Erabaru.net. Pada suatu hari, kuda milik Konfusius pergi ke ladang milik seorang petani, dan memakan gandum di sana.

Petani pemilik ladang tersebut marah dan kemudian dia mengikat kuda tersebut.

Ilutsrasi. Kredit: mnzoo.org

Konfusius kemudian mengirim Zi Gong, salah seorang muridnya yang sangat cerdas, untuk pergi meminta maaf dan meminta kembali kudanya.

Zi Gong berbicara panjang lebar, untuk meyakinkan si petani, agar mau melepaskan kuda milik Konfusius.

Zi Gong (Duanmu Ci). Kredit: wikipedia.org

Setelah Zi Gong berbicara panjang lebar, si petani hanya berpikir, “Apa yang dikatakannya, saya sama sekali tidak mengerti.” Dan dia tetap tidak mau melepaskan kuda itu.

Akhirnya kemudian Konfusius mengirim seorang penjaga kuda ke sana. Penjaga kuda berkata: “Kamu tidak bertani di sepanjang pantai Timur dan kami tidak berjalan di sepanjang pantai Barat, tapi karena kita saling menyeberang jalan kita, tidak heran kan kalau kuda kami makan gandummu.”

Petani itu menjawab, “Benar juga ya.” kemudian dia menyerahkan kuda itu sambil berkata lagi, “Kamu boleh ambil kuda ini.” Petani itupun mengembalikan kuda milik Konfusius dengan senang hati.

Orang-orang generasi berikutnya mendiskusikan “Mengapa Konfusius tidak langsung mengirim penjaga kuda pertama kali?”

Jika Konfusius melakukannya, Zi Gong pasti merasa tersingkir, kemampuan penjaga kuda hanya dapat disadari setelah kegagalan Zi Gong. Di sisi lain ini juga akan menjadi pelajaran untuk Zi Gong.

Konfusius. Kredit: myhero.com

Orang bijak di masa lalu bisa memahami perasaan orang dan bisa mendayagunakan bakat setiap orang, namun generasi berikutnya telah dibutakan oleh peraturan, senioritas, dan kualifikasi.

Mereka juga mengharapkan banyak bakat pada satu orang. Padahal masing-masing orang memiliki bakatnya sendiri-sendiri, di satu bidang mungkin terlihat bodoh, tapi di suatu bidang lain, dia adalah jenius.

Sumber: pencerahansejati.com

VIDEO REKOMENDASI

Era Baru

Share

Video Popular