merupakan reaksi dari alergi, maka sebaiknya menghentikan pemberian jenis makanan alergenik tersebut dan periksakan kepada dokter sesegera mungkin.(sin/yant)

Sumber: epochtimes.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds