* Sejak terungkapnya Komunis Tiongkok menyekap sekitar satu juta warga Muslim minoritas dan suku Uighur di dalam “kamp penataran” Xinjiang, tokoh seluruh dunia yang berhati nurani tidak ada yang tidak merasa marah. Tapi hingga sebelum bulan Oktober tahun ini, Beijing justru masih terus menyangkal keberadaan kamp tersebut.

* Setelah itu, Komunis Tiongkok justru mempromosikan kamp tersebut sebagai “pusat pembinaan profesi”, bahkan mengatur agar “peserta didik” di dalamnya mengakui kesalahannya di depan CCTV (TV nasional Tiongkok).

*Lalu apa wujud sebenarnya dari tempat yang disebut Beijing dengan “pusat pembinaan profesi” itu?

Menurut laporan oleh Voice of Germany tanggal 28 November lalu, majalah “ Winter” yang memberitakan tentang kebebasan dan kondisi HAM masyarakat Tiongkok pada tanggal 26 November lalu merilis suatu film internal terkait “kamp penataran” Xinjiang, film itu mengungkap bahwa “pusat pembinaan profesi” yang disebut oleh RRT itu ternyata tidak berbeda dengan penjara.

Wartawan majalah “Winter” pada bulan Agustus lalu diam-diam menyusup ke “kamp penataran” yang terletak di desa Yengiyer kota Yining provinsi Xinjiang.

Di sana beberapa gedung berlantai empat dicat warna oranye berdiri berderetan, setiap jendela besi ditutup kawat berduri, setiap pintu keluar masuk dilengkapi dengan tiga unit kamera pengintai yang menghadap ke tengah, kiri dan kanan.

Sebuah spanduk panjang dengan tulisan besar melintang di tembok bangunan “Terima kasih pada Kamerad Xi Jinping atas perhatiannya mewakili pusat partai”.

Tiba di dalam, susunan dan penempatannya tidak berbeda dengan penjara atau tahanan. Di setiap kamar ada dua buah jendela besi, di pintu terdapat jeruji besi dan kunci elektronik. Di setiap kamar ada toilet, namun dilengkapi kamera pengawas.

Menurut informasi, satu kamar ditempati maksimal 15 orang. Pada setiap lantai terdapat 28 kamar seperti itu dan 3 ruang kelas.

Di dinding terdapat berbagai tulisan slogan seperti “bersyukur”, “pengertian”, “jadikan belajar bahasa Mandarin sebagai kebiasaan”, “berjuang tak kenal lelah mewujudkan Impian Tiongkok bangsa Tiongkok yang Agung di bawah bimbingan paham sosialis Tiongkok yang berkarakteristik era baru Xi Jinping” dan lain sebagainya.

Selain itu, pada gedung tertentu juga terdapat “Ruang Kendali Pengawasan Kamera CCTV”, dari sebuah layar monitor besar dapat memonitor secara 360° di setiap sudut bangunan dari setiap kamera pengawasnya.

Tawanan di dalam terus diawasi selama 24 jam sehari tidak ada satu pun gerak gerik mereka bisa lolos dari “mata langit” itu, sama sekali tidak ada kebebasan apalagi privasi.

Pintu keluar masuk utama juga dilengkapi dengan pintu besi dan pagar besi. Jendela menghadap luar di koridor juga diperkuat dengan kawat berduri. Ruang yang dipakai sebagai ruang makan pun diperkuat dengan jeruji besi.

Wartawan yang menyamar itu juga memotret di lapangan yang luas dipasang kawat berduri dan masih banyak lagi di atas tanah yang menunggu untuk dirangkai.

BACA JUGA : Derita di Balik Layar Kamp Konsentrasi Muslim Uighur di Xinjiang, Tiongkok

Di suatu tempat yang bertuliskan “tempat perlindungan darurat”, menurut informasi merupakan batas tempat kegiatan luar ruangan bagi para tawanan. Ini juga sarana luar ruangan yang dimiliki di penjara pada umumnya.

Jika dikatakan film yang diabadikan oleh wartawan “Winter” hanya tampak luar dan susunan dalam bangunan saja, maka pemberitaan oleh VoA telah mengungkap begaimana para ‘peserta didik’ yang disekap di dalamnya diperlakukan dengan kejam secara ilegal oleh pihak yang berwenang.

Menurut berita VoA, tanggal 26 November lalu pada konferensi pers yang diadakan National Journalist Club AS yang menyoroti masalah HAM di Xinjiang, seorang wanita suku Uighur bernama Mihrigul Tursaun (29 tahun) mengenang kembali pengalaman penangkapan dirinya sebanyak tiga kali dalam tiga tahun, dan pengalaman pahit hancurnya keluarganya sebagai akibatnya.

Tursaun sempat kesulitan membendung perasaannya, terisak beberapa kali. Peserta yang hadir pun ada yang ikut menangis lirih karenanya.

Tursaun tidak bisa melupakan, suatu hari di bulan Januari 2018, kepalanya dikerudungi kain hitam, tangan dan kakinya diborgol, dan dibawa ke sebuah rumah sakit.

Pakaiannya dilucuti hingga bugil dan diperiksa, lalu dia dikenakan seragam narapidana, yang bertuliskan nomor: 54. Seorang pejabat RRT memberitahunya, seragam napi seperti ini dikenakan pada para tawanan yang kemungkinan akan dihukum mati.

Angka “54” dalam pengucapan bahasa Mandarin berarti ‘aku mati’. “Saya sangat ketakutan, saya berpikir, sampai disini, saya akan mati dalam kamp ini”, begitu tutur Tursaun lewat seorang penerjemah.

Menurut Tursaun, di penjara 210 tempatnya mendekam adalah sebuah penjara yang dibangun di bawah tanah, tanpa jendela, hanya sebuah lubang ventilasi kecil di atasnya, di empat sisi terdapat kamera pengawas.

Saat dia masuk, di dalamnya sudah mendekam sekitar 40 orang wanita lainnya, yang termuda berusia 17 tahun, yang paling tua berusia 62 tahun. Tursaun mengenal mayoritas para tawanan, karena mereka adalah para tetangganya, putri dari gurunya, dokter dan lain-lain… mayoritas mereka adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Setiap jam 5 dini hari, mereka akan dibangunkan oleh suara lonceng yang melengking, sebelum sarapan mereka harus menyanyikan lagu yang memuja partai komunis, lalu meneriakkan ‘Hidup Xi Jinping’ dan juga ‘bicara jujur diperlakukan baik, melawan diperlakukan keras’.

Orang yang tidak bisa menghafalnya tidak boleh makan, dan akan dipukuli. Setiap hari selalu ada orang baru yang masuk, ruangan itu makin lama makin penuh sesak, tiga bulan kemudian saat dia pergi dari sana, ruangan yang luasnya hanya 37 m² itu dipenuhi oleh 68 orang. Malam hari saat tidur, belasan orang harus berdiri, tawanan yang lain tidur dengan posisi miring, bergantian terus setiap dua jam.

Di malam hari, Tursaun kerap bertanya pada dirinya sendiri, kesalahan apa yang telah kuperbuat, mengapa aku bisa berada disini, kejahatan apakah yang telah kulakukan, sehingga harus mendapat perlakukan tidak manusiawi seperti ini? Apakah karena saya pernah tinggal di luar negeri, bisa berbahasa asing, lalu mereka menganggap saya ini adalah mata-mata?

Selama tiga bulan, pihak berwenang berulang kali menginterogasi Tursaun, dengan siapakah dia berhubungan selama di luar negeri, apakah pernah terlibat dalam organisasi. Dia telah merasakan sakit yang menusuk sampai ke sanubari akibat disiksa dengan ‘bangku harimau’, dicekoki dengan obat yang tidak jelas, fisik dan mentalnya mengalami siksaan berat.

“Saya berpikir lebih baik saya mati saja, tidak rela mendapat siksaan seperti itu, saya memohon mereka agar membunuh saya saja,” kisah Mihrigul Tursaun.

Hal yang paling ditakutinya adalah menyaksikan teman satu selnya disiksa sampai tewas. “Naasnya, selama tiga bulan itu, saya telah menyaksikan tewasnya 9 dari 68 orang itu. Jika saya yang disekap di penjara kecil ini, di penjara 210 di kota kecil ini saja, menewaskan sampai 9 orang dalam tiga bulan, tidak bisa saya bayangkan di seluruh negeri berapa banyak yang tewas,” simpul Tursaun. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular