Eropa harus mewaspadai perusahaan telekomunikasi Huawei dan perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok lainnya, kata kepala teknologi Uni Eropa, mengumandangkan kekhawatiran keamanan siber yang muncul di belahan bumi lainnya.

Wakil Presiden Komisi Eropa Andrus Ansip mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers pada 7 Desember bahwa perusahaan-perusahaan tersebut harus bekerja sama dengan layanan intelijen Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan memberikan tindakan-tindakan bantuan yang tidak terdokumentasi untuk mendapatkan akses ke sistem komputer atau data yang dikandungnya, dengan cara menempatkan backdoor dalam produk-produk mereka, yang dapat digunakan untuk spionase.

“Saya selalu menentang dipasangnya backdoor-backdoor yang diperintahkan tersebut,” kata Ansip, yang juga adalah Komisaris Eropa untuk pasar tunggal digital. “[Backdoor adalah] tentang chip yang dapat mereka tempatkan untuk mendapatkan rahasia kita. Ia bukan pertanda baik ketika perusahaan-perusahaan harus membuka sistem-sistem mereka karena beberapa jenis tindakan rahasia.”

“Sebagai orang normal pada umumnya, tentu saja kita memiliki rasa khawatir,” tambahnya.

Komentar-komentar Ansip datang beberapa hari setelah kepala keuangan Huawei Meng Wanzhou ditangkap atas tuduhan penipuan di Kanada. Meng dituduh menyembunyikan hubungan Huawei dengan perusahaan Skycom yang berbasis di Hong Kong, yang diduga telah melakukan bisnis dengan Iran yang melanggar sanksi-sanksi AS.

Jaksa menuduh bahwa Skycom secara efektif dikendalikan oleh Huawei, menurut sidang jaminan Meng pada 7 Desember.

Huawei menanggapi pernyataan Ansip pada 7 Desember, menyebut komentar tersebut sebagai “kesalahpahaman.”

Perusahaan telekomunikasi tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Membedakan satu vendor tidak melakukan apa-apa untuk membantu industri tersebut mengidentifikasi dan mengatasi ancaman keamanan siber dengan lebih efektif.”

Huawei juga mengatakan bahwa tidak pernah diminta oleh “pemerintah manapun untuk membangun backdoor atau mengganggu jaringan apa pun.”

RISIKO CYBERSECURITY GLOBAL

Selama bertahun-tahun, badan intelijen di barat telah menyuarakan kekhawatiran tentang hubungan Huawei dengan PKT dan kemungkinan bahwa peralatannya dapat digunakan PKT untuk memata-matai.

Pada bulan November, The Weekend Australia mengutip sumber keamanan nasional Australia yang mengatakan bahwa Australia memiliki bukti bahwa pejabat-pejabat perusahaan Huawei ditekan untuk mengungkapkan kode-kode akses dan rincian jaringan yang dibutuhkan oleh badan intelijen PKT untuk menyusup ke jaringan asing, menurut laporan-laporan intelijen rahasia.

The Australian melaporkan bahwa masih belum jelas apakah serangan-serangan siber yang pernah dicoba, yang terjadi dalam dua tahun terakhir, telah berhasil.

Kasus ini memberikan bukti pertama yang diketahui yang mendukung kecurigaan lama bahwa Huawei menimbulkan risiko terhadap keamanan siber bagi negara-negara berdaulat karena ia bertanggung jawab kepada PKT, terutama sejak Tiongkok meloloskan Undang-Undang Intelijen Nasional tahun lalu. Di bawah undang-undang baru tersebut, semua warga negara dan organisasi-organisasi Tiongkok diharapkan untuk bekerja sama dengan dinas intelijen negara mereka sebagaimana diperlukan.

Huawei adalah pembuat peralatan jaringan telekomunikasi terbesar di dunia dan pemasok smartphone No.3. Ren Zhengfei, pendiri perusahaan, adalah mantan perwira Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Dia masih menjalankan perusahaan tersebut hingga hari ini.

Amerika Serikat dan Australia telah menutup Huawei dari jaringan 5G mereka. Demikian pula, Selandia Baru menolak permintaan perusahaan telekomunikasi untuk menggunakan teknologi Huawei dalam jaringan 5G-nya pada bulan lalu.

Grup BT Inggris mengatakan bulan ini bahwa mereka akan menghapus peralatan Huawei dari operasi seluler 3G dan 4G, dan tidak akan menggunakan teknologi Huawei dalam jaringan 5G-nya. Kepala layanan intelijen luar negeri Inggris mengatakan dalam sebuah pidato yang jarang terjadi pada 3 Desember bahwa Inggris perlu meninjau ketergantungan jaringan 5G pada teknologi Tiongkok tanpa menyebut Huawei.

Sementara itu, Kanada juga menyatakan kekhawatiran serupa, mengatakan campur tangan asing dan spionase adalah ancaman terbesar bagi kepentingan nasional negara tersebut.

Jepang juga berencana untuk melarang pembelian peralatan Huawei oleh pemerintah, menurut laporan pada 7 Desember. (ran)

Rekomendasi video:

Strategi Siber Trum Melawan Spionase Siber

Share

Video Popular