Erabaru.net.  Serial kali ini adalah bagian dari Bab 3 dari Buku Tujuan Terakhir Komunisme yang diterbitkan oleh Editorial 9 Komentar Partai Komunis Tiongkok.

Pada Bab 3 ini membahas tentang Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta.

Pada buku ini diawali dengan Kata Pengantar: Roh Jahat Komunis Membunuh di Sepanjang Jalan.

BACA JUGA : Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta

Pada bagian pertama dibahas tentang Soviet Rusia sebagai Percobaan. Selanjutnya dibahas tentang Komunis Tiongkok Menaiki Panggung dan Membantai Habis Kaum Elit.

Selanjutnya menganalisa lebih mendalam dari cara-cara pembantaian yang dilakukan partai komunis Tiongkok dan jumlah manusia yang telah dibunuh.

Kali ini terbagi pada 5 bagian yakni : 1) Pembantaian di Pedesaan dan Perkotaan. 2) Menyingkirkan Agama, Memutus Hubungan dengan Kepercayaan Tradisional. 3) Reformasi Ideologi, Ateisme Menguasai Sekolah. 4) Menganiaya Kaum Intelektual, Memaksa Seluruh Rakyat Mengucapkan Kata Bohong. 5) Manusia Menjadi Bukan Manusia

BACA JUGA : Serial Tujuan Terakhir Komunisme : Komunis Menaiki Panggung dan Membantai Kaum Elit

3) Reformasi Ideologi, Ateisme Menguasai sekolah

Perubahan – penganiayaan – penghancuran yang dilakukan oleh partai komunis Tiongkok terhadap elit kaum intelektual juga berisikan pengaturan yang sistematis. “

Reformasi Ideologi” yang dilakukan terhadap kaum intelektual, terutama di sekolah-sekolah tingkat tinggi — dimulai pada periode awal partai komunis Tiongkok memegang tampuk kekuasaan.

Tentu saja partai komunis Tiongkok tidak percaya pada para ahli pendidikan dan kaum intelektual tingkat tinggi dari masa periode pemerintahan sebelumnya [Kuomintang].

Masalahnya jika tidak ada mereka maka Universitas tidak bisa berjalan, para talenta teknologi juga tidak bisa bertumbuh, oleh karena itu partai komunis Tiongkok mengadopsi apa yang disebut dengan metode revisi sistem institusi.

Mereka secara langsung menghapus Universitas asosiasi pendidikan agama, karena kepercayaan agama tidak cocok dengan Marxisme; sekaligus mengubah sekolah-sekolah swasta, juga menghapus sistem institusi sebelumnya seperti filosofi – sosiologi dalam Universitas, karena murid-murid hasil didikan dari sistem institusi ini — bisa memikirkan – bisa menganalisa persoalan-persoalan politik dan masyarakat, memiliki sejumlah pemikiran yang bebas, dan menjadi halangan yang besar bagi rezim partai komunis Tiongkok.

Pada saat yang sama partai komunis Tiongkok secara menyeluruh meniru sistem pendidikan Soviet Rusia, dan mengubah sistem pendidikan dari masa periode pemerintahan sebelumnya yang menjunjung tinggi pemikiran dan kebebasan akademis, secara paksa menjalankan Reformasi Ideologi, para pengajar dan siswa sekolah tinggi dididik menjadi satu generasi yang tunduk dengan perintah partai komunis Tiongkok – yang hanya memandang penting teknologi – yang tidak percaya Tuhan dan tidak memiliki kepercayaan.

Dari tahun 1950 sampai tahun 1953, setelah revisi sistem institusi, proporsi Universitas Komprehensif multidisipliner di antara perguruan tinggi dan universitas turun dari 24% di tahun 1949 menjadi 11% pada tahun 1952.

Sejumlah besar Universitas Komprehensif terpandang yang telah berdiri lama telah kehilangan nilai dan status, diubah menjadi sekolah Teknik; sekolah-sekolah Teknik yang baru didirikan jumlahnya meningkat drastis, “Belajar dari Soviet Rusia” telah diimplementasikan secara menyeluruh.

Dengan menggunakan Humaniora “model Amerika”, di masa periode pemerintahan sebelumnya, telah menghasilkan sejumlah pelajar yang sangat berpengaruh dan berstandar, ilmu sejarah – filosofi – sosiologi semuanya tidak kekurangan orang-orang bertalenta.

Para intelektual Humaniora yang mendapat pengaruh – didikan dari “Liberalisme Inggris dan Amerika”, sama sekali tidak cocok dengan ideologi Marxisme, dan secara alami diberi cap “kaum borjuis picik”. Humaniora yang bertentangan dengan sistem Marxisme akan dihentikan dan dihapus. Di antaranya seperti sosiologi — telah dihapus sepenuhnya di Tiongkok.

Tujuan lain dari revisi sistem institusi adalah untuk memecah-belah Universitas dari pemerintahan sebelumnya – departemen Universitas serta para dosen yang menjadi tulang punggung, dan telah memutus hubungan historis antara profesor sebelumnya dengan sekolah, juga secara besar-besaran mengambil keuntungan atas kendali dan dominasi rezim partai komunis terhadap kaum intelektual, agar bermanfaat untuk konsolidasi dan berdirinya totaliter komunis.

Mantan presiden Universitas Peking Ma Yinchu pada tanggal 23 November 1951 menerbitkan sebuah artikel <<Gerakan Pembelajaran Politik untuk Pengajar Universitas Peking>> di <<Harian Rakyat [People’s Daily]>> — di dalamnya ada perkataan: “Harus sesuai dengan kebutuhan negara, sepenuhya merevisi sistem institusi, …… dan bila ingin mencapai sebuah tujuan ini, sebuah kunci krusial yang paling utama, tepatnya adalah harus …… secara inisiatif secara sukarela menjalankan Reformasi Ideologi.” Singkatnya, merevisi sekolah adalah demi Reformasi Ideologi.

“Reformasi Ideologi” kali ini yang ditujukan kepada para ahli pendidikan – kaum intelektual tingkat tinggi melalui revisi sistem institusi, dapat dihitung sebagai langkah pertama partai komunis Tiongkok setelah merebut kekuasaan dalam memaksa kaum intelektual menyerahkan diri.

4 .Menganiaya kaum intelektual, memaksa seluruh rakyat berbohong

Sebelum tahun 1949, Tiongkok memiliki kaum intelektual sekitar 2 juta orang, meskipun beberapa dari mereka belajar ke luar negeri di negara-negara Barat. Namun masih tetap mewarisi sebagian pemikiran tradisional, dan pemikiran-pemikiran seperti mengultivasi diri, menata keluarga, memimpin negara dan perdamaian dunia.

PKT tentu saja tidak akan melepaskan mereka, karena sebagai kelas “cendekiawan”, pemikiran mereka memberi efek yang sama sekali tidak bisa diremehkan terhadap ideologi kalangan rakyat.

Pada tahun 1957, PKT menggunakan slogan “ratusan bunga tumbuh bermekaran, ratusan aliran saling bersaing”, meminta kaum intelektual dan massa di Tiongkok “membantu partai komunis dalam gerakan perbaikan”, niatnya adalah untuk memancing keluar “kaum anti-partai” di antara mereka.

PKT menyatakan “tidak mencari titik lemah, tidak menggunakan tongkat (menghukum tanpa dasar), tidak memasang topi stigma, mutlak tidak akan mengadakan perhitungan di kemudian hari”dan “Orang yang berbicara tidak berdosa”, pertunjukan ini kelihatannya berhasil.

Pada saat itu kaum intelektual yang terkenal seperti Zhang Bojun, Long Yun, Luo Longji, Wu Zuguang, Chu Anping dan lainnya secara tulus dan terus terang, menunjukkan berbagai kekurangan PKT.

Tapi dalam waktu semalam, situasi tiba-tiba berubah, gerakan Anti-Kanan dimulai, mereka semua dicap sebagai kaum kanan yang “anti-partai dan anti-sosialisme”.

Gerakan Anti-Kanan ini telah mencatat 550 ribu nama “kaum kanan”, 270 ribu orang kehilangan jabatan, 230 ribu orang ditetapkan sebagai “kaum kanan tengah” dan “kaum anti-partai dan anti-sosialisme”. Mangkuk nasi mereka telah direbut, kehidupan mereka terancam, mau tidak mau bersikap berhati-hati, dan hidup dengan menahan hinaan.

Gerakan ini selain membuat kaum intelektual mendapat penganiayaan, juga telah mengirimkan sebuah sinyal yang jelas kepada seluruh orang Tiongkok: “Di bawah kekuasaan PKT, siapa saja yang mengucapkan kebenaran, maka akan menghadapi akhir yang tragis. Yang lebih buruk lagi, di dalam setiap gerakannya, PKT menuntut seluruh rakyatnya ikut serta dalam “mengungkap dan mengkritik”, hak orang untuk “tetap diam”pun telah ditiadakan.

Berbohong dapat dikatakan sebagai salah satu tindakan jahat yang paling mewakili “karakteristik PKT” di dalam kebudayaan PKT.

Melalui banyak sekali gerakan politik, PKT melatih orang Tiongkok menggunakan kebudayaan partai dalam mempertimbangkan masalah dan menangani persoalan, agar membuat manusia di dunia terbiasa berbohong, terhadap segala tiruan, kebohongan, tipuan dan memutar balik baik – buruk,  selain merasa tenang tanpa beban, malah saling berlomba melakukannya.

Sampai hari ini, di mana-mana di daratan Tiongkok dapat ditemukan rokok palsu, arak palsu, obat palsu, makanan palsu, ijazah palsu dan surat nikah (cerai) palsu, tidak ada hal yang tidak dapat dipalsukan menjadi sebab timbul dan membanjirnya barang palsu, mau tidak mau harus menganggap bahwa semua ini berasal dari kebiasaan berbohong orang-orang tersebut, begitu melepaskan garis batas minimum moralitas “sejati” ini, masih adakah kepalsuan apa lagi yang dapat membuat hati nurani manusia tidak tenang?

Gerakan Anti-Kanan, adalah satu langkah utama yang diambil PKT untuk secara menyeluruh merusak moralitas dan kebudayaan tradisional Tiongkok.

Seiring dengan musnahnya kaum elit kebudayaan, roh jahat komunis telah memotong warisan kebudayaan tradisional bangsa Tionghoa yang tidak terputus dari satu generasi ke generasi lainnya.

Sejak itu generasi muda juga sudah tidak dapat memperoleh pendidikan dan wejangan tak langsung dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan para tetangga, mereka telah berubah menjadi sebuah generasi tanpa kebudayaan.

Setelah melalui serangkaian gerakan dengan rencana detail untuk menghancurkan kebudayaan, membantai berbagai kaum elit kebudayaan seperti Tiga Anti, Lima Anti, Menekan Kontrarevolusioner, Reformasi Ideologi dan revisi sistem institusi serta Anti-Kanan dan lainnya, para kaum elit yang mendukung kebudayaan tradisional Tiongkok di wilayah pedesaan dan perkotaan Tiongkok pada dasarnya telah hancur.

Pada saat yang sama generasi baru hasil binaan materialisme, ateisme dan kebudayaan partai sudah menjadi matang, pemikiran dan tindakan kekerasan yang terbawa oleh mereka, mulai merasuki sukma, siap melaksanakan rencana selanjutnya untuk menghancurkan kebudayaan hasil warisan Dewata. (WHS/asr)

Bersambung

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds