- Erabaru - http://m.erabaru.net -

Momen Terakhir Ibu dan Anak yang Menderita Kanker Ganas ini Bikin Haru

Erabaru.net. Ibu ini tidak menyangka sedikitpun, hanya karena flu biasa bisa memburuk menjadi kanker. Putranya yang baru berusia 2 tahun ketika itu didiagnosis menderita Rhabdomyosarcoma yaitu kanker ganas yang sering diderita anak-anak, sehingga membuat segenap keluarga seketika larut dalam kecemasan dan kepedihan.

Sang ibu melihat anaknya didera siksaan, hingga akhirnya meninggal tak kuasa melawan momok penyakit yang menyiksanya.

Lalu, ibu ini menyeka air matanya, bertekad meninggalkan sesuatu (kenangan) untuk anaknya, dan dia berbagi sebait selingan musik menjelang kematian anaknya.

[1]

“Sel-sel kanker menyebar dengan cepat. Dokter menjelaskan waktunya sudah tidak banyak, segala cara yang memungkinkan telah kami coba, tapi tidak ada pengaruhnya sama sekali. Tujuan akhir kami hanya bisa membuatnya merasa lebih nyaman, dan tidak memburuk dengan cepat,” turut si ibu.

[2]

Ruth (ibu Noland) menuturkan, “Setelah disarankan dokter, saya berusaha mengatur perasaan saya, lalu masuk ke kamar pasien Noland. Saya melihat ia sedang asyik nonton saluran Youtube dengan tabletnya. Kemudian, saya duduk dan mendekatkan kepala di sampingnya, lalu mulai dialog.”

Saya : Kamu merasa sakit ya saat bernapas?

Nolan: Hmm …Ya

Saya: Kamu menanggung banyak rasa sakit,bukan? Sayang

Nolan : Ya (Sambil melihat ke bawah).

Saya : Kanker ini benar-benar menjengkelkan.Kamu tidak perlu berjuang lagi.

Nolan : Tidak perlu lagi (Dengan tatapan terkejut sambil mendongakkan kepala) ? Tapi saya akan terus berjuang demi engkau, bunda.

Saya : Tidak nak. Bukankah itu yang selalu kamu lakukan ? kamu berjuang demi ibu ?

Nolan: Hmm..Ya !

Saya : Nolan, apa pekerjaan ibu?

Nolan: Melindungi keselamatan saya! (sambil tersenyum)

Saya : Sayang … Sekarang ibu tidak bisa melindungi kamu lagi. Satunya-satunya cara ibu melindungi kamu, adalah membiarkan hidup dengan aman di surga. (Hati saya bergetar)

Nolan: Jadi, saya main dulu di surga, nanti ibu nyusul. Ibu akan datang, bukan ?

Saya: Tentu saja! Kamu tidak boleh meninggalkan ibu begitu saja !

Nolan: Bu! Terima kasih! Kalau begitu saya mau main bersama Hunter, Brylee dan Henry!

[3]

Keesokan harinya, ia terus istirahat, nyaris tidur sepanjang hari. Kami juga telah menandatangani form Do Not Resuscitate (DNR) yaitu kesediaan tidak melakukan resusitasi jantung paru jika napas pasien berhenti atau jika jantung pasien berhenti berdetak.

Hari-hari setelahnya, Ruth menghabiskan waktunya untuk bermain bersama sekaligus memerhatikan kondisi Nolan. Ketika ia terbangun, semua barang-barang yang diperlukan sudah saya kemas, dan sepatu Nolan juga sudah saya siapkan untuk pulang nanti malam.

Saya ingin membawanya pulang, meski hanya untuk satu malam sekalipun. Setelah menunggunya bangun dari tidur, Nolan meletakkan tangannya perlahan ke telapak tangan saya sambil berkata, “Tidak apa-apa bu, kita tinggal disini saja ya.” Putra saya yang berusia  4 tahun ini terus menghiburku … “

[4]

Jam 9 malam itu, saya tanya pada Nolan apakah boleh ibu mandi dulu. Sebelumnya saya berjanji padanya akan selalu berada di sampingnya, saya terus menepuk, mengelusnya.

“Hmm..baiklah, bu. Nanti kalau paman Christ datang duduk disini.”

“Kamu tunggu ibu disini ya, dua menit kemudian ibu akan keluar dan menemanimu, yaa.”

Tampak Nolan tersenyum pada saya. Saya masuk ke kamar mandi, mereka bilang, di saat saya menutup pintu kamar mandi, Nolan telah memejamkan matanya sambil meringkuk di bawah, ia telah melewati tahap kehidupan terakhirnya.

[5]

Ketika saya ke luar, dokter sudah kembali berkeliling di sekitarnya. Mereka mengatakan kepada saya, “Nolan memasuki keadaan koma, ia tidak bisa merasakan apapun.”

Napasnya lemah, paru-paru kanannya mengkerut, tingkat oksigen menurun.”

[6]

Dengan cemas saya berlari ke tempat tidurnya, meletakkan tangan di wajahnya. Saya sudah siap dengan segala kemungkinannya, tapi tidak menyangka begitu cepatnya menghadapi kematiannya. Saya mulai meneteskan air mata dan menangis, melihat hidupnya semakin meredup, tampaknya ia tidak akan pernah bangun lagi. Tapi kemudian, terjadi keajaiban yang tidak akan pernah saya lupakan … “

[7]

Putra saya tiba-tiba mulai bernapas lagi, ia membuka matanya, tersenyum sejenak padaku, dan berkata “I Love You Mommy.

“Dan pada 11.54 putraku Rollin Nolan Scully telah tiada ketika saya menyanyikan You are My Shunshine di telinganya,” kata Ruth mengenang detik-detik kepergian putra tercintanya.

Dia bangun dari komanya, tersenyum padaku dan mengatakan “I Love You Mom.” Itu kata Nolan sebelum benar-benar pergi untuk selamanya.

[8]

Tampak Nolan meringkuk di atas bathmat dengan menggunakan bantal di kepalanya.

Itulah sekelumit dialog adalah percakapan terakhir dengan anaknya Nolan. Hingga satu bulan sebelum kepergian Nolan untuk selama-lamanya, Ruth menuliskan sebuah kisah yang menyayat hati di akun Facebooknya.

Satu bulan setelah kepergian Nolan, sang ibu membuat post momen terakhir bersama putranya itu lewat Facebook. Dan sang ibu, meskipun masih menyisakan kesedihan, namun merasa amat terharu dengan momen terakhir bersama putranya itu.

Inilah wujud cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Selamat jalan anak manis! (jhoni/rp)

VIDEO REKOMENDASI