Erabaru.net. Tsutomu Uematsu. Lahir di pedesaan Akabira, Hokkaido, dia adalah pembuat roket paling antusias di Jepang. Tidak ada pengalaman, tidak ada latar belakang, dan tidak ada bantuan apa pun.

Dari sebuah pabrik kecil dengan karyawan kurang dari 20 orang, dia embuat roket sendiri dan meluncurkan ke angkasa, bahkan NASA juga kagum dengan sosok pria ini !

Mimpi seperti apa gerangan yang membuatnya membuat alat percobaan eksperimental yang hanya ada tiga di dunia. Alat tersebut bisa membuat kondisi nol gravitasi -sama dengan situasi di luar angkasa.

Dan keyakinan seperti apa, yang membuatnya terus melangkah meski dia mengalami frustrasi, air mata dan tekanan ?

Uematsu memiliki seorang kakek yang sangat menyayanginya. Kenangan yang paling disukai Uematsu adalah ketika menonton pendaratan Apollo ke Bulan saat dia baru berusia 3 tahun. Saat itu, dia sedang menonton tv bersama kakeknya. Tiba-tiba “Lihat! Lihat! Manusia sudah mencapai bulan. Kau juga bisa ke sana kelak.” Kata kakeknya tersenyum gembira ketika itu.

Tak pernah kulihat raut wajahnya sebahagia itu. Aku ingin melihat senyumnya lagi. Jadi, ketika aku pergi ke toko buku, aku selalu memilih buku tentang pesawat dan roket. Kakek sering mengusap-usap kepalaku dan memujiku. Akupun bercita-cita bekerja di bidang penerbangan karena aku ingin melihat senyumnya lagi. Kemudian aku sering membaca berbagai macam buku.

Sampai duduk di kelas enam sekolah dasar ketika itu, Uematsu melihat sebuah buku origami yang mengubah perjalanan hidupnya: “Pesawat kertas yang terbang jauh di angkasa”.

“Pesawat kertas” buatannya yang bisa terbang jauh dan lama di angkasa, hal itu membuatnya jatuh cinta pada segala sesuatu yang bisa “terbang”.

Seni membuat pesawat kertas adalah kumpulan buku origami pesawat dari kertas. Di dalamnya terdapat aneka jenis pesawat kertas, dan Uematsu melipat satu demi satu pesawat kertas dalam buku tersebut. Uematsu tampak bahagia dan timbul kepercayaan dirinya ketika melihat pesawat kertas buatannya.

(Foto: toyokeizai.net)

Uematsu mengatakan bahwa kelak dia ingin bekerja di bidang yang berhubungan dengan roket.

Namun, gurunya justru mencemoohnya, “Tidak mungkin, nilaimu begitu jelek!”

Saat seminar progress ketika itu, gurunya bertanya: “Apa yang ingin kamu kerjakan di masa depan ?”

Dengan jujur Uematsu menjawab : “Saya ingin bekerja di bidang yang berhubungan dengan roket.”

Tapi tak disangka, gurunya justru mencemooh jawabannya dan berkata kepadanya:”Apa yang kamu kerjakan ini percuma saja, kamu harus bisa lulus di Universitas Tokyo, tapi dengan nilaimu seperti ini mustahil kamu bisa.”

“Lebih baik kamu terima saja kenyataan itu!” tambah gurunya menyindir.

Hal itu membuat hidupnya jatuh ke dalam jurang kegelapan, dia merenung, apa itu kenyataan yang harus dihadapi ?

Namun Uematsu tidak mau menyerah begitu saja. Karena dia pernah membaca di buku: Wright bersaudara juga tidak pernah kuliah di Universitas Tokyo!

Demi bisa kuliah, dia belajar dengan giat, dan akhirnya, diterima di universitas nasional – Kitami Institute of Technology.

Dia mengambil jurusan mekanika fluida, performanya maju dengan pesat. Meski tidak belajar dengan serius, dia bisa mendapatkan nilai sempurna untuk hampir setiap mata kuliah.

(foto : Kuil kokubunji, Jepang)

Ternyata sesuatu yang semula tidak bermakna di mata orang dewasa, semuanya menjadi mata kuliah yang berharga saat kuliah.

Sejak kecil dia telah belajar sendiri, karena itu dia sangat bersemangat dan penuh keyakinan bisa bergabung dengan perusahaan terkenal di Nagoya setelah lulus, dan mulai mengembangkan pesawat dan roket.

Dia membuat pesawat penumpang di sana, membuat pesawat tempur dan mengembangkan pesawat luar angkasa.

Dia sangat mencintai pekerjaan itu. Itu membuatnya merasa seperti berada dalam mimpi yang menjadi kenyataan

Namun, setelah 5 tahun bekerja, Uematsuu mengundurkan diri.

Karena dia melihat semakin banyak rekan kerjanya yang tidak suka pesawat terbang, meski itu adalah pekerjaan favoritnya.

Karena atmosfer perusahaan yang tidak beres menurutnya, akhirnya dengan tegas dia berhenti dari pekerjaannya. Dia kembali ke pabrik yang dibangun ayahnya dengan karyawan hanya 2 orang.

Dia pulang mengambil alih pabrik kecil yang dioperasikan ayahnya, dan kebetulan bertemu dengan seorang profesor yang juga ingin “membuat roket”.

Setelah mengambil alih pabrik ayahnya, Uematsu mengawali semuanya dari awal dan belajar kembali cara mengoperasikannya.

Beberapa tahun kemudian, dia berhasil membuat pabriknya lebih hidup, namun dia tidak pernah lupa dengan mimpinya untuk membuat roket. Sampai dia bertemu seseorang yang mengubah hidupnya.

Dia bertemu Prof. Nagata yang mengembangkan roket yang aman di Hokkaido.

Uematsu yakin bahwa bertemu dengannya adalah keajaiban dalam hidupnya. Keduanya bahu membahu, kemudian Uematsu mengubah pabriknya menjadi pabrik R & D roket kecil dan mulai bekerja sama membuat roket.

Tsutomu Uematsu (Kiri) dan Profesor Nagata (Kanan) dari Universitas Hokkaido

Dia mengalami liku-liku dalam mengembangkan roket. Setelah upaya keras akhirnya berhasil mengembangkan mesin roket, namun, tak disangka, mesin roketnya meledak saat pertama kali diuji coba..tapi Uematsu tidak berkecil hati.

Meskipun staf yang bertanggung jawab atas rangkain mesin itu tidak tahu lagi apa yang sebaiknya dilakukan, namun, Uematsu tidak serta merta naik pitam, tapi dia bertanya: “Mengapa bisa meledak?”

Setiap saat eksperimen gagal, dia tidak langsung menyalahkan stafnya, tetapi mencari tahu sebab kegagalan, dan meninjau rencana selanjutnya, hingga akhirnya, dia berhasil meluncurkan roket!

Tetapi karena tingginya biaya peluncuran roket, dan umumnya harus mencari dukungan dari sponsor baru bisa terlaksana.

Namun, daripada mencari pemilik modal, Uematsu bertahan dengan sikapnya, dia menolak dengan tegas 800 juta dollar yang disponsori perusahaan, dia ingin meluncurkan roket dengan segenap kemampuannya sendiri.

Untuk mewujudkannya, dia dan Prof. Nagata mulai mendalami “penelitian nol gravitasi”. Dia membangun menara eksperimen dengan kondisi nol gravitasi di pabrik.

Di dunia, selain NASA Amerika Serikat, dan Jerman. Menara eksprimen ketiga di dunia adalah pabrik Uematsu.

Hal ini telah menarik perhatian NASA, dan secara khusus mengunjungi pabrik mereka untuk melakukan percobaan!

Dengan penuh keyakinan Uematsu mengatakan : “Selama kamu berani bermimpi, maka impianmu itu akan menjadi kenyataan!”

Tsutomu Uematsu, tidak memiliki pengalaman, tidak punya latar belakang, dan tidak ada bantuan apa pun. Dari sebuah pabrik kecil dengan kurang dari 20 karyawan hingga sukses membuat roket dan meluncurkannya ke angkasa.

Uematsu membuktikan kepada semua orang dengan kisahnya sendiri, meski orang-orang menertawakan mimpimu, tapi jangan sampai terpengaruh oleh mereka, lalu menyerah begitu saja dengan segala kemungkinan yang ingin kamu wujudkan semula.

“Mungkin dan mustahil itu tergantung pada sikap dan tekad Anda sendiri.”

Mimpi yang ditertawakan itu baru layak dilakukan.

Uematsu selalu berpegang teguh pada keyakinannya : “Selama kamu berani bermimpi, maka impianmu itu pasti akan menjadi kenyataan.”

Ketika orang lain mengatakan dia tidak cerdas, dia justru belajar pengetahuan dari luar sekolah.

Dan ketika orang lain mengatakan harus punya uang baru bisa sukses, dia memilih menghasilkan uang dengan kemampuannya sendiri untuk mengembangkan roket.

Ketika roket yang dibuatnya dengan susah payah meledak, dia bukan saja tidak berkecil hati, sebaliknya justeru berusaha mencoba memecahkan masalah bersama rekannya.

Hanya dengan percaya pada diri sendiri dan bekerja keras pantang menyerah seperti Uematsu, maka setiap orang dapat menantang sesuatu yang “mustahil” dan terbang ke alam semesta yang tak berujung!(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular