FRANKFURT / PARIS — Huawei menghadapi tantangan baru di Eropa setelah perusahaan telekomunikasi Jerman, Deutsche Telekom, mengumumkan akan meninjau ulang strategi vendornya dan Orange mengatakan pihaknya tidak akan menggunakan perusahaan Tiongkok untuk membangun jaringan generasi berikutnya di Prancis.

Perubahan oleh para pemimpin pasar nasional tersebut, keduanya sebagian dimiliki negara, mengikuti untuk mengecualikan Huawei atas alasan-alasan keamanan nasional oleh beberapa sekutu AS, yang dipimpin oleh Australia, dalam membangun jaringan seluler generasi kelima (5G) mereka.

Para pejabat AS telah memberi tahu sekutu-sekutunya bahwa Huawei pada akhirnya siap untuk mematuhi keinginan atau perintah apa pun negara Tiongkok, sementara memperingatkan bahwa peralatan jaringannya mungkin berisi “pintu-pintu belakang” (back door) yang dapat memberi jalan masuk pada mereka untuk spionase cyber yang secara tidak terdokumentasi mendapatkan akses ke sistem komputer atau data yang terkandung di dalamnya.

Tinjauan ulang Deutsche Telekom tersebut dilakukan saat para regulator AS mengkaji dengan teliti pengambilalihan $26 miliar yang diusulkan oleh unit T-Mobile-nya untuk Sprint Corp yang dikendalikan oleh Softbank Jepang.

Softbank, yang hari-hari biasanya jauh dari memasukkan daftar unit nirkabelnya di Tokyo, berencana untuk mengganti peralatan jaringan 4G dari Huawei, Nikkei melaporkan.

“Kami tidak menduga menelepon Huawei karena 5G,” kata CEO Orange Stephane Richard kepada wartawan di Paris. “Kami akan bekerja dengan mitra-mitra lama kami, mereka adalah Ericsson dan Nokia.”

Richard mengatakan kekhawatiran-kekhawatiran tentang keamanan itu masuk akal: “Saya benar-benar memahami bahwa semua dari negara-negera kita, dan otoritas Prancis, sedang asik tenggelam dengan pikiran sendiri. Kami juga.”

Menteri Ekonomi Peter Altmaier, dalam wawancara dengan Reuters pada 14 Desember mengatakan, “setiap produk, setiap perangkat harus aman jika akan digunakan di Jerman.”

Menanggapi, Huawei mengatakan ia bukan pemasok untuk jaringan 4G Orange yang ada di Prancis dan tidak akan mengutamakan dalam rencana-rencana 5G perusahaan tersebut di Prancis. Huawei menyediakan jaringan Orange di luar Perancis dan berharap untuk terlibat dalam 5G di sana, katanya.

Huawei telah berada di bawah pengawasan ketat sejak negara-negara termasuk Australia, Selandia Baru dan Jepang mengikuti langkah AS untuk membatasi akses ke pasar-pasar mereka, dengan alasan kekhawatiran keamanan bahwa teknologinya dapat digunakan oleh Beijing untuk memata-matai.

Dalam laporan bulan April, Komisi Kajian Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok, sebuah kelompok Kongres, telah menunjukkan hubungan yang luas antara Huawei dengan Partai Komunis Tiongkok. Pendiri Huawei, Ren Zhengfei adalah mantan direktur riset telekom di Departemen Staf Umum militer Tiongkok.

Anak perempuan Ren, Meng Wanzhou, ditangkap di Vancouver, Kanada, pada 1 Desember atas permintaan penegak hukum AS. Dia dituduh terlibat dalam kegiatan untuk menghindari sanksi-sanksi AS terhadap Iran, dan menghadapi ekstradisi ke Amerika Serikat. (ran)

Rekomendasi video:

Strategi Siber Trum Melawan Spionase Siber

Share

Video Popular