Erabaru.net. Nasi merupakan makanan pokok bagi masyarakat di banyak negara. Namun tahukah Anda, jika nasi yang dikonsumsi setiap hari itu ternyata berpotensi mengandung arsenik.

Peneliti yang mempelajari tentang beras dan produk beras di Irlandia Utara mengatakan, bahwa orang-orang yang terbiasa menanak nasi dengan cara umum mengandung kadar arsenik, yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Prof. Andy Meharg dari Queens University Belfast, Irlandia utara, mencoba tiga cara menanak nasi dalam program BBC “Trust Me, I’m a Doctor”.

  • Pertama : Menggunakan perbandingan air dan beras 2:1, agar air dapat menguap selama proses memasak.
  • Kedua : Menggunakan perbandingan air dan beras 5:1, kemudian mengurangi air yang berlebihan saat akan matang.
  • Ketiga : Merendam satu gelas beras di dalam air semalaman, kemudian keesokan harinya airnya dibuang, lalu dimasak seperti metode kedua di atas.

    Hasilnya, residu arsenik paling banyak dalam nasi yang dimasak dengan metode pertama, dan residu arsenik berkurang hingga 43% dalam nasi yang dimasak dengan metode kedua, sementara yang terakhir, residu arsenik berkurang hingga 80% dalam nasi yang dimasak dengan metode ketiga.

    Arsenik merupakan elemen yang ditemukan di alam dan pada produk buatan manusia termasuk pestisida. Arsenik level rendah ditemukan di tanah, air dan udara. Unsur ini diambil oleh tanaman saat mereka tumbuh, dari sinilah awal mula jalan masuk arsenik ke dalam tubuh melalui makanan yang kita konsumsi.

Beras mengandung sekitar 10 hingga 20 kali dosis arsenik lebih tinggi daripada tanaman gandum dan biji-bijian lainnya. Beras menyerap arsenik lebih mudah daripada produk pertanian lainnya karena ditanam dalam kondisi lahan yang digenangi air.

Komunitas ilmiah memiliki pandangan yang berbeda tentang standar keamanan untuk arsenik. Uni Eropa mengkategorikan arsenik anorganik sebagai karsinogen kelas satu.

Studi atau laporan tentang kadar arsenik yang berlebihan dalam beras telah muncul dari waktu ke waktu dalam satu dekade terakhir, sehingga program BBC “Trust Me, I’m a Doctor”menghadirkan pakar terkait untuk membahas masalah keamanan pangan ini.

  • Prof. Andy mempelajari beras dan produk beras selama beberapa dekade. Dia sering melakukan tes dan dia menjelaskan terkait pengamatannya dalam acara tersebut :
  • Padi basmati India memiliki kandungan arsenik yang lebih rendah daripada jenis padi lainnya
  • Beras cokelat mengandung lebih banyak arsenik daripada beras putih
    Pertanian organik tidak berpengaruh pada kandungan arsenik dalam beras
  • Kue beras atau produk popcorn memiliki kandungan arsenik yang lebih tinggi daripada beras
  • Kandungan arsenik dari sirup beras jauh melebihi persyaratan dalam standar arsenik yang aman untuk air minum

    Profesor Andy pernah menemukan kadar arsenik dalam produk beras yang melebihi standar keamanan saat ini, dan sekarang diatur oleh lembaga internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia.

Menurut program BBC “Trust Me, I’m a Doctor”, bahwa untuk mengurangi penyerapan arsenik, Anda bisa memasak nasi dengan metode ketiga di atas. Selain itu, program ini juga menghimbau penonton untuk makan nasi dalam jumlah sedang, sama seperti makanan lain, menjaga pola makan seimbang.

Penelitian di Inggris mendapati sekitar 75 persen makanan berbahan beras untuk bayi dan balita mengandung kadar arsenik yang seharusnya dihindari.

Bayi dan balita sangat lemah terhadap efek arsenik, yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dalam jangka waktu lama, karena mereka masih dalam masa pertumbuhan.

Food Standards Agency menyatakan beras dan produk yang terbuat dari beras dapat diseimbangkan dengan konsumsi makanan jenis lainnya.

“Kami menganjurkan agar orangtua memberikan makanan pada anak, khususnya di bawah lima tahun, agar tidak memberikan minuman dari beras sebagai pengganti susu ASI, susu sapi atau susu formula, karena tidak tepat,” ujar juru bicara FSA.

Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan Panduan Keamanan untuk Kadar Arsenik Beras pada tahun 2014.

Uni Eropa juga memiliki peraturan keamanan terkait kandungan arsenik dalam beras atau produk beras dan menetapkan standar keamanan yang lebih tinggi untuk makanan bayi dan balita.

Setengah dari populasi dunia mengonsumsi beras sebagai makanan pokok, pasar terbesar di Asia Timur, Asia Selatan, dan wilayah Afrika, sementara itu, konsumsi beras di negara Barat sekarang juga meningkat, angka penjualan beras Inggris pada 2015 lalu mencapai 150 ribu ton.(jhn/yant)

Sumber: BBC

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular