NEW DELHI — Menteri keuangan Maladewa yang baru mengatakan pada 26 November bahwa Tiongkok sedang melaksanakan proyek infrastruktur dengan harga jauh lebih tinggi dari yang telah diusulkan semula, namun negara kepulauan tersebut tidak dapat keluar dari perjanjian-perjanjiannya sekarang.

Pemerintahan Presiden Ibrahim Mohamed Solih, yang berkuasa bulan ini, sedang meninjau ulang kontrak-kontrak yang dibuat oleh pendahulunya, Abdulla Yameen. Sebagian besar telah diberikan pada perusahaan-perusahaan Tiongkok dan dikhawatirkan telah menjadikan negara tersebut terkubur dalam timbunan utang.

Selama lima tahun membangun kesenangan foya-foya tak terkendali, Tiongkok telah membangun jembatan laut yang menghubungkan ibu kota Male ke bandara utama di pulau lain dan mengembangkan bandara tersebut serta membangun perumahan massal di atas tanah yang direklamasi dari laut.

Namun Menteri Keuangan Ibrahim Ameer mengatakan kepada wartawan selama kunjungan ke New Delhi bahwa para pejabatnya telah menghabiskan minggu pertamanya di kantor sedang berusaha mencocokkan pinjaman-pinjaman yang pemerintah sebelumnya ambil untuk proyek-proyek tersebut dan jaminan-jaminan pemerintah yang diberikan pada mereka.

“Kita percaya bahwa sebagian besar proyek-proyek ini memakai harga-harga yang telah digelembungkan, dan kita sedang mengamatinya,” kata Ameer.

Namun dia mengatakan pemerintah tidak dapat membatalkan kontrak-kontrak tersebut karena banyak dari ini, termasuk jembatan, sudah selesai dibangun.

“Kita tidak bisa berbuat banyak dalam hal negosiasi ulang tetapi tujuan kita selanjutnya adalah mengurangi biaya-biaya proyek infrastruktur kita,” katanya.

Salah satu dari proyek-proyek tersebut adalah rumah sakit di Male yang diberikan kepada Tiongkok yang telah menghabiskan biaya $140 juta, jauh lebih besar dibandingkan penawaran tandingan $54 juta yang semula telah dibuat, kata Ameer.

Tanda-tanda ledakan infrastruktur ada di mana-mana di Male, dari mana para wisatawan dibawa dengan perahu berkecepatan tinggi sampai ke resor-resor mewah yang dibangun di atas pulau-pulau karang (atol).

Yameen juga telah menyewa para pengembang Tiongkok untuk sejumlah pulau yang tidak disebutkan guna membangun resor bagi para wisatawan, seperlima di antaranya adalah orang Tiongkok, dalam perluasan hubungan yang dramatis sejak Beijing membuka kedutaannya di Maladewa delapan tahun lalu.

Tiongkok telah membangun pelabuhan-pelabuhan, jembatan dan jalan-jalan raya di negara-negara yang membentang dari Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, dan sekutunya Pakistan sebagai bagian dari inisitaif One Belt, One Road (OBOR, juga dikenal sebagai Belt and Road) untuk perdagangan dan koridor transit di seluruh Asia dan ke Eropa.

Tetapi akhir-akhir ini telah menghadapi kritik bahwa banyak proyek-proyek besarnya yang menelan biaya jutaan dolar tersebut adalah sedang mendorong negara-negara yang lebih kecil ke dalam timbunan utang.

India, yang telah menjadi mitra tradisional bagi sebagian besar negara-negara Asia Selatan, juga telah melihat diplomasi Tiongkok yang luas yang bertujuan untuk mendapatkan kepemilikan sebuah basis pemukiman di beberapa negara pulau seperti Sri Lanka dan Maladewa.

Menteri Luar Negeri Maladewa Abdulla Shahid mengatakan dia telah meyakinkan para pemimpin India bahwa negaranya menginginkan hubungan terbaik dengan tetangga-tetangga terdekatnya dan akan kembali ke kebijakan “India yang Pertama”.

Perdana Menteri Narendra Modi telah menghadiri pelantikan Solih dan mengatakan India siap membantu negara tersebut mengatasi kesulitan keuangannya.

Tiongkok telah memenuhi jutaan dolar dalam bentuk pinjaman untuk infrastruktur di Maladewa, yang terletak di sepanjang rute pelayarannya yang sibuk menuju Timur Tengah. (ran)

Rekomendasi video:

Nasib Kelam Maladewa, Dibawah Ancaman Pengaruh Komunis Tiongkok

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds