Sejumlah perusahaan Tiongkok telah mengumumkan kebijakan perusahaan untuk mendukung produk raksasa teknologi Tiongkok Huawei sembari menghindari iPhone milik Apple sejak kepala pejabat keuangan Huawei ditangkap di Kanada awal bulan ini karena dicurigai melakukan penipuan.

Meng Wanzhou, yang merupakan putri pendiri Huawei, Ren Zhengfei, ditangkap di Vancouver, Kanada, pada 1 Desember atas permintaan penegak hukum AS. Dia dituduh terlibat dalam kegiatan melanggar sanksi-sanksi AS terhadap Iran, dan menghadapi ekstradisi ke Amerika Serikat.

Portal berita Tiongkok Sina, dalam sebuah artikel yang diterbitkan 10 Desember, telah mendaftar beberapa perusahaan Tiongkok yang telah mengambil langkah-langkah untuk mendukung Huawei sebagai tanda solidaritas nasionalis pada perusahaan yang bermasalah tersebut, dengan screenshot perintah perusahaan yang diumumkan setelah berita penangkapan Meng.

Menpad, pembuat layar LCD yang berbasis di Shenzhen, mengeluarkan pemberitahuan tertanggal 7 Desember di situs webnya. “Jika karyawan membeli iPhone, mereka akan dihukum dengan hukuman 100 persen atas dasar harga pasar telepon tersebut.” Sebaliknya, “jika mereka membeli ponsel Huawei atau ZTE, perusahaan akan memberikan subsidi 15 persen, berdasarkan harga pasar.”

Pada bulan April, pesaing Huawei, ZTE, terpukul adanya larangan ekspor AS karena melanggar perjanjian pengadilan yang dibuat setelah mengaku bersalah melanggar sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Korea Utara. Larangan tersebut telah melumpuhkan bisnis dan pendapatan ZTE, karena banyak produknya memerlukan komponen teknologi AS. Perusahaan hanya kembali beroperasi pada bulan Juli setelah AS mencabut larangan dengan syarat bahwa ZTE akan membayar denda $1 miliar dan tunduk pada perilaku-perilaku patuh yang ketat.

Dalam langkah-langkah lain yang diumumkan, Menpad menyatakan bahwa desain-desain produk masa depan perusahaan akan memprioritaskan penggunaan chip semikonduktor smartphone milik Huawei sendiri. Selain itu, perusahaan dan karyawannya tidak boleh membeli kendaraan-kendaraan bermerek AS, kata perusahaan itu.

Sina memposting ulang screenshot pemberitahuan 7 Desember yang dikeluarkan oleh Youfei Electronics, sebuah perusahaan elektronik dan pengembang perangkat lunak yang berbasis di Shanghai. “Setelah keputusan yang dibuat oleh dewan direksi perusahaan, perusahaan akan membayar pembelian ponsel dan laptop Huawei oleh para karyawan, mulai hari ini hingga 31 Desember 2018. Setiap karyawan terbatas pada 2 item pembelian.”

Sementara itu, RYD Information Technology, penyedia IT untuk klien konstruksi, mobil, dan kedirgantaraan, mengeluarkan memo yang menyatakan bahwa perusahaan sekarang akan membeli produk-produk dan perangkat lunak Huawei secara eksklusif. Selain itu, perusahaan menyediakan 15 persen subsidi untuk pembelian produk Huawei oleh karyawan untuk penggunaan pribadi.

Yutangfu, sebuah perusahaan restoran, hotel, dan manajemen resor yang berbasis di Kota Zhanjiang di Provinsi Guangdong, mengatakan akan menyediakan kupon pembelian senilai 500 yuan (sekitar $72,6) untuk pembelian ponsel Huawei baru, dalam dokumen perusahaan tertanggal 9 Desember. Karyawan yang membeli iPhone akan didiskualifikasi dari pengakuan karyawan perusahaan yang baik, dan dicabut bonus tahunannya.

Dokumen Yutangfu menyatakan bahwa, di tengah perang dagang saat ini antara Tiongkok dan Amerika Serikat, semua orang di perusahaan “bertanggung jawab atas timbul tenggelamnya negara kita.” Pembayaran 500 yuan perusahaan akan berlaku hingga 31 Desember 2019.

Kamar Dagang Nanchong di Shanghai menyatakan dalam sebuah pengumuman pada 9 Desember bahwa penangkapan Meng adalah upaya Amerika Serikat untuk mengekang kebangkitan Tiongkok; oleh karena itu, warga negara Tiongkok harus mendukung merek domestik. Pengumuman tersebut menyatakan jika di dalam organisasi ditemukan telah membeli produk Apple akan dilucuti dari posisi resmi mereka.

Selain itu, Kamar Dagang tersebut menyatakan bahwa siapa pun yang memutuskan untuk membeli ponsel Huawei sebelum 5 Januari 2019, akan berhak mendapatkan subsidi 10 persen.

Di Sina Weibo, setara dengan Twitter di Tiongkok, beberapa pengguna internet Tiongkok mendukung pemboikotan Apple oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok ini. Yang lainnya dengan cepat menunjukkan masalah-masalah di balik pelarangan tersebut.

Seorang netizen dengan moniker “Rule_of_law__” dari Provinsi Jiangsu di pesisir Tiongkok menulis, “Atas nama patriotisme, perusahaan-perusahaan ini telah melanggar undang-undang tenaga kerja.” Komentar-komentarnya menarik lebih dari 4.800 jempol.

Beberapa netizen dengan cepat menunjukkan ironi di balik larangan tersebut: Huawei menggunakan sistem operasi Android pada ponselnya, yang dikembangkan oleh raksasa teknologi Amerika, Google.

Meskipun tidak ada tanda bahwa Beijing berada di belakang serentetan pemboikotan produk Apple saat ini sebagai tanggapan atas penangkapan Meng tersebu, rezim Tiongkok memiliki sejarah menggunakan propaganda melalui media yang dikelola negara untuk memanipulasi opini publik dan kebiasaan-kebiasaan konsumen untuk melayani kepentingan-kepentingannya.

Tahun lalu, media pemerintah Tiongkok melakukan upaya habis-habisan untuk menyarankan orang-orang untuk memboikot produk-produk Korea Selatan, setelah konglomerat Korea Selatan Lotte setuju untuk menyewakan beberapa lahan untuk menjadi tuan rumah bagi THAAD, sistem pertahanan anti-rudal AS yang dipasang setelah meningkatnya uji coba nuklir Korea Utara. Instalasi militer tersebut membuat marah Beijing, mengklaim bahwa sistem anti-rudal tersebut dapat digunakan untuk memata-matai wilayah udara Tiongkok. (ran)

Rekomendasi video:

Tiongkok Hadapi Resesi Ekonomi, Laporan yang Relevan Dikontrol Ketat

Share

Video Popular