Erabaru.net. Dibalik tiga kalimat dari orang desa dan orang kota adalah konsep pendidikan, pembelajaran dan keyakinan hidup!

Tiga kalimat dari orang desa:

  1. Nak, ayah-ibu tidak berguna, kamu harus mengandalkan dirimu sendiri
  2. Nak, kamu harus tahu bagaimana bertingkah laku dalam masyarakat, tidak boleh melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain
  3. Nak, berusahalah semampumu untuk meraih cita-cita, kalau pun gagal, pulanglah, keluarga akan selalu menjadi dermaga perjuangan yang bisa kamu sandarkan

Tiga kalimat orang kota yang justru menjerumuskan anak:

  1. Sayang, kamu cukup belajar saja dengan rajin, lainnya biar ayah-ibu yang kerjakan
  2. Sayang, ingatlah baik-baik jangan sampai dirugikan
  3. Ayah/ibu ingatkan, kalau kamu tidak belajar dengan rajin, kelak kamu akan susah mencari makan (hidup)

Kalimat pertama orang desa : Nak, ayah-ibu tidak berguna, kamu harus mengandalkan dirimu sendiri.

Maksud dari konsep ini adalah agar anak belajar mandiri, jangan selalu bergantung pada orangtua atau orang lain, kembangkan semangat mandiri, dan tingkatkan kesadaran dalam menghadapi kondisi kritis dan rasa tanggung jawab keluarga.

Kalimat pertama orang kota: Sayang, kamu cukup belajar saja yang rajin, lainnya biar ayah-ibu yang kerjakan.

Konsep ini adalah membiarkan anak mengembangkan ketergantungan mereka dan bahkan lebih parah lagi, anak itu berpikir bahwa hidup itu “cukup belajar dengan baik”, tetapi tidak tahu bahwa perkembangan seseorang itu seharusnya secara keseluruhan.

Kalimat kedua orang desa : Nak, kamu harus tahu bagaimana bertingkah laku dalam masyarakat, tidak boleh melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain.

Makna dari konsep ini adalah membuat anak itu memahami bahwa sikap dan tingkah laku seseorang merupakan hal yang penting sepanjang hayat, hanya dengan sikap dan tingkah laku yang baik baru bisa meraih kesuksesan dan dihormati oleh orang lain.

Kalimat kedua orang kota: Sayang, ingatlah baik-baik jangan sampai dirugikan.

Konsep seperti ini sama dengan mengembangkan anak berjiwa kerdil, picik, egois, dan benih-benih kepribadian yang egois dan berjiwa kerdil inilah yang ditanamkan orangtua pada anaknya.

Anak-anak seperti ini akan sulit untuk bisa bekerja sama dengan orang lain, sulit untuk berteman, dan sulit untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidupnya kelak, dan bahkan hubungan antar keluarga juga tidak harmonis.

Kalimat ketiga orang desa : Nak, berusahalah semampumu untuk meraih cita-cita, kalau pun gagal, pulanglah, keluarga adalah pelabuhan yang bisa kamu sandarkan selamanya.

Konsep semacam ini adalah mendidik anak-anak agar memiliki tekat, menjadi berani dan ulet untuk mewujudkan mimpi mereka, sekaligus memberi tahu anak bahwa ayah-ibu sangat menyayangi dan mencintainya, tidak peduli mengalami kegagalanapa pun, keluarga akan selalu menjadi dermaga perjuangan yang bisa disandarkan.

Kalimat ketiga orang kota: Ayah/ibu ingatkan, kalau kamu tidak belajar dengan rajin, kelak kamu akan susah mencari makan (hidup).

Orangtua seperti ini tanpa sadar sedang memberi tahu anaknya bahwa tujuan hidup adalah untuk makan, jadi tertanamlah wawasan dan pikiran yang sempit dan berjiwa kerdil pada diri si anak.

Selain itu, orangtua seperti itu memberi tahu anaknya bahwa belajar hanyalah alat untuk mencari sesuap nasi. Orangtua seperti ini sebenarnya sedang membantu anaknya mengembangkan konflik batin terhadap pembelajaran. Bayangkan saja, mungkinkah orang yang tidak suka belajar itu akan meraih apa yang diharapkan ?

Ada orangtua, tidak memiliki harta dan kekuasaan, tetapi anaknya bisa membanggakan keluarga.Ada juga orangtua punya kekuasaan dan kaya raya, namun, anaknya tidak berguna.

Ada orangtua yang tidak berpendidikan, tapi bisa mendidik anak-anaknya menjadi sosok orang yang membanggakan. Ada orangtua yang berpendidikan tinggi, tapi gagal mendidik anaknya menjadi orang yang bisa dibanggakan keluarga.

Ada orang tua yang tidak memiliki wawasan, tapi berbudaya, sebaliknya ada orangtua yang berwawasan luas, tetapi tidak berbudaya.

Ada orangtua yang pintar, tetapi tidak bijak (sikap/tingkah laku).Ada orangtua yang tidak pintar, tetapi bijaksana.

Kesuksesan apa pun tidak dapat menebus kegagalan dalam mendidik anak.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds