Erabaru.net. Pada musim dingin ketika itu, Chen Liying membawa putrinya yang berusia 4 tahun pergi ke pasar dan menjual hasil kebunnya untuk membeli barang-barang untuk tahun baru.

Chen Liying masih ingat dengan jelas pagi itu dia sudah keluar rumah, dan belum sempat sarapan. Setelah sampai di pasar, dia mengambil roti kukus yang telah disiapkannya sejak pagi dan makan bersama purtinya sambil berjongkok di tanah.

Meski masih kecil, tapi putrinya cukup dewasa dalam berpikir, dia memberikan sebagian rotinya ketika melihat roti ibunya sudah habis dimakan, “Bu, makanlah sedikit lagi!”katanya sambil menyuapkan rotinya ke mulut ibunya.

Chen Liying tersenyum sembari mengusap kepala putrinya, kemudian menyuapkan roti itu kembali ke mulut putrinya.

“Ibu sudah kenyang, Ya Ya makan yang banyak ya, biar cepat besar!” Ujar ibunya sambil tersenyum. Ya Ya pun membuka mulutnya dan melahap roti itu.

Pada saat itu, orang-orang yang pergi ke pasar semakin ramai, dan Liying pun mulai sibuk dengan pekerjaannya, tidak sempat lagi mengurus Ya Ya, putrinya.

Seusai makan roti dari ibunya, Ya Ya pun bermain di sekitar lapak ibunya. Sesekali mengambil sesuatu dari atas tanah dan menggoda ibunya sambil berseru, “Bu, Bu, ibuuu, coba lihat, apa ini?” teriaknya.

Tapi Liying tampak sibuk dengan pembeli yang tawar-menawar barangnya, tidak punya waktu untuk mengurus putrinya.

Terkadang Liyingg terbakar emosi saat meyakinkan pembeli yang menawar barangnya, sementara Ya Ya terus saja berteriak di sana dan bikin kesal, kemudian karena tak tahan lagi ibunya pun memarahinya, “Gak lihat ibu lagi sibuk ya, ganggu saja, sana pergi, main di sana saja!” Bentak ibunya kesal.

Ya Ya langsung pergi setelah dimarahi ibunya. Liying, juga tidak memperhatikan putrinya lagi, dia pikir putrinya sedang bermain tidak jauh dari lapaknya. Hingga menjelang siang, dan setelah habis menjual kandang ayamnya, tiba-tiba Liying baru ingat putrinya entah bermain di mana.

Awalnya, Liying tidak merasakan apa-apa. Dia mencari Ya Ya di pasar sambil memanggil-manggil nama putrinya : “Ya ya, ayo pulang! Ya Ya …” teriaknya.

Namun, tidak ada jawaban, bahkan bayangannya pun tidak kelihatan ! Saat itulah, Liying mulai panik, dia berpikir putrinya mungkin telah hilang. Dia pun mulai berteriak panik memanggil putrinya,: “Ya Ya…Ya Ya, kamu di mana ? tidak seharusnya ibu membentakmu tadi.”

Liying semakin cemas dan putus asa, orang-orang yang mendengar teriakannya pun ikut panik dan membantu mencarinya!

Seseorang mengatakan bahwa dia sempat melihat seorang wanita pergi sambil menggendong seorang gadis cilik, dan sepertinya itu adalah Ya Ya yang sedang dicari Liying.

Tiba-tiba pria itu memukul jidatnya : “Sejak awal aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita itu, tapi kenapa tidak aku perhatikan ya?” Ahh, semua salahku! Gumamnya seakan menyalahkan dirinya.

Namun, semuanya sudah terlambat …

Menjelang malam, pasar yang ramai berangsur-angsur mulai sepi. Hanya tinggal Liying sendirian, matanya tampak merah dan bengkak karena menangis, dia berjalan pulang dengan langkah berat.

Sesampainya di pintu rumah, anjing tua di rumahnya berlari keluar menyambutnya sambil mengibas-ibaskan ekor tapi malah ditendang oleh Liyingg!

Liying berpikir keluarga akan menyalahkannya karena kehilangan Ya Ya, tetapi tak disangka mereka hanya menemani mencari-cari sebentar, lalu membujuk Liying pasrahkan saja!

Mungkin, di zaman itu, jika yang hilang adalah anak perempuan, suami dan bapak-ibu mertua tidak akan terlalu peduli, tetapi bagi seorang ibu, itu bagaikan diiris sembilu, rasa sakit yang serasa menusuk ulu hati ini mungkin ratusan kali lipat dari rasa sakit saat melahirkan!

Liying menjerit dan berteriak sambil memukul dadanya, : “Tidak, saya harus mencarinya, saya harus mencarinya sampai dapat, aku penyebabnya, tidak seharusnya aku membentaknya tadi, teriaknya sambil terus menangis, bagaimana pun saya harus mencarinya …”

Namun, kesedihan Liying mungkin hanya bisa dirasakan anjing tua di rumahnya. Anjing itu menatap tuannya. Chen Liying seakan menemukan penyelamat, dia memeluk anjingnya dengan sedih dan menyalahkan dirinya!

Pada hari-hari berikutnya, anjing itulah yang selalu menemani Liying menelusuri jalan demi jalan selama lebih dari tiga bulan. Dalam tiga bulan itu, Chen Liying seperti mayat hidup, selain kabar mengenai putrinya, tidak ada hal lain yang bisa membuat hatinya menjerit!

Di bawah temaran bintang-bintang setiap malam, hanya anjing tua itulah yang selalu menemani Chen Liying, berbagi kesedihan dan menyalahkan dirinya atas kehilangan putri tercinta …

Memang tidaklah mudah menemukan kembali anak yang hilang. Tiga bulan kemudian, Chen Liying terpaksa harus menyerah dan pulang ke rumah. Untung ada anjing yang menemaninya di sepanjang jalan, sehingga tidak merasa kesepian.

Seiring berjalannya waktu, Liying telah memastikan tidak akan dapat menemukan putrinya lagi !

Sampai dua tahun kemudian, saat Chen Liying ke pasar bersama anjing tuanya. Mungkin karena selalu ditemani anjing tuanya ketika mencari putrinya dulu, Liying pun sudah terbiasa membiarkan anjingnya ikut bersamanya, dia selalu merasa agak tenang dan nyaman ditemani anjingnya!

Di pasar, Chen Liying melihat seorang pengemis cilik yang malang, badannya kurus kering, diam tak bergerak berbaring di tengah hembusan angin dingin, badannya kotor dan dekil, tidak terurus, tidak bisa memastikan apakah itu laki-laki atau perempuan!

Di sebelah pengemis cilik tampak seorang pengemis yang lebih besar sedang meminta sedekah untuk menyelamatkan saudara perempuannya yang sakit.

Pemandangan itu benar-benar menyedihkan dan membuat orang tak tega melihatnya. Liying pun memberi sedikit uang untuk pengemis itu.

Saat itu, entah kenapa anjing tuanya tiba-tiba menggonggong sambil menatap pengemis cilik itu, dan menarik lengan baju pengemis cilik yang berbaring di tanah ke arah Chen Liying.

Liying terkejut melihat anjingnya yang biasanya jinak tiba-tiba bersikap seperti anjing gila ! Tiba-tiba, dia merasa ada yang ganjil, anjingnya tidak menggigit, tapi seakan ingin menunjukkan sesuatu kepadanya. Tindakan anjingnya sama seperti saat ia menangkap binatang liar di ladangnya ketika itu.

Liying tiba-tiba mengerti apa gerangan yang terjadi, dia menyingkap rambut pengemis cilik yang berantakan untuk melihat lebih jelas, dan membuatnya tercengang, ternyata pengemis cilik itu adalah Ya Ya, putrinya !

Meskipun tampak kurus dan dekil, tapi dia masih mengenalinya! Bagaimana mungkin seorang ibu tidak mengenali putri kandungnya sendiri ?

Jika bukan karena anjingnya yang sekilas mengenali pengemis cilik itu adalah tuan kecilnya, mungkin Chen Liying tidak akan pernah bertemu lagi dengan putrinya. Dan tidak ada yang tahu anaknya akan menjadi seperti itu?

Chen Liying memeluk putrinya sambil memanggil namanya. “Ya Ya, kamu Ya Ya, bukan? Putriku, bagaimana kabarmu? Aku ibu, ibumu nak…” kata Chen Liying sambil menahan gejolak perasaanya.

Sesaat kemudian Ya Ya baru berani membalas pelukan ibunya memeluk ibunya dan menangis : “Bu, aku Ya Ya, bu …”teriaknya sambil menangis.

Tuhan tahu apa yang terjadi padanya selama dua tahun ini, bagaimana pun dia tidak berani bergerak dan membuka matanya ketika seekor anjing menyeretnya ke hadapan Chen Liying, ibu kandungnya.

Saat itu, pengemis lainnya telah kabur tanpa jejak, sementara anjing tua itu sudah terlalu tua untuk mengejarnya!

Hanya tampak ibu dan putrinya itu yang berpelukan sambil menangis, dan tumpahan air mata sedih bercampur bahagia pun seketika membasahi pakaian mereka berdua!

Sementara anjing tua mereka yang selalu setia juga ikut menyalak seakan bahagia melihat tuan kecilnya sudah ditemukan.

Untungnya, selain bekas luka luar, Ya Ya tidak mengalami luka serius lainnya!

“Anjing ini saya pungut dari tempat sampah dan memeliharanya. Saya benar-benar tidak menyangka dia sangat cerdas dan setia. Untung ada dia, kalau tidak mungkin saya tidak akan pernah melihat putri saya lagi ! ” Guman Liying.

Sejak itu, Chen Liying dan putrinya menjadi sangat sayang pada anjing tua itu. Mereka selalu bercerita tentang anjing penyelamatnya, dan anjing tua itu pun selalu mengibas-ibaskan ekornya gembira seakan tahu dirinya menjadi bahan cerita tuannya.

Kejadian yang diceritakan dalam kisah ini mungkin sudah sangat lama, diceritakan oleh seorang nenek tetangga saya, waktu kejadiannya tidak diketahui secara pasti, tetapi itu benar-benar kisah nyata tentang seekor anjing cerdas dan setia yang berhasil menemukan tuan kecilnya yang hilang, dan kisah ini rasanya layak untuk dibagikan!(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular