Saat dalam kunjungan ke Beijing pada pertengahan Desember, Presiden Ekuador Lenin Moreno mendapatkan pinjaman US$900 juta dari Tiongkok untuk meningkatkan ekonomi negaranya yang kekurangan uang.

Selain bertemu dengan pejabat Tiongkok, Moreno juga mengunjungi pusat pengembangan teknologi milik raksasa teknologi Tiongkok Huawei di Beijing, menurut surat kabar harian Ekuador El Comercio.

Masalah ekonomi Ekuador sebagian disebabkan oleh pinjaman yang besar selama masa pemerintahan Presiden Rafael Correa, yang menjabat sejak tahun 2007 hingga 2017. Menurut data dari Kementerian Ekonomi Ekuador, utang negara pada Tiongkok saat ini berjumlah US$6,5 miliar, menjadikannya sebagai kreditor terbesar bagi Ekuador.

Tiongkok telah membiayai sejumlah proyek infrastruktur, kebanyakan melalui pinjaman, termasuk pembangunan rumah-rumah sakit, jembatan, proyek pembangkit listrik tenaga air, dan ECU 911, sistem tanggap darurat nasional negara tersebut. Yang terakhir biayanya sekitar $240 juta.

Korporasi China National Electronics Import and Export Corporation (CEIEC), cabang dari China Electronics Corporation (CEC) milik negara, kontraktor utama untuk militer Tiongkok, adalah kepala arsitek proyek ECU 991.

Ketika media pemerintah Tiongkok menggembar-gemborkan keberhasilan ECU 911, telah menerbitkan artikel yang mengklaim bahwa ECU 911 telah membantu menurunkan tingkat kejahatan di Ekuador, skala sistem dan peralatannya, beberapa di antaranya disediakan oleh raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei, telah memicu kekhawatiran keamanan.

ECU 911

Menurut situs resmi ECU 911, sistem tanggap darurat tersebut telah memiliki jaringan pengawasan yang luas dengan sekitar 4.500 kamera video pengintai telah terpasang, serta 16 pusat tanggap darurat regional di seluruh negeri tersebut.

Banyak dari kamera ini dibeli dari Huawei. Menurut sebuah dokumen bertanggal Februari 2017 dari Layanan Pengadaan Publik Nasional di Ekuador, ECU 911 telah membeli 225 kamera kubah Huawei dengan nomor model IPC6625-Z30 pada tahun 2016 dengan harga US$3.516,80 per kamera. Layanan tersebut juga membeli router Huawei, titik akses nirkabel (perangkat yang membuat jaringan nirkabel area lokal), sakelar-sakelar jaringan, dan alat-alat pengontrol akses nirkabel.

teknologi pengawasan massa huawei
Seorang petugas di pusat ECU 911 di Quito, Ekuador, pada 9 November 2013. (Juan Cevallos / AFP / Getty Images)

Laporan-laporan pengeluaran tambahan dari Kementerian Keuangan Ekuador menunjukkan bahwa ECU 911 menghabiskan setidaknya US$700.000 pada tahun 2014 untuk peralatan Huawei, termasuk server, sistem pengawasan video, dan sistem penyimpanan data. Pada tahun 2015 dan 2016, pemerintah membelanjakan total lebih dari $900.000 untuk membeli sistem-sistem tanggap cepat LTE Huawei, sistem pengawasan dan komunikasi portabel yang dapat digunakan dari kendaraan.

Ekuador tidak membayar untuk semua kamera-kamera dan sistem-sistem tersebut yang saat ini sedang operasional. Pada tahun 2017, Kedutaan Besar Tiongkok di Ekuador, berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2015, telah menyumbangkan barang-barang senilai total US$15,4 juta untuk ECU 911, termasuk sekitar 450 kamera, 1.640 video pengawasan dan sistem-sistem penyimpanan, serta 14 server, menurut situs web resmi layanan tersebut . Perjanjian tersebut juga menyerukan pada Tiongkok untuk memberikan pelatihan teknis kepada teknisi-teknisi Ekuador yang mengelola sistem tanggap darurat tersebut. Tidak diketahui perusahaan-perusahaan Tiongkok yang mana yang memproduksi barang-barang yang disumbangkan tersebut.

Pada bulan Januari, South China Morning Post melaporkan bahwa kamera ECU 991 yang dilengkapi dengan teknologi pengenal wajah telah digunakan di kota Cuenca, dan di dua bandara negara tersebut di Quito dan Guayaquil.

Ketika Huawei membanggakan diri pada kamera-kamera yang dilengkapi dengan teknologi pengenal wajah, para ahli hak asasi manusia telah mengangkat kekhawatiran tentang sifat invasif dari inovasi semacam itu.

Sarah Cook, analis riset senior untuk Asia Timur di Freedom House, dalam kesaksian yang dipresentasikan pada sidang kongres AS pada bulan September, menulis bahwa Xinjiang, wilayah barat laut di mana banyak penduduk Muslim Uighur sekarang sangat ditindas oleh otoritas Tiongkok, “telah menjadi laboratorium untuk teknologi-teknologi pengujian data besar, perangkat lunak pengenal wajah, dan pemindai ponsel cerdas yang pada akhirnya dapat digunakan di seluruh Tiongkok dan sekitarnya.”

KEKHAWATIRAN KEAMANAN

Tiongkok telah meningkatkan pengawasan negara bagian dalam beberapa tahun terakhir, dengan jaringan besar kamera keamanan di seluruh negeri untuk memantau warga dan menghabisi para pembangkang. Akibatnya, ada kekhawatiran bahwa Tiongkok dapat mengekspor keahlian pengawasannya tersebut ke negara-negara lain untuk penggunaan-penggunaan yang bersifat menindas.

Shashank Joshi, seorang rekan senior di Royal United Services Institute, sebuah think tank yang berbasis di Inggris, menyatakan kekhawatiran tentang “norma politik” yang terkait dengan ekspor pengawasan tersebut. Dalam editorial Agustus 2018, berjudul “Ecuador’s All-Seeing Eye Is Made in China” (Semua Mata Penglihatan Ekuador Dibuat di Tiongkok), yang diterbitkan dalam majalah Kebijakan Luar Negeri, Joshi mengatakan penggunaan sistem-sistem pengawasan Tiongkok dapat membangkitkan semangat prinsip-prinsip otoriter dan pengawasan di mana-mana.

Pada November 2016, Usuarios Digitales, organisasi berbasis di Ekuador yang mempromosikan hak asasi digital, memperingatkan bahwa kemampuan pengenalan wajah ECU 911 dapat digunakan untuk tujuan represif, seperti mengidentifikasi orang-orang yang berpartisipasi dalam demonstrasi-demonstrasi sosial.

David Denoon, seorang profesor politik dan ekonomi di New York University dan direktur sekolah Pusat Hubungan AS-Tiongkok, menunjukkan aspek eksploitasi lain yang timbul dari bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok.

“Sistem-sistem Telekomunikasi dan pengawasan dianggap proyek yang menarik [untuk Tiongkok] karena mereka mengizinkan pemantauan konten lokal dan biasanya mengarah pada kontrak-kontrak jangka panjang untuk suku-suku cadang,” kata Denoon pada Foreign Policy.

Banyak pemerintah di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Australia, telah mengemukakan kekhawatiran tentang celah keamanan pada peralatan dan telepon yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok, terutama oleh Huawei dan ZTE, pesaing utama pendahulu sebelumnya.

Pada bulan Mei, Pentagon AS mengeluarkan perintah untuk menghapus semua telepon buatan dua perusahaan tersebut yang dijual di toko-toko di pangkalan militer AS, karena khawatir bahwa perangkat-perangkat tersebut dapat digunakan untuk memata-matai pasukan AS.

HUAWEI

Masuknya Huawei ke Ekuador berada di belakang kamera-kamera dan sistem-sistem pengawasan. Faktanya, Huawei adalah kontraktor utama untuk perusahaan telekomunikasi milik negara Ekuador, CNT.

Pada tahun 2009, Huawei dianugerahi kontrak $24,49 juta oleh CNT untuk memperluas jaringan serat optik negara tersebut, menurut El Comercio. Pada Juli 2011, Huawei adalah salah satu dari dua perusahaan yang diberikan kontrak untuk memperbarui jaringan 3G CNT, menurut surat kabar harian Ekuador El Telegrafo.

sistem pengawasan massa huawei di equador
Pusat ECU 911 di Quito, Ekuador, pada 9 November 2013. (Juan Cevallos / AFP / Getty Images)

Namun negara-negara Barat sebagian besar telah mengecualikan Huawei dari infrastruktur telekomunikasi mereka, karena kekhawatiran bahwa peralatan perusahaan dapat dieksploitasi untuk spionase oleh Beijing. Pada tahun 2011, Australia telah melarang Huawei melakukan penawaran kontrak untuk menyediakan peralatan jaringan serat optik negara tersebut. Bulan ini, perusahaan telekomunikasi Inggris BT Group mengumumkan bahwa mereka akan menghapus peralatan Huawei dari pusat jaringan 3G dan 4G yang ada.

Situs web Huawei sendiri, dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada November 2017, mengumumkan bahwa ia dipilih untuk meningkatkan (upgrade) jaringan Wi-Fi di dalam sistem angkutan umum Quito.

Huawei telah memberikan pemberitahuan publik tentang kemampuan sistem pengawasan yang didirikannya di Ekuador tersebut sebagai bagian dari program “Kota Aman” dari perusahaan. Huawei juga telah mendirikan model tersebut di Nairobi, ibukota Kenya, di mana perusahaan telah memasang lebih dari 1.800 kamera pengintai. Menurut think tank Council on Foreign Relations yang bermarkas di New York, kamera-kamera ini dapat digunakan untuk memerangi kejahatan, serta “untuk memantau para aktivis dan demonstran.”

Dalam uraian Huawei tentang program “Kota Aman” di Ekuador, perusahaan mengklaim ia telah membantu mengatur pengawasan lalu lintas, kamera-kamera resolusi tinggi, penyimpanan data yang aman, dan fitur-fitur lainnya, yang semuanya tercakup dalam ECU 911. Namun, perusahaan tersebut belum secara eksplisit mengatakan bahwa ia telah membantu membangun sistem tanggap darurat.

Salah satu dari “Kota Aman” Huawei adalah Karamay, sebuah kota di Xinjiang utara, di mana kelompok muslim Uighur terus-menerus dipantau secara ketat oleh perangkat lunak penjagaan ketertiban yang bersifat prediktif yang ditemukan di dalam kamera-kamera pengintai.

Sebelum meluncurkan model “Kota Aman”, Huawei telah terlibat dengan proyek “Perisai Emas”, komponen utama dalam perangkat sensor internet rezim Tiongkok. (ran)

Rekomendasi video:

Trump Isyaratkan Mata Mata PKT Merajalela di Amerika Serikat

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds