Erabaru.net.  Serial kali ini adalah bagian dari Bab 3 dari Buku Tujuan Terakhir Komunisme yang diterbitkan oleh Editorial 9 Komentar Partai Komunis Tiongkok.

Pada Bab 3 ini membahas tentang Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta.

Pada buku ini diawali dengan Kata Pengantar: Roh Jahat Komunis Membunuh di Sepanjang Jalan.

BACA JUGA : Editorial“Sembilan Komentar”: Tujuan Terakhir Komunisme

Pada Bab 3 ini membahas tentang Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta.

Pada buku ini diawali dengan Kata Pengantar: Roh Jahat Komunis Membunuh di Sepanjang Jalan.

BACA JUGA : Komunis Membantai dengan Brutal – Kejahatan Menembus Kubah Semesta

Pada bagian pertama dibahas tentang Soviet Rusia sebagai Percobaan.

Selanjutnya dibahas tentang Komunis Tiongkok Menaiki Panggung dan Membantai Habis Kaum Elit.

BACA JUGA : Serial Tujuan Terakhir Komunisme : Komunis Menaiki Panggung dan Membantai Kaum Elit

Selanjutnya menganalisa lebih mendalam dari cara-cara pembantaian yang dilakukan partai komunis Tiongkok dan jumlah manusia yang telah dibunuh.

BACA JUGA : Serial Tujuan Terakhir Komunisme : Cara-cara Pembantaian Ala Partai Komunis

Kali ini terbagi pada 5 bagian yakni : 1) Pembantaian di Pedesaan dan Perkotaan. 2) Menyingkirkan Agama, Memutus Hubungan dengan Kepercayaan Tradisional. 3) Reformasi Ideologi, Ateisme Menguasai Sekolah. 4) Menganiaya Kaum Intelektual, Memaksa Seluruh Rakyat Mengucapkan Kata Bohong. 5) Manusia Menjadi Bukan Manusia

  1. Mengubah manusia menjadi “bukan manusia”

Pada tanggal 16 Mei 1966, “Pengumuman Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok (Pengumuman 5.16)” diterbitkan bahwa PKT telah melancarkan gerakan untuk merusak kebudayaan tradisional dalam skala yang lebih besar, yaitu Revolusi Besar Kebudayaan.

Pada bulan Agustus, dengan anak-anak dari kader tingkat tinggi sebagai tulang punggung Garda Merah dari sebagian sekolah menengah Kota Beijing, telah melancarkan gerakan berskala besar di Beijing yakni menggeledah – menyita harta keluarga, menganiaya, membantai dan lain sebagainya, pada akhir Agustus 1966 telah menimbulkan ribuan orang tewas di berbagai distrik Kota Beijing, menimbulkan apa yang disebut dengan “Agustus Merah”.

Tindak kekejaman PKT selama Revolusi Kebudayaan telah banyak diungkap di dalam buku “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”, yang perlu kita perhatikan di sini adalah ulah kekejaman ini telah menimbulkan kerusakan yang begitu parah bagi orang Tiongkok secara permukaan kultural.

Ambillah insiden pembantaian di Kabupaten Daxing, Beijing, sebagai contoh. Dari tanggal 27 Agustus sampai 1 September 1966, di 48 Brigade Produksi dari 13 Komune Rakyat di Kabupaten Daxing, berturut-turut telah terbunuh 325 orang, di antaranya yang paling tua berumur 80 tahun, yang paling muda hanya berumur 38 hari, ada 22 keluarga yang telah tumpas semua.

Metode pembunuhannya, ada yang dipukul dengan tongkat, ada yang dipenggal dengan pisau pancung, ada yang dicekik dengan tali. Bayi satu sisi kakinya diinjak, kaki yang satunya lagi ditarik, hingga terbelah menjadi dua bagian.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat  Kebudayaan Warisan Dewata (1)

Pelaku kekejaman semacam ini sama sekali telah kehilangan hati nurani dan sifat kemanusiaannya sudah punah sehingga tidak perlu dibahas lagi, saksi mata juga harus melepaskan “rasa kasihan” barulah dapat tahan melihatnya, juga berarti harus meninggalkan nilai Ren (belas kasih) dalam kebudayaan Tiongkok.

Orang zaman dulu berkata, “Tanpa rasa iba, berarti bukan manusia.” Perilaku “bukan manusia” semacam ini selalu didorong dengan segenap upaya oleh PKT. Banyak orang justru karena “berperilaku baik” di tengah pembantaian maka diperbolehkan bergabung dengan partai. Ambil Provinsi Guangxi sebagai contoh, menurut statistik yang tidak lengkap,  pada saat Revolusi Kebudayaan, tiba-tiba banyak yang bergabung dengan partai, ada sembilan ribu orang lebih yang bergabung dengan partai setelah membunuh orang, ada dua puluh ribu orang lebih yang membunuh orang setelah bergabung dengan partai, dan juga ada sembilan belas ribu orang lebih yang ada kaitannya dengan pembunuhan orang. Hanya satu provinsi ini saja, sudah ada lima puluh ribu anggota partai komunis yang ikut serta dalam insiden pembunuhan.

Dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya seperti insiden 4 Juni 1989 di Tiananmen hingga proses “penganiayaan Falun Gong” yang dimulai tahun 1999, mereka semua yang banyak membunuh orang dan yang mempunyai teknik keji, telah mendapat penghargaan dan imbalan materi, bahkan promosi jabatan.

Komandan paling kejam, seperti Luo Gan dan Zhou Yongkang, malah dipromosikan oleh Jiang Zemin ke posisi tertinggi negara yaitu “Komite Tetap Politbiro”, untuk membayar komisi atas “kontribusi” mereka bagi pembunuhan serta pemusnahan moralitas dan kebudayaan.

Dalam penganiayaan PKT terhadap Falun Gong, telah memobilisasi banyak sumber daya negara, dan menggunakan metode siksaan yang dikumpulkan dari dulu hingga sekarang dari dalam negeri maupun luar negeri.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat Kebudayaan Warisan Dewata (2)

Selain siksaan pemukulan kejam, juga ada siksaan seperti pelecehan seksual yang mengerikan, kedinginan di tengah cuaca dingin membeku, mulut kering di tengah cuaca panas, kerja paksa yang melampaui batas kemampuan tubuh manusia, larangan tidur dalam waktu yang sangat lama dan membiarkan ular beracun serta serigala atau sekawanan nyamuk menggigiti praktisi xiulian (kultivasi) Falun Gong, bahkan secara langsung merampas hidup-hidup organ praktisi Falun Gong untuk memperoleh keuntungan dan lain-lain.

Tindakan kejam berskala besar ini sudah menjadi kejahatan “terhadap umat manusia”. Dengan kata lain, asalkan masih manusia, maka ada kewajiban untuk menentang tindak kejahatan “terhadap umat manusia”, sedangkan PKT memaksa semua orang ikut serta dalam tindak kejahatan mereka seperti pembunuhan dengan kekerasan, menganiaya agama ortodoks, atau secara pasif menyetujui atau bekerja sama dengan tindak kejahatan ini, juga berarti agar banyak orang telah kehilangan standar untuk membedakan baik – buruk, benar – salah,  bajik – jahat, dan telah berubah menjadi “bukan manusia” yang membantu kejahatan.

Tuhan datang menyelamatkan manusia dan menolong manusia, yang dituju adalah manusia yang masih dapat disebut sebagai “manusia”.

Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian 1)

Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian II)

Ketika PKT memaksa manusia berubah menjadi “bukan manusia”, justru sedang memutus kesempatan bagi mereka untuk diselamatkan, juga berarti sedang mendorong manusia ke dalam neraka.

Pada saat yang sama, ketika roh jahat komunis membuat orang-orang mengimplementasikan kekerasan dan membantai manusia dunia, juga memberitahu orang bahwa membunuh adalah seharusnya, hati belas kasih yang dimiliki manusia harus dilepaskan, dan telah membangun konsep kebudayaan partai “ketika menghadapi musuh harus dingin dan tidak berperasaan bak musim dingin yang keras”.

BACA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 1)

BACA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 2)

 Contoh semacam ini, terlalu banyak untuk disebutkan. Setiap tindak kejahatan PKT adalah disengaja demi membangun kebudayaan partai mereka yang berguna untuk menghancurkan kebudayaan tradisional dan merusak moralitas masyarakat dengan semakin parah.

Di bawah pengaruh racun dari kebudayaan partai, banyak orang telah berubah menjadi tukang pukul dan algojo bagi roh jahat komunis. (WHS/asr)

Bersambung

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular