Erabaru.net. Alkisah dahulu kala, di sebuah negeri kecil ada seorang hartawan yang hebat bernama Wanbao . Dia adalah mantan seorang perdana menteri, tidak hanya memiliki rumah yang mewah, taman perbukitan yang luas, tetapi juga harta benda berupa emas dan perak yang tak terhitung banyaknya. Konon katanya, kekayaannya bahkan melampaui raja negeri itu.

Dalam beberapa kali bencana, sang raja harus meminjam uang darinya untuk membantu rakyat yang tertimpa bencana. Jadi, dapat dikatakan kekayaan Wanbao memang tak terhitung banyaknya.

Meskipun Wanbao memiliki uang yang melimpah, tapi dia sangat pelit, jangan harap akan mendapatkan uang sepeser pun darinya, bahkan raja yang meminjam uang darinya juga harus membayar bunga pinjaman !

Dia pernah berkata: “Sekalipun saudara sekandung, tapi dalam hal uang juga tidak boleh ceroboh. Karena uang adalah milik pribadi, dan tidak boleh dibagi, kalau dibagi bukankah akan membuat orang malas tidak mau bekerja, cukup mengandalkan kerabatnya saja yang kaya raya?”

Wanbao memiliki seorang putra, bernama Xiao Bao, yang belajar dengan Huang Wei, seorang guru tua yang bijak dan berwawasan luas.

Meskipun Wanbao sangat mengagumi pengetahuan Huang Wei, tapi dia tetap saja masih memandang rendah guru Huang, karena selain hanya beberapa lemari buku, guru Huang tidak punya aset berharga apa pun, bahkan beberapa potong pakaian yang layak juga tidak punya.

Huang Wei bukan tidak punya kesempatan untuk menghasilkan uang, tetapi dia sering mengajar murid-muridnya yang miskin tanpa memungut biaya dan menyumbangkan uangnya ke panti asuhan untuk membantu orang-orang miskin.

Suatu siang, saat Wanbao sedang tidur siang, tiba-tiba dia melihat dua malaikat sedang berbicara.

Seorang malaikat berkata, : “Malam ini, orang terkaya dari negeri kerajaan akan mati! Kita harus menjemputnya ke surga.”

“Ya, saya telah menyiapkan sebuah mahkota emas untuknya.”sahut malaikat lainnya.

Wanbao terbangun dari tidurnya, dia berpikir hartawan yang akan mati yang dibicarakan kedua malaikat itu pasti dirinya! Dia pun gelisah dan menjadi takut.

Meskipun tahu bisa masuk ke surga adalah harapan umat manusia setelah mati, tapi dia merasa sayang dengan harta bendanya yang melimpah, apalagi meninggalkan hidupnya yang mewah dan kesenangan di dunia.

Setelah bangun, Wanbao buru-buru memerintahkan pelayannya untuk membawa beberapa tabib terkenal dari seluruh negeri, dan membawa obat-obatan ke rumahnya untuk menjaganya. Jika terjadi sesuatu, bisa segera ditangani, sehingga dia tidak akan mati!

Malam itu adalah malam terpanjang bagi Wanbao, dia gugup dan takut, sementara para tabib juga ikut tegang bersamanya. Akhirnya, malam yang panjang itu pun berlalu, langit di timur tampak cerah dan perlahan-lahan mentari merah yang cerah pun menyingsing dari peraduannya.

Wanbao tidak meninggal, dan dia sangat bahagia mengetahui dirinya masih segar bugar, dan para tabib juga ikut senang bersamanya, tetapi uang yang diberikan Wanbao untuk para tabib itu tidaklah banyak, alasannya para tabib tidak memberikan pengobatan apa pun padanya, jadi hanya memberikan uang transport lalu menyuruh mereka pergi.

Pada saat itu, terdengar dentang lonceng di atas menara gereja di seberang jalan, orang-orang segera paham itu adalah lonceng tanda belasungkawa untuk orang mati.

Tiba-tiba, putra Wanbao menangis dan berkata,: “Guru Huang meninggal tadi malam! Sekarang segenap penduduk kota berkumpul di gereja turut berdukacita atas kepergiannya. Ayah, pergilah sebentar sebagai bentuk belasungkawa!”

Meskipun Wanbao memandang rendah guru Huang Wei yang miskin, tetapi demi putranya yang belajar dengannya, dengan terpaksa Wanbao pergi juga ke gereja dengan beberapa pengawalnya untuk mengahadiri upacara perkabungan.

Gereja itu dipadati orang-orang dari luar dan dalam. Banyak orang menangis sedih di depan peti mati guru Huang Wei, dan banyak yang memujinya sebagai sosok orang yang baik dan ramah.

Wanbao merasa heran, karena tak menyangka seorang guru miskin yang meninggal dipadati orang-orang hanya untuk menyampaikan belasungkawa kepadanya.

Wanbao mengernyitkan keningnya, “Malaikat bilang orang yang akan mati adalah seorang hartawan paling kaya, ya benar, tidak salah lagi, Huang Wei pasti memiliki banyak harta yang disembunyikan di rumahnya,” gumam Wanbao.

Lalu, dengan alasan merapikan barang-barang peninggalan guru putranya, Wanbao menggeledah setiap sudut rumah guru Huang, tetapi tidak ada barang berharga apa pun yang ditemukan selain buku dan manuskrip.

Wanbao sangat heran, di seluruh negeri hanya dia satu-satunya hartawan terkaya. Tapi kenapa seorang guru yang miskin dikatakan sebagai orang yang kaya raya oleh malaikat? Karena penasaran, dia pun bertanya kepada banyak orang.

(Foto: Pixabay)

“Meski pun guru Huang miskin, tetapi cinta kasih, perbuatan dan akhlaknya telah banyak terkumpul di surga. Kekayaan ini tidak akan berkarat, tidak akan busuk, dan tidak akan bisa dicuri. Tidak seperti harta dunia, meski disimpan di tempat paling rahasia sekali pun juga tidak akan bisa dibawa jika sudah mati, dan justeru menjadi miskin sesampainya di surga,” kata pendeta kepada Wanbao.

Wanbao terkejut seketika setelah mendengar penjelasan pendeta. Tiba-tiba, seakan mengerti sesuatu, lalu berkata kepada dirinya sendiri dan putranya, untuk melakukan sesuatu seperti yang dilakukan guru Huang.

Sekarang Wanbao sering bersedekah dengan harta bendanya, membantu orang-orang miskin dan orang sakit, selain iu juga juga banyak menyumbangkan uangnya untuk rumah ibadah, sekolah, rumah sakit dan amal lainnya.

Sebelum meninggal, Wanbao sudah menjadi dermawan terhebat di seluruh negeri. Dia berpesan kepada putranya : “Setelah ayah tiada, makamkan ayah di depan kuburan guru Huang Wei dan ukir dengan kalimat : “Makam Wanbao murid Huang Wei di atas batu nisan” demikian pesan terakhir Wanbao kepada putranya. (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular