Artikel menyebutkan, pihak Komunis Tiongkok jelas menyadari, jika hanya mengandalkan jurnalis RRT saja kisah ini tidak bisa jauh jangkauannya, itu tidak cukup. Oleh sebab itu, RRT berusaha merangkul media massa dunia untuk melakukannya.

Upaya Komunis Tiongkok merangkul jurnalis asing untuk merias kebijakan PKT seperti ini telah menarik perhatian internasional.

Jurnalis New York Eric Fish saat meneruskan artikel Krishnan di Twitter menempelkan Foto tentang seorang jurnalis yang mendapatkan beasiswa Komunis Tiongkok.

Jurnalis ini diwawancarai oleh media massa Komunis Tiongkok, ia mengatakan, “Dulu saya mengira  hanya ada satu partai, tidak ada demokrasi, tapi faktanya, disini terdapat demokrasi sejati, bicara soal demokrasi, yang telah dilakukan RRT tidak kalah dibandingkan negara Barat.”

Foto adalah acara wisuda yang digelar PKT bagi wartawan dari Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara tanggal 5 Desember 2017 lalu. (Foto: surat kabar China Daily yang dimuat di situs pemerintah Beijing)

Fish telah cukup mendalam soal meneliti generasi milenium di Tiongkok, dan telah menerbitkan buku yang berjudul “China’s Millennials: The Want Generation”.

Cara Pengajuan Beasiswa yang Aneh

Artikel menyebutkan, dalam hal memberikan beasiswa media massa oleh Komunis Tiongkok bukan kasus satu-satunya.  Pemerintah negara AS, Inggris, Australia dan sejumlah institusi swasta lainnya juga telah bertahun-tahun menyediakan beasiswa seperti ini.

Bedanya terletak pada tidak transparannya, ambisi dan skala dari upaya Komunis Tiongkok ini serta tingkat pengendalian Beijing terhadap media massa.

Beasiswa media massa yang disediakan Komunis Tiongkok, acap kali tidak memiliki prosedur pengajuan yang jelas, peraih beasiswa dihubungi oleh pihak Kedubes RRT.

Proyek tersebut awalnya diadakan bagi wartawan Afrika. Beijing mengawali dengan mendirikan China Africa Press Center.

Setelah percobaan itu berhasil, Komunis Tiongkok kembali membentuk China South Asia Press Centers dan juga China Southeast Asia Press Centers.

Semua pusat pers tersebut bekerjasama dengan Kemenlu RRT dan juga Asosiasi Diplomasi Publik RRT.

Jurnalis asing yang terpilih mengikuti program beasiswa ini bukan disetujui oleh media massa tempatnya bekerja, melainkan disetujui oleh pusat pers yang didirikan oleh PKT tersebut. Hal ini pun membatasi perjalanan mereka di Tiongkok.

Para jurnalis asing penerima bea siswa itu selama periode 10 bulan “diperlakukan istimewa” di Tiongkok.

Namun tidak bisa melakukan perjalanan meliput berita tanpa didampingi oleh pengawas dari pemerintah, mereka tidak diizinkan memberitakan topik HAM, Tibet, Xinjiang dan hal sensitif lainnya.

Share

Video Popular