Erabaru.net. “Ayah, kenapa sih harus sekolah?” Tanya putranya yang baru sekolah.

Ayah : “Nak, tahukah kamu, jika sebatang pohon kecil baru tumbuh setahun, maka pohon itu hanya dapat digunakan untuk pagar atau kayu bakar. Pohon yang berusia 10 tahun dapat digunakan sebagai purlin (balok dudukan penutup atap). Sedangkan pohon yang berusia 20 tahun, maka manfaatnya pun sangat besar, bisa digunakan sebagai pilar atau dibuat furniture dan sebagainya.

“Jika seorang anak seusiamu tidak sekolah, dia bisa saja menjadi penggembala di usia 7 tahun dan saat tumbuh besar, dia bisa mengiring kawanan domba, tetapi selain menggembala sepanjang hidupnya, dia tidak dapat mengerjakan apa pun (keterampilan).

“Jika lulus dari sekolah dasar, dan tidak melanjutkan studi lagi, kita dapat menggarap ladang di pedesaan dengan beberapa teknologi baru, bekerja sebagai buruh bangunan di kota, menjadi satpam, atau menjadi pedagang kaki lima, maka pengetahuan di sekolah dasar juga sudah cukup.

“Jika lulus dari sekolah menengah pertama, kita bisa mempelajari beberapa operasional mesin.

“Sementara jika lulus dari sekolah menengah atas, kita bisa belajar tentang mesin dan tatacara perbaikannya.

“Dan jika lulus dari perguruan tinggi, kita bisa mendesain bangunan tinggi, jembatan kereta api dan semacamnya.

“Tetapi, jika lulus dari gelar master, bisa saja dia menciptakan sesuatu yang awalnya tidak kita miliki.

Nah, sekarang kamu tahu kan ?”

Anak: “Ya ayah, aku paham sekarang.”

Ayahnya : “Malu tidak menjadi penggembala domba, atau satpam ?”

Anak: “Malu.”

Ayah : “Tidak memalukan, nak. Mereka tidak mencuri atau merampok, mereka bekerja mencari nafkah untuk anaknya sendiri dan orangtuanya, jadi sedikit pun tidak memalukan.”

“Maksud ayah bukannya tidak berguna kalau tidak sekolah, atau hanya berpendidikan rendah. Sama seperti pohon kecil yang baru tumbuh setahun, ada gunanya, tetapi manfaatnya tidak sebanyak seperti pohon besar.

“Tidak sekolah atau berpendidikan rendah juga ada gunanya, tetapi sangat sedikit kontribusinya kepada masyarakat, dan penghasilan yang mereka dapatkan juga sedikit.

“ Sekolah tinggi, biaya yang dikeluarkan juga tinggi, dan waktu yang digunakan juga lebih banyak, tetapi kontribusinya besar, dan penghasilannya juga tinggi.”

Anak: “Aku paham ayah, aku akan tekun belajar.”

Sebelum pergi ke luar negeri, dia berkata kepada ayahnya, bahwa percakapan dengan ayahnya waktu itu sangat mengesankan.

Berkomunikasi dengan anak tidak perlu disertai dengan intimidasi atau memikatnya dengan sesuatu/hadiah, biarkan anak itu yang akan membuat pilihan terbaik untuk dirinya sendiri.

Pendidikan itu sebenarnya sangat sederhana, berikan aset yang paling berharga kepada anak selama berbicara dengannya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular