Erabaru.net. Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang tidak sama dalam sepanjang hidupnya. Aldo yang berusia 35 tahun ini mengelola sebuah perusahaan kecil dalam bidang dekorasi. Selain keahlian seninya yang mengagumkan, reputasinya yang baik juga sudah dikenal sejak dulu meski tidak dipromosikan.

Kini, Aldo memiliki keluarga yang bahagia, istrinya baik, lembut dan cantik. Dia membantu Aldo mengelola keuangan di perusahaan, mereka memiliki seorang putri yang cerdas dan baru berusia 5 tahun, keharmonisan keluarga mereka juga membuat iri teman dan tetangganya.

Setiap tanggal 12, istrinya selalu berkunjung ke rumah ibunya (ibunya Aldo) di kampung bersama putrinya, selain menjenguk sekalian membawakan tunjangan hidup. Namun, ibunya selalu menyambutnya dengan muka masam setiap saat istrinya berkunjung.

”Bu, ini uang tunjangan untuk ibu,” kata Karen sambil menyodorkan uangnya.

Ibu mertuanya melirik sejenak menantu dan cucunya itu, lalu memalingkan mukanya dan berkata,: “Taruh saja di sana, merepotkan kamu saja uang yang tidak seberapa itu harus kamu antar. Biaya hidup dari kalian itu selalu segitu saja gak naik-naik, sangat jauh dengan tunjangan pensiunan orang lain yang terus melambung.”

Karen menjadi salah tingkah sambil tersenyum mendengar sindiran ibu mertuanya Karen mengalihkan topik pembicaraan. “Bu, ng … aku bantu bersih-bersih rumah ya? “ kata Karen sambil memanggil anaknya, : “Sini nak kita bantu nenek menyapu lantai.”

“Gak usah, sudahlah gak perlu pura-pura, lebih baik pergi saja, memangnya masih mau menunggu waktu makan ya ? Uang yang tidak seberapa itu, untuk saya sendiri saja tidak cukup, mana bisa menyiapkan makanan untuk kalian, ” kata mertuanya dingin.

Mendengar ucapan ibu mertuanya seperti itu, Karen pun tak berdaya, terpaksa segera pulang bersama putrinya.

Tapi tak disangka, keesokan harinya saat tiba di kantor, ia melihat ibunya (ibunya Aldo) teriak-teriak sambil berkacak pinggang di depan lobi kantor. Karyawan kantor yang kebetulan lewat seketika berkerumun menonton keramaian itu.

Ternyata, entah dari mana ibu mertuanya mendapat kabar bahwa tunjangan hidup bulanan besannya sebesar Rp 5 juta, sementara dia sendiri hanya Rp 1 juta. Inilah yang membuatnya marah dan naik pitam, Dia langsung ke kantor putranya hari itu juga, dan sambil terisak ia mencela putranya anak durhaka dan menantu yang tak tahu diri,

…sementara orang-orang yang berkerumun tampak sibuk kasak kusuk tanpa mengetahui secara jelas duduk persoalannya.

Mendengar kabar itu, Aldo buru-buru mohon pamit pada kliennya, bergegas pulang ke kantor.

Sementara itu di depan gerbang kantor, ibunya melihat Karen, menantunya, dan langsung mendorongnya hingga jatuh tersungkur dan berkata : “Dasar kau perempuan jalang, sudah menipu anakku, ayo jelaskan mengapa kau memberi Rp 5 juta setiap bulan untuk ibumu, sementara aku kau hanya kasih Rp 1 juta? Dimana nuranimu ! “

Karen melirik sejenak lengannya yang lecet tergores, dan berkata, :”Bu, di sini banyak orang, kita bicara di dalam kantor saja.”

Kemudian dia melihat ke sekeliling dan berkata: “Saya harap semuanya bubar , tidak ada yang perlu dilihat.” Kepada orang-orang yang berkerumun.

Namun, ibu mertua Karen langsung menyelanya dan berkata dengan lantang : “Kenapa dibubarin, kalian jangan bubar dulu, justru saya ingin kalian semua memberikan penilaian.”

Karen yang cemas, dan tak berdaya tidak bisa berkata apa-apa lagi, sementara air matanya sudah berlinang tanpa bisa ditahan.

Namun, ibu mertuanya sepertinya tak mau berhenti sampai disitu, “Air matamu mungkin berguna untuk anakku, tapi itu adalah lelucon bagiku! Saya akan memberi pelajaran padamu kalau kau tidak bisa memberikan alasan yang memuaskan. Kalau bukan gara-gara kamu, tunjangan bulananku juga tidak mungkin sekecil itu. Orang-orang bilang putraku adalah seorang bos, tetapi hidup seperti apa yang saya jalani, tak ubahnya seperti orang yang dibuli !” kata ibu mertuanya.

Tepat pada saat itu, sebuah suara terdengar di belakangnya. “Kau ingin tahu alasannya ? Baik, saya akan memberitahumu, dan biarkan saudara-saudara sekalian yang ada di sini juga mendengarnya, apakah saya salah,” Kata Aldo sambil memapah Karen, yang masih tersungkur di lantai.

Amarah ibunya seketika sirna begitu melihat kedatangan Aldo, putranya, ia menarik tangan putranya dan dengan lembut berkata: “Nak, bukankah kamu sedang rapat dengan klien?”

Aldo menyingkirkan tangan ibunya dan dengan tatapan dingin berkata, :”Saya memberikan Rp 5 juta per bulan untuk ibu mertua dan Rp. 1 juta unuk ibu. Apa ada masalah? Itu sangat adil, bukan. Jika bukan karena Karen, saya tidak akan memberi ibu sepersen pun. Saya memanggilmu ibu, karena ibu melahirkan saya, tapi coba tanyakan pada diri ibu sendiri dan renungkan, saya sekarang berusia 30-an, tetapi pernahkah ibu merasa merawatku walau sehari ?” Seakan mengingatkan ibunya.

“Karena tidak tahan hidup miskin, Ibu meninggalkan ayah dan aku sejak kecil, dan tidak pernah pulang lagi, meski pulang sesekali juga hanya minta uang.

“Tahukah ibu, saya tumbuh dalam hinaan dan menjadi bahan tertawaan orang-orang sejak kecil! Pada saat itu, ayah harus kerja serabutan dan lama sekali baru pulang. Hanya bibi Linda, tetangga sebelah yang peduli dan selalu merawat atau memasak untukku, dia jugalah yang membiayai sekolahku sampai lulus.

“ Dua puluh delapan tahun yang lalu, saat ayah jatuh sakit dalam kesendiriannya, ibu justru buru-buru pulang dan mengambil semua barang-barang berharga di rumah. Saya telah mencoba meminta Ibu untuk tidak meninggalkan kami, tetapi ibu tidak peduli. Setelah itu, saya sakit parah, tetapi Ibu tidak pernah mau peduli. Jika bukan karena bibi Linda, mungkin saya telah menjadi anak terlantar !

“Saat itu, saya benar-benar ingin bertanya kepada ibu, benarkah saya anak kandung ibu ? Apa bedanya saya dengan anak yatim ketika itu ! Sekarang, saya memberi Ibu Rp 1 juta setiap bulan untuk tunjangan hidup dan saya rasa cukup untuk hidup sederhana di desa.

“Jika ibu tidak berjudi, ibu bisa hidup dengan baik. Selama beberapa puluh tahun ini, kebiasaan buruk ibu tidak pernah berubah!

“Ibu hanya melihat sekarang saya adalah bos pemilik perusahaan, tapi tahukah dengan hari-hari yang saya lewati selama beberapa tahun yang lalu? Bagaimana saya merintis usaha saya yang tidak punya apa-apa ketika itu, memangnya bisa hanya dengan mengandalkan kedua tangan ini? kata Aldo dengan nada berapi-api pada ibunya yang termangu diam.

“Saya bisa berdiri tegak sekarang semua itu tak lepas dari bantuan dan dorongan semangat bibi Linda, dan asal tahu saja, demi saya dan masa depan saya, uang simpanan sebesar Rp 200 juta dari hidup hematnya seumur hidup itu dia serahkan kepadaku tanpa syarat, sekaligus menyerahkan putri yang disayanginya.

“Betapa percaya dan yakinnya dia kepadaku, jadi bagaimana pun juga saya tidak boleh mengecewakannya, sementara, apa yang telah ibu lakukan untuk saya, cintanya kepada saya itu tanpa pamrih, sedangkan ibu, apa ada kasih sayang di hati ibu pada saya ? Ibu hanya cinta pada uang dan cinta pada judi! Jelas Aldo dengan nada campur aduk.”

Orang-orang yang mendengar cerita Aldo kemudian berbalik berdiri di sisi Karen istri Aldo, sementara ibu Aldo terdiam di tempat sambil tertunduk malu mendengar penjelasan Aldo, kakinya lemas seketika dan duduk di lantai sambil menangis.

“Bu, ayo bangun dulu, lantainya kotor dan dingin,”kata Karen lembut sambil mengangkat ibu mertuanya dengan sebelah tangan, dan menarik tangan Aldo suaminya dengan tangan lain.

“Kita pulang dulu.” kata Karen, namun, ibu mertuanya menggeleng-gelengkan kepala, seakan menyalahkan dirinya dan memohon sambil memandang Aldo.

“Nak, sebenarnya ibu sudah jarang main judi, tolong beri ibu kesempatan untuk menenbus kesalahan ibu di masa lalu?” ratapnya memohon.

Aldo menghela nafas, “Yang lalu biarlah berlalu. Jika saya benar-benar membenci ibu, bagaimana mungkin saya memberi ibu tunjangan hidup ? Saya hanya berharap ibu harus bisa bersyukur punya seorang menantu yang begitu baik dan perhatian serta seorang cucu yang pintar. Bu, kita harus selalu bersyukur, jangan serakah. Ayo kita pulang,”kata Aldo dengan nada berubah lembut.

Aldo sadar sifat seseorang itu sulit diubah, tidak semudah membalikkan telapak tangan, meskipun ibunya sekarang sangat menyesal, tetapi butuh proses panjang untuk benar-benar bisa berubah.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular